Terpaksa Menikahi Gadis Pilihan Mama

Terpaksa Menikahi Gadis Pilihan Mama
Bab 21


__ADS_3

Satu hari ini Er benar-benar bersikap baik kepada Ayra. Perubahan sikap Er masih di cerna oleh Ayra. Gadis itu masih merasa bingung. Sebenarnya hal apa yang bisa membuat pria itu bisa berubah secepat itu?


Saat ini Ayra sedang menonton televisi. Ia melirik ke pria di sebelahnya yang sejak tadi menemaninya. Gadis itu masih belum percaya dengan perubahan sikap pria di sampingnya.


Namun ia begitu senang kala mendapatkan sikap hangat dari pria yang sangat di cintainya sejak dulu itu. Walaupun dia merasa sikap Er seperti bunglon yang sangat labil.


"Kak Er," panggil Ayra. Sontak membuat Er menoleh kearahnya.


"Ya." Er tersenyum lembut menatap Ayra.


"Aku masih penasaran sebenarnya apa yang mendasari kak Er menjadi berubah sikap seperti ini? Apa Kak Er bertengkar dengan Nara?"


"Tidak. Sebenarnya Aku ingin meyakinkan hatiku tenang sebuah hal yang beberapa hari ini selalu menggangguku. Dan untuk Kinara, Aku dan dia masih baik-baik saja," jawab Er. Ia tidak tahu jika jawabannya itu membuat Ayra menjadi kecewa.


"Kak Er menginginkan pernikahan kita menjadi seperti layaknya pernikahan pada umumnya, apa Kak Er bisa jika tidak bertemu dengan Nara?"


"Bukankah tadi sudah ku bilang jika Aku akan menjaga jarak dengannya selama dua bulan ini. Aku hanya akan fokus pada pernikahan kita. Dan selama kita menjalani pernikahan ini, Aku ingin Kau patuh padaku."


"Patuh? Dalam hal apa?"


"Semuanya, termasuk Aku melarangmu untuk bekerja selama dua bulan ini. Aku ingin Kau fokus mengurusi Aku," ucap Er dengan percaya diri.


Ayra membola mendengar penuturan Karel. "Tapi bukankah waktu itu Kau mengizinkan ku untuk bekerja? Kenapa sekarang tidak boleh. Dan bagaimana Aku mengatakan kepada Kak Ar?"


Er merasa panas ketika Ayra menyebut pria lain dengan panggilan yang begitu akrab itu.


"Kak Ar? Kau bahkan memanggilnya Kak Ar. Sedekat apa hubungan mu dengannya, Ay?"


"Kak Ar adalah pria yang baik. Dia memberikan ku pekerjaan di apartemennya, dan sekarang menjadikan ku sekretarisnya. Dia selalu saja menolong ku. Disaat Kak Er meninggalkan ku di jalan tempo hari, dia yang menolong ku."

__ADS_1


Penuturan Ayra langsung membuat hati Er memanas seketika. Bahkan suhu ruangan yang dingin tak dapat membuat pria itu merasa dingin.


"Jadi malam itu ketika Kau tak kembali, Kau bersama pria itu?"


Ups, Ayra keceplosan. Pasti Er akan sangat marah padanya.


"I-iya, karena waktu itu Aku pingsan, jadi dia yang menolong ku." Ayra menundukkan kepalanya.


"A-apa? J-jadi Kau pingsan waktu itu?" Er menatap Ayra dengan perasaan bersalah. Karena dirinya menurunkan istrinya di jalan, membuat Ayra pingsan. Dan yang menolongnya adalah pria lain.


"Maafkan Aku, Ay. Aku berjanji mulai saat ini akan memperbaiki sikap ku lagi," ucap Er tulus.


Ayra mendongak menegakkan kepalanya menatap suaminya. Ia pikir suaminya akan marah. Sikap Er seperti ini membuat Ayra mengingat kenangannya dulu dengan pria yang telah melupakannya itu.


Bulir kristal bening mengalir pipi Ayra. Ia merasa Karel nya telah kembali. Walaupun Er tak mengingat apapun, tapi sikap pria itu yang seperti ini, sudah lebih dari cukup.


"Bolehkah Aku memeluk mu, Kak?"


"Karena Aku merindukanmu, Kak Er."


Er mengerutkan keningnya. Namun ia membiarkan saja Ayra memeluknya. Rasanya begitu hangat saat sang istri memeluknya. Dan begitu nyaman.


***


Er tersenyum menatap gadis yang sangat dia cintai. Hari-harinya begitu sempurna hanya dengan menatapnya dari jauh saja.


Er tersenyum saat melihat tawa gadisnya. Perlahan kakinya mulai bergerak mengikuti kemana arah gadis itu melangkah.


Er bagaikan seorang mata-mata yang mengikuti gadisnya dari kejauhan. Ia ingin memeluk gadisnya dan mengatakan jika dia sangat merindukannya.

__ADS_1


Tapi ada hal yang membuatnya tak bisa mendekati gadisnya itu. Seseorang yang menurutnya begitu berbahaya. Gadis gila yang selalu berbuat nekad dan semaunya.


Gadis itu begitu terobsesi padanya. Bahkan dia membunuh saudaranya sendiri hanya karena mengagumi pria pujaannya.


Dan Er tidak ingin itu terjadi lagi. Dia tidak ingin sang gadis pujaan di sakiti oleh gadis gila itu. Sejujurnya sudah beberapa kali ia melaporkan ke pihak berwajib. Namun gadis gila itu begitu pintar menyembunyikan kejahatannya.


Hingga suatu hari si gadis gila itu mengetahui jika Er begitu mencintai seorang gadis yang selalu diikutinya. Membuat gadis itupun sangat marah, bahkan berbuat begitu nekad.


Kebetulan waktu itu Er berada satu mobil dengan gadis gila itu. Ketika semuanya sudah di ketahui oleh si gadis gila, mobil yang di kendarai gadis gila itu berusaha untuk menabrak seseorang. Dan itu adalah gadis pujaan Er.


"Aku tidak akan membiarkan mu mencintai gadis lain. Kau hanya milikku!" Gadis itu menginjak pedal gas dan membuat mobil itu melaju kencang dan akan menabrak dua orang di depan sana.


"Jangan gila, Kamu! Aku tidak akan membiarkan mu berbuat gila seperti ini!" Er mencoba merebut setir mobil tersebut, hingga mobil itu pun berjalan tak beraturan.


"Lepaskan! Aku akan membunuhnya!"


"Tidak! Kau yang seharusnya mati! Aku tidak akan pernah membiarkan mu menyentuhnya seujung kuku pun!" Er terus saja mencoba merebut setir mobil tersebut.


Hingga posisi mobil itu semakin dekat dengan gadis pujaan hati Er. Keduanya terus saja berebut setir mobil. Dan...


Bruakk!


"Ayra!!!"


Er terbangun dari tidurnya dengan keringat yang bercucuran. Mimpi yang ia alami barusan terasa begitu nyata. Ia pun mengalihkan pandangannya ke arah sofa.


Gadis cantik itu masih terlelap dalam tidurnya. Er segera turun dari tempat tidurnya menuju ke tempat Ayra tertidur.


Er mengusap lembut wajah Ayra dan mendaratkan bibirnya di kening gadis itu. Kemudian di angkatnya tubuh gadis itu dan membawanya ke tempat tidurnya.

__ADS_1


Er memeluk erat tubuh Ayra dan kembali terlelap dalam posisi memeluk sang istri.


***


__ADS_2