Terpaksa Menikahi Gadis Pilihan Mama

Terpaksa Menikahi Gadis Pilihan Mama
Bab 26


__ADS_3

Karel baru menyadari melihat kaki Denis yang seperti sedang merasakan kesakitan. Pria itu pun mencoba bertanya


"Kaki Denis sakit?" tanya Er.


Anak kecil tersebut mengangguk. "Iya Kak. Satu tahun lalu Denis kecelakaan. Waktu itu Kak Ayra dan almarhum nenek mau ditabrak mobil. Tapi Denis hanya bisa mendorong ke Ayra saja. Setelah itu Denis tidak mengingat apa-apa lagi."


Karel terenyuh mendengarnya. "Lalu di mana Nenek kalian?"


"Nenek sudah meninggal Kak dalam kecelakaan itu." Denis menundukkan kepalanya mengatakan hal tersebut.


Karel memeluk erat tubuh mungil Denis untuk membuat anak kecil itu tenang. Karel dapat merasakan jika tubuh Denis bergetar menahan isak tangisnya.


"Kak Ayra yang sudah berkorban banyak untuk Denis. Dia membayar semua pengobatan Denis, sampai Denis sembuh." Lanjut Denis.


Karel tersenyum. Ia begitu bangga terhadap istrinya. "Denis anak yang kuat. Kak Er berjanji akan menjaga Kak Ayra." ucap Karel tersenyum lembut mengusap puncak kepala Denis. Dia berpikir jika pasti istrinya bekerja keras selama ini untuk biaya pengobatan Denis.


Sejujurnya Ayra menyetujui pernikahannya dengan Karel adalah untuk pengobatan Denis. Selebihnya untuk pengobatan dirinya sendiri.


Tiba-tiba saja Er teringat tentang uang yang pernah mamanya berikan kepada Ayra. Mungkinkah itu semua demi pengobatan Denis? Er menjadi merasa sangat bersalah dengan sikap kasarnya terhadap Ayra. Itu semua karena Kinara sering menjelekkan Ayra di depannya.

__ADS_1


"Kak Karel libur bekerja?" Tiba-tiba saja Manda sudah berada di depan Er dan Denis. Er mengangguk.


"Kalau kamu sekolah, Denis dititipkan kepada siapa?" tanya Karel penasaran. Tidak mungkin kan jika Manda tega meninggalkan Denis sendirian?


"Aku menitipkannya di panti, Kak. Sebelum Kak Ayra mengajak kami tinggal di sini. Aku dan Denis tinggal di panti. Berhubung Kak Ayra tidak ingin kami diadopsi orang lain, almarhum nenek Kak Ayra akhirnya mengadopsi kami dan membawa kami tinggal di sini." Manda tanpa antusias menceritakan tentang masa lalunya.


"Rumah ini adalah peninggalan almarhum nenek kak Ayra dulu." Manda menatap ke sekeliling rumahnya dengan tersenyum.


Karel dapat menyimpulkan jika Manda dan juga Denis bukanlah adik kandung dari Ayra.


Dering ponsel dari saku milik Karel membuat Karel mengambil ponsel tersebut dan melihat ke layar, siapa yang tengah meneleponnya saat ini.


Tadinya Karel ingin mengabaikan telepon tersebut. Tapi akhirnya dia mengangkat panggilan dari Kinara.


Denis turun dari pangkuan Karel dengan mengerucutkan bibirnya. Sepertinya anak kecil itu tidak ikhlas. Namun itu semua membuat Karel tersenyum dan ingin sekali mencubit pipi Denis karena begitu gemas.


"Ayo sini Denis, kamu sama Kak Manda saja."


Karel melangkah menjauh dan mengangkat telepon dari Kinara.

__ADS_1


"Halo!" Terdengar nafas kasar dari seberang telepon. "Kau kemana saja sih Rel? Bukankah Kau sudah berjanji kita akan liburan saat ini? Ini sudah hampir siang loh!" Nara mendengus marah. Sementara Karel tampak tersenyum simpul.


"Maafkan aku sayang, aku lupa jika saat ini sedang ada janji bersama Ayra untuk menjenguk adiknya di rumahnya," jawab Er enteng.


"Oh, jadi kamu lebih mementingkan wanita murahan itu daripada aku yang kekasihmu ini?! Kau sudah berjanji untuk mengajakku liburan hari ini!"


Karel tampak mengepalkan tangannya saat mendengar Kinara menyebut Ayra wanita murahan.


"Aku tidak pergi sendirian, sayang. Ada Mama juga yang menemani kami. Kau tahu sendiri kan bagaimana mama ku? Aku tidak bisa membantahnya," ucap Karel berbohong.


"Kau membuatku kesal!" Kinara terdengar terisak. Namun entah mengapa Karel terlihat begitu tenang saja.


"Jangan begitu, sayang. Kalau begitu kita jalan-jalannya Minggu depan saja ya?" ucap Er.


"Aku sudah tidak ingin lagi untuk minggu depan!" Kinara segera menutup panggilan tersebut.


"Apa itu Kinara? Kau sedang ada janji dengannya?" Karel tersentak ketika melihat Ayra yang sudah berada di belakangnya. Er tersenyum kemudian mengangguk.


Ayra menggigit bibir bawahnya. Dia merasa bersalah.

__ADS_1


Namun yang dilakukan Ayra malah justru membangkitkan pikiran liar Karel. Melihat Ayra menggigit bibir bawahnya, rasanya dia ingin menggantikan hal tersebut. Dia ingin menggantikan giginya untuk menggigit bibir merah yang terlihat sexy itu.


***


__ADS_2