Terpaksa Menikahi Gadis Pilihan Mama

Terpaksa Menikahi Gadis Pilihan Mama
Ban 49


__ADS_3

Ayra POV


Ada rasa bahagia saat pria yang selama ini ku cintai itu mengatakan hal mengejutkan padaku. Dia menyatakan cintanya padaku, bahkan sebuah kebenaran yang tak pernah ku ketahui selama ini.


Namun Aku tidak ingin senang dulu. Aku memikirkan bagaimana nasib hubungan Suamiku dengan Kinara. Saat ini Kak Er masih memeluk tubuh polos ku dengan erat.


Namun Aku terus memikirkan tentang penyakitku yang terus menggerogoti tubuh ku. Bagaimana jika Aku pergi nanti, apakah Kak Er akan kehilangan ku, atau dia akan melanjutkan hidupnya dengan Nara? Entahlah, tiba-tiba saja tubuh ku menjadi begitu lemah. Mungkin karena Kak Er telah menggempur ku.


Hingga suara bel pintu membuat ku ingin segera melepaskan lilitan tangan suamiku yang sedari tadi membelenggu tubuh ku.


"Kak, lepas. Ada tamu," ucapku. Namun Kak Er masih tak melepaskan pelukannya dari tubuh ku.


"Biarkan saja, Aku masih ingin memelukmu."


"Tapi Kak, ada tamu itu. Siapa tahu itu Mama, atau mungkin tamu penting Kamu." Aku berusaha mencari alasan agar suamiku melepaskan ku.


Lagipula ini juga udah mau siang. Dan nanti Aku juga akan keluar kota bersama Kak Ar. Aku juga tidak boleh lepas dari pekerjaan ku.


"Tidak ada yang penting. Karena kamu yang paling penting. Sudah, lebih baik kita tidur lagi," ajaknya.


"Kak, ini sudah jam berapa. Ayolah, kasian kan tamu di luar," Aku terus merengek.


Kak Er menghembuskan nafas panjang, kemudian dia pun mengendurkan pelukannya. Aku langsung melepaskan diri. Aku segera memakai pakaian ku yang tercecer di lantai akibat ulah suamiku.


Ku lihat Kak Er menatapku dengan tatapan nakalnya. Duh, bikin Aku grogi saja. Aku mengacuhkannya dan tak menatapnya balik, takut jika pandangan kami bertemu, Aku akan menjadi tak berkutik di depannya.


Aku berlari kecil menuju ke kamar mandi untuk membasuh wajah ku dengan cepat. Baru setelahnya Aku keluar dari sana dan masih melihat Kak Er yang masih berada di atas kasur.


Aku tak menghiraukannya. Tujuan ku saat ini adalah membuka pintu untuk melihat siapa yang sudah bertamu.


Ku rapikan rambut ku yang sedikit acak-acakan dengan kembali mengikatnya. Ku tampilkan senyum sebelum Aku membuka pintu rumah depan.

__ADS_1


Namun Aku terkejut tatkala tiba-tiba saja sebuah tamparan mendarat di pipiku ketika Aku membuka pintu tersebut. Rasanya begitu perih pipi ini.


Rupanya Nara yang mengetuk pintu itu.


"Na-nara...," ucap ku terkejut. Rasanya Aku seperti pencuri yang tengah ketahuan mencuri. Aku sudah bercinta dengan kekasihnya pagi ini. Namun Aku pun juga tak bisa menyalakan diriku sendiri karena status ku adalah istri Kak Er.


Walaupun baru ku ketahui tentang kebenaran yang suamiku katakan. Tapi tetap saja saat ini Kinara masih berstatus sebagai kekasih suamiku.


"Dasar ja..lang! Kau sudah merebut kekasihku. Seharusnya Kau malu dengan yang Kau lakukan!"


Kinara tampak sangat marah. Tatapannya begitu tajam seolah ingin menguliti ku. Aku memundurkan langkahku.


"Cepat katakan di mana Kau sembunyikan calon suamiku!"


Lagi, Nara terus berteriak-teriak seperti orang gila. Tak ingin menjadi amukannya, Aku terus berjalan mundur. Namun sialnya langkah ku terhenti karena tubuh ku sudah mentok di tembok.


Aku hanya bisa memejamkan mataku saat Nara hendak kembali menampar ku. Namun Aku tak merasakan apapun setelah beberapa detik menunggu.


Ketika ku buka mataku, ternyata ada tubuh kekar yang menghalanginya untuk menyakitiku. Kak Er.


Kinara menggila. Sementara Kak Er langsung mendorong tubuh Kinara yang terus berusaha untuk menyakiti ku.


"Kau yang seharusnya di beri pelajaran, Nara! Dia ISTRIKU. Seharusnya Kau yang harus sadar akan posisimu! Selama ini Kau sudah memanfaatkan sakit ku agar Aku membenci gadis yang sebenarnya ku cintai. Sungguh Kau begitu licik!"


Kak Er sama marahnya ketika membelaku. Bisa ku lihat kemarahan itu. Sepertinya suamiku sangat kecewa.


"Karel! Aku melakukan ini semua karena Aku mencintaimu. Tidak bisakah Kau melihat cintaku? Aku tidak akan pernah membiarkan wanita ja..lang itu merebut mu dariku!"


"Kau yang seharusnya pergi dariku. Kau gadis licik Nara. Jika sampai sedikit saja kamu menyentuh kulit istriku, maka Kau tidak akan pernah tahu dengan apa yang akan ku lakukan padamu. Dan Kau pasti akan menyesalinya!"


Aku merasakan tiba-tiba tubuhku semakin lemas. Kepada ku seolah berputar-putar. Bahkan untuk menopang tubuh ku sendiri begitu sulit ku kendalikan. Suamiku dan Kinara terus saja bertengkar. Namun Aku tetap terus berusaha untuk tersadar.

__ADS_1


Hingga ku dengar Kinara berteriak mengatakan tentang sebuah kebenaran lainnya yang belum Aku ketahui.


"Aku tahu Kau pasti hanya terpaksa mencintai Ayra karena Kau merasa bersalah bukan? Kamu sudah membuat Kinara kehilangan neneknya. Kau yang sudah menabrak neneknya hingga neneknya meninggal!"


Aku terkejut mendengarnya. Aku segera menatap suamiku yang saat ini juga sedang menatap ku. Pria itu menggelengkan kepalanya.


"Tidak, Sayang. Ayra, Kau jangan salah paham, Sayang. Aku... Aku bisa menjelaskan semuanya." Sorot matanya menandakan sebuah penyesalan mendalam.


Satu lagi kebenaran yang membuat ku begitu terkejut. Sungguh, kenapa semua orang berbohong padaku. Mereka menyimpan sebuah misteri yang perlahan mulai terkuak.


Aku jadi berpikir tentang ucapan Nara yang mengatakan jika Kak Er hanya terpaksa mencintai ku karena rasa bersalah. Apakah ini juga kebenarannya? Dia menyatakan cintanya padaku karena merasa bersalah sudah menabrak nenek?


Entah siapa yang harus ku percayai. Semua ini membuat hati ku menjadi bimbang.


"Sayang, jangan percaya ucapan Nara! Apa Kau ingat? Waktu kecil Aku sudah berjanji akan menjadi pangeran dalam hidup mu. Aku sudah menyukai mu sejak kecil. Aku tidak pernah terpaksa mencintaimu. Untuk nenekmu, Aku bisa menjelaskan semuanya padamu. Aku...argghh...!"


Aku terkejut. Tiba-tiba saja Kak Er mengerang kesakitan. Ternyata Kinara, gadis itu telah menusuk pinggang Kak Er dengan pisau di tangannya.


"Nara! Apa yang Kau lakukan?!" Aku menjerit. Nara benar-benar menjadi gila. Bahkan dia mampu melukai Kak Er.


"Semua ini karena kamu, Ayra! Jika Aku tidak bisa memiliki Er. Maka kamu juga tidak."


Nara tersenyum misterius. Lalu dia berjalan ke arah ku dengan pisau yang ia pakai untuk melukai suamiku tadi.


"Nara, Kau mau apa?" Rasanya tubuhku semakin berat. Kepalaku semakin pusing.


"Kau juga harus mati, Ayra Sayang." Kinara tersenyum menakutkan. Aku terus menggelengkan kepalaku untuk membuat diriku terus tersadar.


"Aku tidak akan pernah membiarkan mu menyakiti Ayra!"


Kak Er berjalan tertatih dan mendorong Kinara hingga terjatuh. Tubuh ku langsung di tarik suamiku kedalam pelukannya.

__ADS_1


***


satu bab lagi tamat yak 😁


__ADS_2