
Sebelum ke kantor, Er singgah ke apartemen Kinara terlebih dahulu. Pria itu teramat senang karena Kinara mau memaafkannya. Entah mantera apa yang Nara gunakan sehingga Karel begitu lengket padanya.
"Pagi, Sayang," sapa Er kala Nara membuka pintu apartemennya. Gadis itu tersenyum manis kearah Karel. Gadis itu lantas menyuruh sang kekasih untuk masuk kedalam.
Bak gayung bersambut, Er pun langsung memasuki apartemen tersebut.
"Apa Kau mau teh, atau kopi, Sayang?" tanya Nara. Er menggeleng. Dia langsung menarik kekasihnya untuk duduk di pangkuannya.
"Aku ingin ini," tunjuk Er pada bibir sang kekasih. Nara mengembangkan senyumnya dan menuruti apa mau Karel.
Mereka berciuman dengan penuh gairah yang membara.
Sementara Nara menuntut hal yang lebih dari Karel. Namun Karel beralasan. Pria itu berprinsip untuk tidak merusak Nara sebelum menjadi istri sahnya.
Sontak saja Nara menjadi marah dan langsung melepaskan ciumannya. Gadis itu ingin sekali memiliki Karel seutuhnya.
"Apa Kau menolak ku karena dia(Ayra)?!"
Karel berusaha menggenggam tangan Nara, namun segera di tepis Kinara.
"Sayang, tolong jangan lagi marah dengan ku. Aku samasekali tidak menginginkan dia dalam hidup ku. Hanya Kamu yang ku mau selama ini. Bukannya Aku tidak mau melakukannya dengan mu, tapi Aku tidak ingin merusak mu sebelum kita menjadi suami istri yang sah. Tolong mengertilah, Sayang. Aku melakukan ini karena Aku sangat mencintaimu." Karel berusaha untuk meyakinkan Nara.
Namun Nara bukanlah wanita yang dapat mengerti. Dia adalah wanita yang begitu egois. Dia ingin semuanya terjadi sesuai dengan kehendaknya. Namun di depan Er gadis itu selalu menutupi keegoisan hatinya. Nara tidak ingin Karel berhubungan ataupun bersikap baik kepada siapapun termasuk kepada teman ataupun keluarganya.
Jika Er bersikap baik atau berkata lembut kepada lawan jenis, maka di belakang Er, akan ada yang Nara perbuat untuk membuat seseorang itu kapok untuk sekedar berbicara ataupun hanya sekedar menyapa Karel.
Alhasil, selama ini hanya Kinara saja yang dekat dan mau berbicara dengan Er.
Namun kali ini Kinara benar-benar merasa takut jika suatu saat nanti Er mengingat semuanya. Nara takut jika Er akan meninggalkan dirinya.
Nara tidak mempermasalahkan jika orang lain yang menjadi istri Karel. Tapi Ayra ..., Gadis itu adalah lawan terberatnya. Dan ia sudah merencanakan sesuatu kepada Ayra. Kinara terlalu berobsesi untuk memiliki Karel. Karel adalah pria yang tidak akan pernah Kinara lepaskan apapun yang terjadi.
***
__ADS_1
Seperti biasanya, Arkan akan selalu berangkat ke kantor setelah memakan masakan dari Ayra. Pria itu begitu jatuh cinta pada masakan gadis itu.
Bahkan makan siang pun Arkan pasti akan menyempatkan diri untuk kembali ke apartemennya hanya demi masakan Ayra.
Sebelumnya Ayra menawarkan membawakan bekal untuk Arkan. Namun pria itu menolaknya. Karena sejujurnya Arkan merasa nyaman jika makan dengan di temani oleh Ayra.
Seperti siang ini. Pria itu menutup meetingnya karena Arkan ingin segera kembali ke apartemennya. Dia sudah berpesan kepada Ayra untuk memasak siang ini. Arkan akan makan siang di apartemennya.
"Apa makan siang ku sudah jadi?" tanya Arkan yang langsung memasuki meja makan. Sepanjang memasuki apartemennya, aroma masakan begitu menggoda indera penciumannya.
Ayra terlonjak kaget dengan kehadiran Arkan yang kini sudah duduk di kursinya. Menatap Ayra dengan senyuman.
"Kau mengagetkan ku saja, kak Ar."
"Maaf, Ra. Tapi Aku sudah sangat lapar saat ini. Bau masakan mu membuat cacing di perutku berteriak meronta ingin segera diisi," seloroh Arkan.
Ayra terkekeh. Ia tidak menyangka jika Arkan akan begitu menyukai masakannya. Kemudian Ayra mulai menyiapkan makan siang Arkan di atas meja makan.
"Duduklah dan makanlah. Aku ingin Kau menemani ku," ucap Arkan memaksa.
"Baiklah, Aku akan menemanimu makan siang Kak. Karena memang Aku juga sedang lapar hehehe," ucap Ayra terkekeh.
"Aku sepertinya sudah jatuh cinta dengan masakan mu, Ra." ucap Arkan setelah menghabiskan makanannya.
"Syukurlah jika kak Ar menyukainya." ucap Ayra senang. "Apa kak Ar mau kembali ke kantor lagi?" tanyanya kemudian.
"Tidak, Aku akan menyelesaikan pekerjaan ku di ruang kerjaku," ucap Arkan. Ayra mengangguk mengerti.
Arkan lalu menuju ruang kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaan di kantor yang belum terselesaikan. Sementara Ayra membereskan piring bekas mereka makan tadi.
Sembari mencuci piring, Ayra berandai-andai. Seandainya saja Karel menyukai masakannya seperti Arkan. Tapi mungkin itu akan sulit terjadi.
Hingga sore hari, Ayra bermaksud untuk kembali pulang. Ia berinisiatif untuk membuatkan Arkan kopi. Tapi Ayra tidak tahu Arkan menyukai kopi atau tidak, jadi ia ingin menanyakannya terlebih dahulu kepada Arkan.
__ADS_1
Ayra mengetuk pintu ruang kerja Arkan beberapa kali, namun tak ada jawaban. Ayra pun memutuskan untuk membukanya, dan ternyata tak di kunci.
Di lihatnya Arkan yang ternyata tertidur di sofa ruang kerjanya dengan laptop yang masih menyala. Ayra menggelengkan kepalanya.
"Pantas saja Aku mengetuknya berkali-kali tidak ada jawaban. Wong orangnya malah tertidur. Pulas pula," gumam Ayra pelan.
Ia pun sejenak membereskan beberapa berkas yang berantakan. Lalu ia hendak mematikan laptop Arkan. Sebelum mematikannya, Ayra akan menyimpan data yang ada di sana. Namun ekor matanya melihat ada keganjilan dalam laporan yang ada di dalam laptop tersebut.
Ayra tak bisa tinggal diam melihat laporan yang belum beres tersebut. Gadis itu langsung melakukan keahliannya dalam bidang pendidikan yang ia ambil selama ini. Setelahnya gadis itu langsung pulang.
Keesokan harinya.
Arkan terbangun. Ia langsung berjingkat bersiap untuk berangkat ke kantor. Pagi ini ia ada meeting penting.
Melihat Ayra yang belum datang, pria itu hendak mengambil air putih hangat. Namun ekor matanya melirik ada sebuah memo yang di tempel pada pintu kulkas.
Di sana Ayra meninggalkan catatannya. Ia mengatakan jika ia sudah membuat makanan dan di simpan di dalam kulkas. Ayra menyuruh Arkan untuk menghangatkannya ke dalam microwave jika dirinya belum datang.
Arkan tersenyum. Ia tidak perlu menunggu Ayra untuk mendapatkan sarapannya ketika dirinya terburu-buru pagi ini.
Arkan segera menghidupkan microwave dan menghangatkan sarapan paginya. Setelah selesai, ia segera menyantapnya dengan begitu lahapnya.
Arkan menjadi tersenyum sendiri mengingat dirinya yang bisa langsung merasa nyaman dengan Ayra. Ayra memang seorang gadis yang begitu luar biasa menurut Arkan.
***
Kini meeting di mulai. Arkan merutuki dirinya sendiri karena lupa menyelesaikan pekerjaannya yang ia bawa pulang kemarin. Padahal pagi ini ia melakukan meeting dengan perusahaan Papanya.
Arkan ingin Papanya melihat hasil kerjanya selama ini. Namun kemarin ia belum sempat merampungkannya. Pria itu menjadi khawatir sekarang. Pasti papanya akan menyepelekan dirinya karena tidak konsisten dalam bekerja. Arkan sudah lemas duluan.
"Bravo ..., Kerjamu sungguh luar biasa, Nak. Papa bangga dengan mu. Melihat kinerja mu yang luar biasa, Papa akan menanamkan modal terbesar di perusahaan yang sedang Kau rintis ini," ucap sang Papa membuat Arkan tercengang.
***
__ADS_1