
Malam hari ketika Ayra dan Er hendak tidur. Er meminta Ayra untuk menemaninya. Pria itu beralasan jika kepalanya masih pusing.
Ayra yang merasa begitu khawatir pun menuruti keinginan suaminya. Walaupun dalam dirinya selalu menjerit harus menjauh dari sang suami, namun hati kecilnya tidak ingin jauh.
"Apa sekarang Kak Er sudah baik-baik saja?" tanya Ayra. Gadis itu sudah menguap beberapa kali pertanda dia sudah mengantuk.
Sedari tadi Er tak mau melepaskan pelukannya dari tubuh Ayra. Memeluk tubuh sang istri rasanya terlalu hangat. Dan Er tak ingin melepaskannya walaupun hanya untuk beberapa detik.
"Tidak Ay, Aku tidak akan baik-baik saja jika Kau pergi. Tetap temani Aku malam ini. Sepertinya Aku tidak akan bisa tidur kalau Kau meninggalkan ku," ucap Er manja.
"Kenapa tiba-tiba Kak Er menjadi aneh seperti ini sih," gadis itu mencebik kesal. Bukan karena dia tidak mau, namun dia hanya takut tak bisa mengontrol perasaannya ketika mereka sedekat ini.
"Aneh dimananya? Perasaan ini wajar-wajar saja. Aku kan suami sah mu. Jadi Kau sebagai istri sah ku wajib merawat suami sah mu yang sedang sakit," ucap Er beralasan. Dia terus saja menekankan kata 'suami sah dan istri sah.'
Ayra hanya pasrah dengan kemauan suaminya itu.
__ADS_1
Perlahan Ayra tak dapat menahan rasa kantuknya. Alhasil gadis manis itu pun perlahan memejamkan matanya setelah memastikan Er sudah tertidur.
Menyadari gadis dalam pelukannya itu tak lagi bergerak dan nafas halus teratur sang istri mulai terdengar, Er pun akhirnya membuka matanya.
Pria itu menatap wajah tidur sang istri sembari tersenyum. Tak terasa air matanya lolos begitu saja dari sudut matanya.
"Maafkan Aku... maafkan Aku...." Er mengecup kening Ayra begitu dalam. Perlahan dia melepaskan pelukannya. Er meraih tangan Ayra dan mengecupinya berkali-kali. Setelahnya dia lalu memandang wajah Ayra, sesekali mengusapnya perlahan.
Bahkan Er melakukan hal itu semalaman tanpa tertidur. Baru setelah pukul lima pagi, dia meraih ponselnya dan menelepon Kinara. Er ingin membatalkan rencana ke luar kota bersama sang kekasih.
"Maaf, Nara. Tapi Aku tetap tidak bisa. Jika kamu ingin pergi, Kau bisa mengajak teman mu yang lain, Dina mungkin." ucap Er. Dia tahu jika Dina yang di maksud Nara tempo hari adalah Deni. Er bermaksud menyindirnya.
"Tidak bisa. Aku hanya ingin pergi bersamamu, Sayang. Tidakkah kamu mengerti itu? Atau Kau membatalkannya karena istri sialan mu itu!" Nara mulai kesal.
Namun mendengar Nara berkata seperti tentang Ayra membuat kemarahan Er pun berada di ubun-ubun.
__ADS_1
"Jaga bicaramu, Nara! Dia yang Kau sebut sialan itu adalah istri Ku. Dan asal Kau tahu! Aku sudah mengingat semuanya. Bahkan Aku mengingat siapa gadis yang kucintai sebenarnya. Kamu hanya memanfaatkan amnesia ku ini untuk kepentingan mu sendiri. Mulai sekarang Aku tidak akan pernah tertipu oleh mu lagi!"
Kinara terkejut. Dia tak menyangka jika Er akan mengingat semuanya secepat ini. Namun gadis itu tak habis akal, dia sudah mempersiapkan segalanya jika hal ini akan terjadi.
"Hahaha... Jadi Kau sudah mengingat semuanya? Tapi Kau tetap tidak akan pernah bisa lepas dariku Er. Aku punya kartu As mu. Dan Aku tidak akan segan-segan mengatakan kartu as mu itu kepada Ayra."
"Apa maksudmu?"
"Jangan pura-pura tidak tahu. Bukankah kau yang sudah menabrak nenek Ayra dan juga anak kecil yang bersamanya waktu itu? Bagaimana jika Ayra mengetahui bahwa yang menabrak neneknya itu adalah dirimu, Karel? Apakah Ayra akan memaafkan mu? Bagaimana jika dia malah membencimu? Apa Kau sudah memikirkan semua itu jika Kau berani meninggalkan ku?"
Er terdiam. Sungguh ini benar-benar sial untuknya. Er teringat kejadian kecelakaan waktu itu. Kecelakaan yang tak di sengaja yang terjadi beberapa tahun lalu.
"Kau memang wanita licik, Nara! Kau sendiri tahu waktu itu Kau yang merebut kemudiku dan berusaha menabrak Ayra. Aku hanya berusaha menyelamatkannya. Aku tidak sengaja menabrak neneknya, dan Kau tahu itu."
***
__ADS_1