
Ponselnya bergetar tanda sebuah pesan masuk. Ayra meraih ponselnya dan melihat notif pesan dari Karel. Tanpa sadar bibirnya tersenyum.
"Aku mengantarkan Kinara sebentar. Jangan kemana-mana, nanti Aku jemput." Isi pesan dari Karel.
Seketika senyum Ayra langsung luntur. Ternyata cinta memang tak semanis yang orang katakan. Gadis itu pun tersenyum miris.
"Kak Er tidak usah menjemput ku. Aku akan naik angkutan umum. Antar saja Nara dengan tenang," balas Ayra.
Setelahnya Ayra memasukkan ponselnya kedalam tasnya. Gadis itu beranjak dari tempatnya dan berniat untuk ke halte busway.
Ayra melihat Arkan tampak sedang berbincang dengan security di depan kantor. Pria itu pun menatap Ayra yang kini tengah berjalan keluar dari kantor. Arkan menghampiri Ayra dan menyamai langkah kaki gadis manis yang telah mencuri hatinya.
"Tidak di jemput suamimu, Ra?"
"Hari ini suamiku sedang sibuk Kak. Jadi Aku memutuskan untuk naik busway saja," jawab Ayra.
Arkan tersenyum. Ini adalah kesempatan dirinya untuk ngobrol berdua dengan Ayra. Dan kesempatan untuk mengetahui di mana tempat tinggal Ayra yang baru.
"Biarkan Aku saja yang mengantarkan mu, untuk apa naik busway?" tawar Arkan.
Ayra melihat ada beberapa karyawan yang saling berbisik menatap ke arah dirinya dan juga Arkan. Ayra tak ingin jika ada yang salah sangka lagi dengan dirinya dan juga Arkan. Terlebih dia tahu jika Mita menyukai pria di depannya itu.
"Tidak usah Kak. Lagipula sudah lama Aku tidak naik busway, sepertinya akan menyenangkan," tolak Ayra halus. Sejujurnya dia tahu jika Arkan pria yang sangat tulus.
"Apa suamimu melarang ku untuk mengantar mu pulang?"
__ADS_1
"Ti-tidak Kak. Dia tidak melarang ku apapun. Aku hanya benar-benar sedang ingin naik busway." Ayra nyengir untuk menghilangkan rasa kecewa Arkan.
Sebisa mungkin Ayra harus menciptakan jarak antara dirinya dan juga Arkan. Atau akan semakin banyak orang yang akan salah paham dengan kedekatan mereka nantinya.
"Baiklah manis, Aku tidak akan memaksamu. Aku akan mengabulkan apapun yang Tuan putri katakan."
Ayra tergelak dengan ucapan Arkan. Lalu keduanya terkekeh di buatnya.
"Bisa tolong Tuan Arkan jangan menggoda istri orang lain!"
Ayra sedikit terkejut melihat Karel yang tiba-tiba sudah berada di depannya.
Arkan dapat melihat rasa cemburu dari Er untuk sang istri. Pria itu tersenyum. Setidaknya Karel mencintai gadisnya. Jadi dia akan menyerah untuk merebut Ayra darinya.
'Mana mungkin, Kak Er cemburu padaku? Kak Ar pasti salah.'
Ayra melihat Er berjalan ke arahnya dan menariknya pelan. Menggenggam tangannya sembari menatap tajam ke arah Arkan.
"Saya tegaskan sekali lagi kepada Anda, Tuan Arkan. Ayra adalah istri Saya. Dan Anda tidak boleh dekat-dekat dengannya!"
Arkan terbahak-bahak menanggapi ucapan Er. Sementara Er langsung membawa Ayra menuju mobilnya untuk segera pulang.
***
"Kak Er tidak jadi mengantarkan Nara?" tanya Ayra mengawali pembicaraan.
__ADS_1
"Sudah, tadi sebelum menjemputmu Aku sudah mengantarkannya."
Ayra hanya mengangguk-angguk.
"Kau baru beberapa bulan mengenal Arkan. Kenapa kalian terlihat begitu dekat? Apa Kau menyukainya?"
Pertanyaan Er sontak membuat Ayra menoleh ke arahnya.
"Tidak. Aku hanya menganggap Kak Ar sebagai seorang kakak saja. Kenapa Kak Er tiba-tiba bertanya seperti itu?"
"Aku hanya ingin tahu saja. Aku tidak suka jika Kau dekat-dekat dengannya."
"Kenapa?" tanya Ayra polos.
Er sekilas menatap Ayra. Sungguh wajah polosnya saat ini begitu menggemaskan bagi Er. Rasanya dia ingin menerkam gadis itu saat ini juga.
Dia sendiri tak bisa menjamin akan mampu menahan untuk tidak menerobos masuk kedalam kamarnya dan menerjangnya di ran.jang. Dia sudah tidak peduli lagi dengan perjanjian di antara mereka. Toh dia adalah suami sahnya, dan hal wajar jika mereka melakukan hal itu.
"Karena dia sudah mempunyai tunangan," ucap Er.
Ayra terkejut. Tiba-tiba wajahnya begitu murung. Dia tadi mengatakan kepada Mita jika Arkan tidak memiliki kekasih. Lalu bagaimana nanti dia akan menjelaskannya kepada Mita jika Mita tahu kalau Arkan sebenarnya memiliki seorang tunangan?
Melihat raut wajah Ayra yang murung membuat Er merasa kesal. Dia mengira jika Ayra kecewa mendengar jika Arkan memiliki seorang tunangan. Sungguh Er tidak suka melihat reaksi Ayra.
***
__ADS_1