
Kini keduanya sudah berada di dalam mobil. Mereka masih saling diam sibuk dengan pikiran masing-masing.
Bagi Er semua ini terasa begitu rumit. Ingatan tentang semua kenangan manisnya bersama dengan Kinara begitu menggores luka di hati.
Dia bisa setenang ini karena ada Ayra di sampingnya. Jika tidak ada Ayra, mungkin Er sudah memukuli Deni sampai habis tadi.
"Apa Kau kenal dengan Deni?" tanya Er memulai pembicaraan.
Ayra menghembuskan nafasnya perlahan kemudian menatap sang empunya bertanya. Terlihat jelas raut wajah kesedihan di matanya.
"Mas Deni mungkin ayahnya Ayumi."
Lagi-lagi Er mendengar nama baru. Hingga Er pun memutuskan untuk ingin tahu.
"Siapa Ayumi?"
"Dia anak panti Kak. Dan menurut ku Mas Deni itu adalah pria yang baik karena dia sayang banget sama Ayumi."
"Apakah Deni sudah menikah?"
"Aku tidak tahu kak. Mas Deni selalu datang dua hari sekali untuk menjenguk Ayumi. Dia juga tidak pernah datang bersama seseorang. Pasti selalu sendiri. Apa mungkin jika Ayumi itu anak Mas Deni? Dan Nara, Apa dia ibunya Ayumi? Sungguh Aku tidak mengerti, tapi Aku rasa ini tidak mungk...."
__ADS_1
"Kenapa tidak mungkin Ay?" potong Er dengan cepat. Sementara Ayra menatap Er dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Aku mengenal Nara sejak Aku masih sekolah dasar. Dia tidak mungkin menjadi wanita seperti itu. Ibu yang sudah mengadopsi Nara pasti akan sangat kecewa padanya."
Er menatap Ayra tak percaya. 'Sebenarnya Ayra ini terlalu polos atau bodoh sih?'
"Sejujurnya Aku sudah mengetahui jika Nara sudah berkhianat padaku sebelumnya," ujar Er jujur. Ayra terlihat begitu terkejut.
"Ta-tapi kalian terlihat baik-baik saja."
Er tersenyum. "Lalu Aku harus bagaimana?"
Ayra tertunduk. "Kau pasti sangat mencintai Kinara."
"Ya, Kau benar. Aku sangat mencintainya."
Er melihat ekspresi Ayra yang terlihat gugup, atau mungkin kecewa. Ayra menundukkan kepalanya seolah di bawah kakinya ada tumpukan emas.
Er tersenyum tipis. Terserah jika dia di bilang terlalu percaya diri. Tapi dia yakin jika Ayra terlihat cemburu.
Sebenarnya Er memang sangat mencintai Kinara. Hanya tidak ada yang tahu saja bagaimana hancurnya hatinya.
__ADS_1
"Jangan di bahas lagi. Sebaiknya kita pulang. Aku sudah sangat lapar." Er segera melajukan mobilnya keluar dari parkiran.
Er melirik ke arah dua orang yang sedang bertengkar tadi. Kini kedua orang itu tengah berpelukan erat seolah dunia hanya milik mereka berdua. Hati Er rasanya sudah tak berbentuk lagi melihatnya.
***
Er langsung masuk kedalam kamarnya ketika sudah sampai di rumah.
Gadis itu menatap punggung suaminya yang mulai menghilang dari balik pintu kamarnya.
Ayra tak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati sang suami kala melihat kebenaran tentang seseorang yang ia cintai. Pasti sangat sakit saat melihat seseorang yang dikiranya baik padahal berkhianat.
Namun Ayra pun tak bisa berbohong jika hatinya pun juga sakit. Perasaan yang beberapa hari melambung tinggi seolah terhempas jatuh ke dasar jurang. Namun dia tak menyalahkan siapapun di sini.
Perhatian yang beberapa hari ini Er berikan padanya, nyatanya hanyalah penghiburan atas sakit hati yang di rasakan oleh Er.
Semua itu tak mungkin nyata. Seharusnya dirinya sadar diri sejak awal, hingga hatinya tak melambung tinggi.
Air matanya terjatuh. Ayra bahkan berfikir jika hubungannya sudah mulai banyak kemajuan. Bohong jika dirinya tak berharap jika Er akan mencintainya. Seumur hidupnya tak pernah Ayra seberharap seperti sekarang ini.
"Kau menangis?" Ayra terlonjak kaget saat Er tiba-tiba berada di belakangnya.
__ADS_1
"I-ini karena bawang." Ayra melirik bawang merah yang saat ini sedang ia potong. Bukankah itu adalah alasan yang tepat? Ayra pun terkekeh sendiri.
***