Terpaksa Menikahi Gadis Pilihan Mama

Terpaksa Menikahi Gadis Pilihan Mama
The End


__ADS_3

Ku pandangi wajah istri ku dengan sendu. Rasanya pandanganku tak ingin ku alihkan kemanapun selain pada istriku.


Entah sudah berapa lama Aku berada di ruangan ICU. Bahkan dokter dan perawat sampai lelah menegur ku karena Aku tak ingin pergi.


Di saat seperti ini, Aku ingin sekali marah kepada Mama. Seharusnya Mama menangani penyakit Ayra. Namun di saat seperti ini Mama malah pergi entah kemana.


Di tengah-tengah pemikiran ku yang seliweran kemana-mana, kurasakan sebuah pergerakan pada jemari istri ku yang sedari tadi tak pernah ku lepaskan dari genggamanku. Ku lihat kelopak matanya mulai mengerjap.


Ku panggil namanya dengan suara bergetar. Air mata ini pun tak dapat ku cegah untuk menetes.


"Sa-sayang... Kau bangun? Aku sangat khawatir padamu. Maafkan Aku... maafkan Aku...." Ku ciumi punggung tangannya.


Gadisku sedikit melenguh. Suara lirihnya mulai terdengar di telinga ku.


"K-kak...."


"Iya Sayang. Kamu ingin apa? Biar Aku ambilkan. Mau makan...atau minum...?" Otakku lumpuh seketika. Melihat wajah pucat istri ku saat ini membuat ku begitu takut dan cemas, sehingga Aku bingung mau mengatakan apa.


"A-aku... A-aku takut...." Air mata istri Ku meleleh seketika.


Hatiku sakit melihatnya seperti ini. Sejujurnya Aku pun juga sangat takut. Aku takut dia meninggalkan ku. Bahkan bayangan buruk selalu memenuhi otakku.


Pun begitu, Aku harus menjadi kuat di depannya. Aku tidak boleh menunjukkan kelemahan ku karena Aku sendiri pun takut. Ku genggam erat tangannya, dia juga membalas genggaman ku.


Namun hantaman dahsyat menderaku kala tiba-tiba tubuh istri ku mengejang. Aku panik, takut dan sangat cemas.


Ku panggil namanya berulang kali. Gadisku tak menjawabnya.


"Sayang... Ayra... Kamu kenapa? Sayang...!"


Tanganku bergetar hebat. Aku terlalu takut. Aku pun rasanya sudah tak sadar lagi. Aku berteriak memanggil nama istri ku lalu memanggil nama dokter berulang kali. Bahkan tombol interkom, ku ku tekan berulang kali.


Tuhan, tolong jangan ambil dia. Jangan ambil dia dari sisiku. Aku rela menukar apapun demi nyawanya. Aku mohon, Tuhan! Hatiku terus menjerit meminta kepada Tuhan.


Namun tubuh istriku masih terus mengejang. Hingga beberapa dokter datang untuk segera menanganinya.


Aku pun di giring keluar dari ruangan itu. Namun Aku terus memberontak. Hingga tiba-tiba Papa datang dan menampar wajah ku untuk menyadarkan ku.


"Karel! Jika Kau terus seperti ini, bagaimana dokter akan menyelamatkan istrimu?! Jangan menjadi suami yang tak berguna. Jika Kamu memang ingin istrimu selamat, biarkan dokter menanganinya!"


Seketika tubuhku melemas. Akhirnya beberapa perawat berhasil mendorong ku keluar. Aku menangis tergugu melihat kondisi istriku. Sungguh Aku tidak akan pernah sanggup jika sampai sesuatu terjadi padanya.


Mataku memerah. Mungkin karena Aku terlalu banyak mengeluarkan air mata ku. Aku tak memperdulikan orang-orang yang menatap ku dengan berantakan seperti ini.


Seluruh dunia ku hanya tertuju pada gadisku. Ayra harus selamat, apapun yang terjadi.


"Sadarlah, Nak. Ayra membutuhkan doa darimu. Hanya Tuhan yang bisa menyelamatkan istrimu. Kita harus banyak berdoa agar Tuhan memberikan keajaibannya." Papa menepuk-nepuk pundak ku untuk menenangkan ku.

__ADS_1


Ucapan Papa benar. Segera ku panjatkan doa agar Tuhan tak membawa istriku. Aku tahu penyakit ini adalah penyakit yang sulit untuk di sembuhkan. Bahkan tak banyak yang bisa bertahan dalam penyakit yang di derita istri ku.


Namun Aku harus bersikap positif. Aku yakin Tuhan akan memberikan ridho nya. Ya Allah, Aku berdosa selama ini karena sering menyakiti istri ku. Apakah ini karma untuk ku? Maafkan Aku Tuhan... Maafkan Aku...


Cklek...


Pintu kamar ICU terbuka. Terlihat jelas raut wajah dokter yang nampak sangat lesu. Aku sudah sangat berdebar di buatnya. Hatiku menjadi was-was antara cemas dan takut.


"Bagaimana kondisi istri Saya, dokter?"


Dokter hanya menunduk ketika ku tanyakan hal tersebut. Aku semakin takut. Bayangan terburuk terus saja membayangiku.


"Kami tak bisa menyelamatkan istri Anda."


Jantung ku seolah berhenti saat ini juga. Aku bahkan tak dapat menopang tubuh ku jika Papa tidak ada di belakang ku.


Kurasakan semua menjadi gelap. Telinga ku mulai berdengung. Bahkan suara Papa yang memanggil ku terasa semakin menghilang. Ku rasakan luka di perutku yang terasa berdesir.


Tanganku mulai menyentuh luka bagian perut ku. Dan ternyata darah merembas dari sana. Luka ku kembali terbuka, mungkin karena Aku yang tadi memberontak pada dokter.


Dan lagi. Kesadaran ku perlahan mulai menghilang. Jika Tuhan mengizinkan, Aku ingin dia juga mencabut nyawaku saat ini juga. Aku ingin selalu bersama istriku.


***


Satu tahun kemudian.


Bahkan keluarga ku seperti sedang tak memperdulikan ku. Mungkin mereka muak melihat ku yang sudah berbulan-bulan seperti mayat hidup.


Aku terlalu kehilangan istriku.


Aku pun tak pernah tahu di mana istriku di semayamkan. Aku terlalu takut untuk menerima semua kenyataan.


Aku mulai bangkit lagi karena Mama yang selalu marah-marah padaku. Dia mengatakan jika Ayra akan bersedih jika melihat ku seperti itu.


Otakku kembali bekerja jika menyangkut istriku. Aku tak mau membuat istriku di sana melihat ku dengan sedih. Akan ku jalani hariku sebagaimana mestinya. Aku akan menunggu sampai waktunya tiba untuk ku dan dia kembali bersama. Walaupun tak di dunia ini.


Walaupun Aku sudah kembali bangkit dan mulai menjalankan perusahaan ku. Rasanya dunia ini begitu hambar tanpa adanya istriku di samping ku. Bahkan Aku begitu menjaga diriku agar tak tersentuh oleh wanita manapun.


Jika ada sedikit saja yang menyentuh atau bahkan tanpa sengaja menyentuh ku, maka Aku pasti akan segera membersihkan bekas sentuhan itu.


Tapi ada seseorang yang selalu membuatku begitu kesal. Dia adalah Arkan. Pria yang waktu itu juga mencintai istriku. Sekarang pria itu akan menikahi salah satu karyawannya.


Dan kalian tahu apa yang membuat ku kesal? Dia selalu mengolok-olok ku. Dia mengatakan jika Aku bujang lapuk dan selalu memamerkan kemesraannya bersama kekasihnya padaku.


Ingin sekali Aku menghajarnya. Namun apa yang di katakannya mungkin memang benar. Karena Aku sudah bersumpah pada diriku sendiri, jika Aku tidak akan pernah menikah lagi. Tubuh ini hanya milik istriku seorang.


Kepalaku terasa begitu pening saat ini. Bagaimana tidak? Sudah ratusan yang melamar pekerjaan sebagai sekretaris ku hari ini, namun tak ada satupun yang memenuhi kriteria ku.

__ADS_1


Ku sandarkan kepalaku di kursi kebesaran ku. Dan tak lupa ku pejamkan mataku untuk merelakskan tubuh yang penat ini. Bayangan istriku kembali muncul dalam angan ku. Aku pun menyunggingkan senyum sembari memejamkan mata.


Ku dengar pintu terbuka. Langkah kaki pun mulai terdengar mendekat. Namun ini terdengar seperti langkah heels seorang wanita.


"Keluarlah! Interview selesai. Aku tidak akan menerima interview lagi." Aku berucap tanpa membuka mataku. Malas jika Aku harus meladeni orang lagi, apalagi itu seorang wanita.


"Jadi sudah tidak ada lowongan lagi untuk ku? Baiklah, sebaiknya Aku pulang saja."


Suara lembut yang sangat tak asing ku dengar. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Takut untuk membuka kedua mataku jika yang akan ku lihat bukan seseorang yang ada dalam benakku.


Suara langkah kaki itu mulai menjauh. Aku pun segera membuka mataku untuk mengobati rasa penasaran ku.


Ku lihat punggung seorang gadis tengah menjauh hendak sampai di dekat pintu keluar.


"Tunggu! Berhenti di sana!"


Aku mulai berdiri dan menapaki lantai menghampiri gadis yang saat ini berhenti dan membelakangi ku.


Jantung ku ini semakin berdegup kencang ketika kaki ini berdiri tepat di belakang gadis itu. Pelan, ku raih pundak gadis itu dan membalikkan badannya menghadap ku.


Seketika mataku membola tak percaya. Ku coba mencubit pipiku sendiri dengan keras untuk mengetahui jika mataku ini tak berhalusinasi.


"Arghh! Ini nyata?" gumam ku.


Gadis itu tersenyum. Namun air matanya mengalir tanpa henti. Ku raih segera tubuh gadis itu yang mulai bergetar. Aku memeluknya dengan begitu erat. Dengan perasaan yang begitu menggebu. Ku kecup puncak kepalanya berkali-kali berharap ini bukanlah ilusi fatamorgana semata.


"Apa ini benar-benar dirimu, Sayang," ucapku serak. Aku pun tak kuasa menahan tangisku.


Gadis dalam dekapan ku mencubit perutku pelan. Membuat ku sedikit mengaduh.


"Lalu kamu pikir Aku siapa? Hantu?"


Suara manjanya yang begitu lembut. Membuat ku semakin yakin jika gadis ini memanglah istriku. Ini nyata.


"Bagaimana mungkin?" ucapku masih tak percaya.


"Tentu saja mungkin. Tuhan telah mengembalikan ku padamu. Dan Kamu harus berterimakasih kepada Mama Via. Dia yang sudah sangat berjasa hingga Aku bisa kembali berdiri di hadapan mu. Kak Er... Aku sangat merindukanmu."


Pelukan erat dari istriku ku balas dengan hal serupa. Aku bahagia. Bahkan Aku tidak pernah menyangka jika Mama menyembunyikan hal sebesar ini.


Terimakasih Ya Allah. Engkau sudah berkenan mengembalikan istriku padaku. Aku berjanji akan selalu membuatnya bahagia selama sisa hidup ku. Ini adalah janjiku pada Tuhan.


Aku masih merasa ini bagaikan sebuah mimpi. Aku tidak ingin mendengar bagaimana ceritanya istriku bisa kembali untuk saat ini. Yang ingin ku lakukan saat ini hanyalah terus memeluk tubuh gadis ku. Biarlah nanti Aku minta penjelasan dari Mama.


"Aku sangat sangat sangat... Merindukanmu, Sayang. Jangan lagi pergi dariku. Aku... Aku mencintaimu...."


End

__ADS_1


***


__ADS_2