Terpaksa Menikahi Gadis Pilihan Mama

Terpaksa Menikahi Gadis Pilihan Mama
Bab 50


__ADS_3

Aku selalu menganggap persahabatan ku dulu dan Nara akan menjadi hal terindah. Dia sosok yang sering membantuku dan yang paling dekat dengan ku ketika kuliah dulu.


Aku tak pernah menyangka jika justru sebaliknya. Nara begitu membenciku. Dia selalu menganggap ku yang sudah merebut Kak Er darinya.


Namun dia tak pernah jika sebelumya Aku duluan yang sudah mengenal Kak Er. Pria yang ku cintai selama hidup ku. Pun begitu, Aku tak pernah mengatakan tentang perasaan hati ku pada siapapun.


Karena ternyata setelah sekian lama Aku menyimpan cinta ini. Ketika Aku dan pria yang ku cintai bertemu untuk pertama kalinya, dia tak mengenaliku. Dia malah mengenalkan dirinya sebagai kekasih dari sahabat ku.


Maka dari itu Aku hanya diam dan menutup dalam-dalam perasaan ini untuknya. Hingga Mama Via datang. Kehidupan ku mulai berubah.


Walaupun awalnya Kak Er bersikap buruk kepada ku. Tapi perlahan sikap buruk itu mulai mengikis. Hingga kebenaran sedikit demi sedikit pun mulai terungkap.


Mulai dari Nara yang ternyata sudah memiliki anak, Kak Er yang ternyata juga mencintai ku, sampai kebenaran tentang kecelakaan yang membuat Nenek meninggal waktu itu. Membuat ku tak tahu harus bagaimana menyikapinya.


Semuanya terasa begitu rumit.


Kini Aku berada dalam pelukan pria yang ku cintai. Pria ini sedang tidak baik-baik saja. Aku tahu itu. Dia berusaha untuk melindungi ku dan mengorbankan dirinya untuk ku. Membuat keraguanku akan cintanya menjadi terjawab. Pria ini sangat mencintai ku.


Aku terbuai dalam pelukannya. Hingga tiba-tiba tubuhku terputar seiring gerakan suamiku, dan...


"Argghh...A- aku mencintaimu, Sayang," ucapnya lirih sebelum tubuh kekar itu ambruk.


Aku terkejut. Ternyata Kak Er kembali melindungi ku ketika Kinara kembali menghunuskan pisaunya untuk melukaiku. Lagi-lagi suamiku menyelamatkan nyawanya ku.


Namun tiba-tiba saja semuanya terasa berputar-putar. Samar-samar kudengar suara seseorang yang memanggil namaku. Entah Aku tak tahu siapa itu. Ku rasakan darah merangkak keluar dari hidung ku. Dan semuanya tiba-tiba menjadi begitu gelap.


***


POV Karel


Kepalaku terasa begitu berat. Samar-samar kudengar suara Papa yang membelai telinga ku.

__ADS_1


Aku mencoba untuk membuka mataku. Bias cahaya samar-samar mulai terlihat kala mata ini mulai terbuka.


"Er. Kau sudah sadar?"


Pertanyaan Papa membuat ku hendak terbangun. Aku teringat akan sesuatu. Sesuatu yang sangat penting. Yaitu, istri Ku. Mataku langsung membola sempurna untuk mencari keberadaan istriku di sekitar ku saat ini.


Namun tak ku lihat kehadirannya. Apakah dia baik-baik saja? Apakah Kinara berhasil menyakitinya? Aku benar-benar merasa sangat bersalah karena sudah lebih dulu tumbang dan tak bisa menjaga istri Ku.


"Istriku dimana, Pa?"


Aku langsung bertanya kepada Papa untuk mengetahui bagaimana dia sekarang.


Papa menatap ku dengan sendu. Dia menghembuskan nafas panjang dan mengatakan sesuatu yang membuat jantung ku seolah mau lepas dari tempatnya.


"Maaf Er. Istrimu saat ini sedang berada di ruangan ICU. Dia koma." Papa menunduk.


Bodoh... bodoh... bodoh...! Aku memang pria tak berguna. Seharusnya Aku bisa menjaga istriku dari kejahatan Nara. Tak hentinya ku salahkan diri ini.


"Kinara sudah di amankan di kantor polisi. Kau tidak usah khawatir. Dia belum sempat menyakiti istri mu. Tadi untungnya Nak Arkan datang di saat yang tepat."


Ucapan Papa membuat ku mengernyitkan dahi. Jika Nara tidak jadi melukai Ayra, bagaimana istriku bisa koma? Aku masih berusaha mencerna ucapan Papa.


"Lalu, kenapa istriku koma, Pa?" tanyaku. Namun sekarang malah giliran Papa yang tampak heran mendengar pertanyaan ku.


"Kenapa Kamu malah bertanya? Bukankah Kamu sudah tahu jika selama ini istrmu sedang sakit?"


Deg...


Sakit? Istriku sakit? Sungguh Aku tidak mengerti dengan yang Papa ucapkan. Selama ini istriku tak pernah menceritakan apapun perihal penyakitnya.


"Apa maksud Papa? Kenapa Papa mengatakan jika Ayra sakit? Er tak pernah tahu mengenai sakit Ayra Pa. Memangnya istri ku sakit apa, Pa. Kenapa dia bisa sampai koma?"

__ADS_1


Jantung ku berdegup kencang seiring pertanyaan yang ku lontarkan. Bahkan rasa cemas mulai menggerogoti hatiku.


"Jadi Kau benar-benar tidak tahu jika istrimu sedang mengidap leukemia?" Papa seolah tak percaya. Tapi sungguh Aku tak pernah tahu.


Aku tercekat mendengar tentang kenyataan ini. Kenapa selama ini Ayra tak pernah mengatakan apapun kepadaku? Dia menyembunyikan penyakitnya dariku?


Jutaan rasa bersalah menyambangi diriku. Aku memejamkan mataku. Selama ini dia bertahan hidup sendirian. Sementara Aku, Aku terus saja menyakiti hatinya. Bahkan Aku sama sekali belum membahagiakannya. Ayra... Ayra ku... Maafkan Aku Sayang....


"Pa, antar Aku ke ruangan istriku. Aku harus bertemu dengannya. Aku harus menemaninya, Pa. Aku... Aku sangat bersalah padanya Pa. Er ingin menemuinya, Pa."


Tak terasa air mataku keluar dari sudut mataku. Tidak! Aku tidak mau kehilangan lagi cinta ku.


"Er, lukamu masih belum kering. Tolong jangan banyak bergerak dulu. Atau nanti jahitannya bisa robek lagi jika Kau seperti ini."


Aku tak memperdulikan ucapan Papa. Aku tak peduli lagi dengan diriku sendiri. Luka ini tak sebanding dengan luka yang ku torehkan pada istri ku selama ini.


Aku terus memberontak dan memohon kepada Papa agar dia mau membawaku ke ruangan istriku. Akhirnya Papa menyerah dan mengizinkan ku. Dia menyuruh perawat untuk membawa kursi roda untuk ku.


Setelah sampai di ruang ICU. Kulihat tubuh tak berdaya istriku. Aku masuk sendirian kedalam sana. Karena memang hanya di perbolehkan satu orang yang dapat berada di dalam.


Ku tatap wajah pucat nya. Ternyata pipinya mulai tirus selama ini karena di sebabkan oleh penyakitnya yang tak pernah ku ketahui.


Ku genggam tangannya, lalu ku cium dengan perasaan hati yang begitu tak menentu. Ada rasa takut, cemas bercampur menjadi sedemikian rupa. Air mata ku tak dapat ku bendung lagi.


Seandainya Aku tidak melupakan ingatanku. Pasti tidak akan seperti ini jadinya. Aku akan melakukan segala cara untuk pengobatan penyakitnya.


"Sayang... Bangun... Ini Aku. Kenapa Kamu tidak pernah mengatakan penyakit mu, Ay? Apa karena Aku terlalu menyakiti mu, hingga Kau lebih memilih menyembunyikannya? Maaf... Maafkan Aku. Bangunlah, Sayang. Aku... Aku tidak bisa hidup tanpamu. Maafkan Aku...."


Aku tergugu. Menangis menyesali segala bentuk perbuatan ku.


***

__ADS_1


Ternyata masih belum end. Mungkin 1 bab lagi 🤭


__ADS_2