
"Kak Er, maaf membuatmu ikut datang kemari. Aku tidak bermaksud...."
"Tidak masalah, Ay. Lagi pula aku yang ingin mengantarmu. Kau tidak perlu merasa tidak enak," ucap Karel.
Ayra mengangguk lemah. Dia masih menggigit bibir bawahnya. Sementara Er menelan ludah. Dia terpaksa kembali ke dalam rumah. Bisa gawat jika dirinya berlama-lama melihat Ayra seperti itu.
Ingatan setiap inchi tubuh istrinya ketika dirinya mabuk malam itu membuat badannya semakin panas saja.
Ya, Er mengingatnya walaupun hanya samar.
Jujur, Er sulit melupakan tubuh indah Ayra. Selama ini tak terlihat Ayra memiliki tubuh seindah itu. Mungkin karena Ayra sering menggunakan pakaian longgar dan tertutup.
Makanya ketika melihat Ayra yang menggunakan pakaian kerjanya yang menggunakan rok di atas lutut membuat Er begitu kesal dan takut jika ada pria lain yang melihatnya. Er tak ingin hal tersebut.
Jika ada yang bertanya apakah Er menyesal melakukan penyatuan dengan Ayra ketika mabuk, jawabannya adalah tidak. Mungkin ini tidak benar. Tapi Er suka mendengar suara de.sa.han Ayra kala itu.
"Kak Karel, ini jusnya." Denis begitu antusias memberikan jus mangga buatan Ayra untuk Er. Dan itu membuyarkan setiap pikiran liar yang tertata rapi dalam otak Er.
"Terima kasih," ujar Karel sembari tersenyum. Dia meminumnya dengan semangat.
"Enak." Er mengacungkan kedua jempolnya kepada Ayra dan di ikuti oleh Denis dengan lucunya.
***
"Kak Karel menginap saja di sini ya?" ucap Denis berkaca-kaca ketika Er berpamitan padanya.
"Kak Karel nya harus bekerja, Sayang. Nanti jika hari libur, kita ke sini lagi ya?" Ayra membujuknya dengan lembut.
Bibir Denis tampak bergetar, membuat Er langsung memeluknya hangat.
__ADS_1
"Kak Er janji, nanti kakak akan mencarikan rumah yang nyaman untuk Manda dan Denis. Nanti kita bisa bertemu setiap hari di sana. Makanya kakak harus bekerja untuk bisa membelinya."
Ayra terkejut mendengar Er mengatakan hal tersebut. Namun ucapan Er memang bersungguh-sungguh. Dia berpikir mungkin akan menyenangkan jika mereka semua tinggal bersama.
"Iya Kak." Denis mengangguk mengerti.
"Nanti kalau Kakak libur lagi, Kakak akan mengajak kalian jalan-jalan," ucap Er. Denis mengangguk antusias, kemudian beralih ke gendongan Manda.
"Terimakasih Kak Er mau mampir," ucap Manda tersenyum. Er merasa beruntung bisa berada di tengah-tengah mereka.
Kini Ayra dan Er sudah berada di dalam mobil ketika bulir hujan mulai membasahi bumi. Ayra terlihat diam saja. Mungkin karena sebelumnya Er pernah mengatakan jika dirinya tak menyukai suara Ayra. Dan sekarang pria itu merasa bersalah.
"Ayra," panggil Er.
Ayra menoleh menatap Er. "Iya, ada apa, Kak?"
"Apakah uang yang Mama ku pernah berikan padamu untuk biaya pengobatan Denis?" tanya Er hati-hati.
Sejujurnya Er tidak tega jika harus membahas ini. Tapi dirinya sungguh begitu penasaran.
Lagi-lagi Ayra menggigit bibir bawahnya seraya mencoba menahan air mata yang hampir jatuh dari pelupuk matanya. Ayra teringat kecelakaan waktu itu dan ketika dokter berkata jika ternyata penyakitnya dulu ternyata belum benar-benar sembuh. Dan penyakitnya telah menggerogoti tubuhnya perlahan.
Rasanya dirinya tak sanggup untuk meninggalkan kedua adiknya itu. Namun dia juga merindukan neneknya yang telah tiada akibat kecelakaan kala itu.
"Maaf," ucap Ayra lirih.
Seperti ada yang mere.mas jantung Er melihat Ayra serapuh ini. Membuat Er menjadi seperti seorang pria yang begitu jahat saat ini.
"Kenapa minta maaf, Ayra? Seharusnya waktu itu Kau bisa meminjamnya saja pada Mama. Tidak perlu sampai Kau menikah dengan ku."
__ADS_1
Ayra semakin terisak. Rasanya Er seperti salah berbicara.
"Aku tidak bermaksud menyalahkanmu. Aku hanya... Apa Kau tidak mempunyai kekasih? Atau pria yang Kau sukai? Bukankah menikah dengan ku membuatmu mengorbankan masa depan mu?"
Ayra tak masih terisak. Bahkan hidupnya terlihat memerah dengan linang air mata yang tak dapat di bendung lagi.
"Pada waktu itu aku tidak memiliki pilihan. Aku sangat membutuhkan uang itu untuk operasi kaki Denis. Mama Via mengajukan syarat untuk menikah denganmu. Jika aku tidak mau, dia tidak mau meminjamkan uang tersebut. Maaf, jika aku menyusahkanmu. Bahkan aku memisahkan hubunganmu dengan kekasihmu."
Er sangat mengerti keputusan yang Ayra ambil. Bagaimanapun waktu itu pasti Ayra berada dalam kondisi terdesak sehingga menerima syarat dari Mama Via untuk menikah dengan dirinya.
"Sudahlah. Jangan menangis lagi. Aku hanya bertanya, bukan memarahimu. Aku hanya ingin tahu tentang penjelasan darimu. Menikah denganmu tak seburuk yang ku pikirkan."
Ayra masih sesenggukan. Sesekali tangannya mengusap air matanya.
"Aku berjanji akan giat bekerja supaya bisa mengembalikan uang yang waktu itu ku pinjam dari Mama Via. Hingga kau bisa terbebas dari pernikahan ini dan kembali Dengan kekasihmu," ucap Ayra serak.
Namun rasanya Er tidak ingin cepat-cepat terlepas dari pernikahan ini. Er baru menyadari jika ternyata sebenarnya Ayra begitu cantik.
Dia hanya butuh waktu untuk terbiasa dengannya. Entah mengapa Er ingin membuat istrinya jatuh cinta padanya. Tanpa sadar Er menarik sudut bibirnya ke atas.
"Tidak usah Kau memikirkan hal itu. Aku tahu kesehatan Denis lebih penting. Maaf jika selama ini aku selalu bersikap kasar kepadamu."
Ayra menundukkan kepalanya. Membuat Er ingin sekali memeluk tubuh mungil istrinya.
"Sungguh, Aku minta maaf padamu Kak Er...,"
"Ayra cukup! Jangan menangis lagi dan berhentilah meminta maaf padaku!"
***
__ADS_1