
Ayra merasakan tubuhnya tak dapat di gerakkan. Perlahan matanya mulai terbuka. Dia terkejut saat mendapati Er yang mendekapnya dengan begitu eratnya.
"Kak Er, bangun. Ini sudah pagi," ucap Ayra serak. Dia menggeliatkan tubuhnya agar pelukan Er melonggar.
Namun rupanya Er malah setia dengan tidur lelapnya. Entah itu hanya pura-pura atau memang Er masih tertidur. Pelukannya semakin erat.
Ayra terus berusaha melepaskan diri. Namun tetap saja dia tak ada gunanya. Gadis itu curiga jika suaminya hanya pura-pura tidur.
Pelan, Ayra menusuk-nusuk pipi Er dengan telunjuknya. Tetap saja pria itu tak bergerak atau bahkan membuka matanya. Sehingga Ayra pun menyerah.
Gadis itu menatap wajah tampan suaminya. Dia ingin menatap wajah itu sampai puas sebelum nanti dirinya tak dapat lagi menatapnya. Tanpa terasa, air matanya lolos begitu saja.
Tangannya kembali mengulur menyentuh wajah Er dengan lembut. Dari kening, hidung, bahkan bibirnya.
Tepat ketika itu, Er membuka matanya. Membuat Ayra terkejut dan hendak menarik tangannya kembali.
Namun dengan sigap Er memegang tangan Ayra dan mengecup punggung tangannya kemudian menempelkannya pada pipinya.
"Kak Er. A-aku...." Ayra menjadi tergagap. Dia takut Er marah karena dengan lancangnya dia menyentuh wajahnya.
"Jangan katakan apapun, Ay," ucap Er dan langsung mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri.
Keduanya saling menatap untuk beberapa detik. Perlahan Er mencium bibir Ayra dengan mata terpejam. Merasakan lembutnya setiap pagutan yang ia berikan pada cintanya.
Tak berdaya, Ayra pun juga menikmati ciuman yang suaminya berikan padanya. Dia ingin menikmati setiap detiknya perasaan indah itu sebelum semuanya menghilang dari hidupnya.
Keduanya saling memagut hingga lama kelamaan nafas keduanya saling memburu meminta hal lebih.
__ADS_1
Hingga pergulatan panas di pagi hari pun terjadi.
Skip yakš¤
Setelah pergulatan panas terjadi, Er mencium kening Ayra dan berbisik pelan.
"Aku mencintaimu."
Karena terlalu lelah, Ayra samar-samar mendengar ucapan Er. Dia menganggap itu semua hanya halusinasi nya. Tubuh Ayra kembali Er pelukan dengan erat.
"Kak Er. "
"Hemm?"
"Seharusnya kita tidak melakukan ini. Kita sudah mengkhianati Kinara. Jika dia mengetahuinya, dia pasti akan kecewa," ucap Ayra.
Ayra terkejut. Dia pikir Er tidak sadar ketika dulu dia mengambil mahkotanya.
"Kak Er mengingatnya?" tanya Ayra dengan suara yang nyaris tak terdengar namun masih dapat Er dengar.
"Aku mengingatnya, Ay. Walaupun hanya samar, tapi Aku sadar jika Aku melakukannya denganmu." Er terdiam sejenak. Dia teringat perlakuan kasarnya dulu pada Ayra.
"Maafkan Aku... Maafkan Aku karena perlakuan burukku padamu selama ini. Aku sangat menyesalinya...." Pria itu berkata dengan begitu dalam. Bahkan ia sampai menitihkan air matanya karena menyakiti seseorang yang sangat ia cintai.
Ayra tak bisa berkata apa-apa. Dia terkejut mendengar permintaan maaf dari Er. Sejujurnya Ayra telah melupakannya karena sikap hangat Er akhir-akhir ini telah menutupi semua sikap buruk Er padanya di awal-awal pernikahan.
"Aku tidak apa-apa Kak. Karena memang Aku yang salah telah menerima tawaran Mama Via untuk menikah denganmu. Seharusnya Aku menolaknya waktu itu."
__ADS_1
"Tidak! Yang kamu lakukan dengan menerima pernikahan ini adalah tindakan yang benar, Ay. Jika waktu itu kamu menolak pernikahan ini, maka aku yang akan menyesal seumur hidup."
Ayra mengerutkan keningnya tak mengerti dengan ucapan Karel.
"Apa maksudmu, Kak? Sungguh Aku tidak mengerti."
"Jika waktu itu kamu menolak pernikahan ini, pasti aku sudah melamar Kinara. Dan Kinara lah yang pasti menjadi istriku. Mungkin waktu itu aku akan merasa bahagia. Namun saat ini pasti aku akan menyesalinya," ucapkan membuat Ayra semakin tak mengerti.
"Bukankah itu adalah impian hidupmu, Kak? Menikahi Kinara adalah impianmu selama ini. Bagaimana mungkin kau bisa menyesalinya?"
"Karena itu semua adalah palsu. Sebuah cinta palsu yang Kinara buat untuk menjerat ku selamanya agar bisa bersamanya. Namun cinta sesungguhnya dalam hatiku adalah orang lain dan bukan dirinya. Dia hanya memanfaatkan amnesia yang kualami untuk kepentingannya sendiri dan kebahagiaannya sendiri."
"Maksud Kak Er... Kak Er tidak mencintai Kinara? Tapi bukankah sejak dulu kalian selalu bersama? Bahkan di kampus pun dulu kalian terkenal sebagai pasangan yang sangat serasi." Ayra bermonolog sendiri.
"Terkadang apa yang kita lihat dengan apa yang kita rasakan itu berbeda. Ada alasan tersendiri kenapa dulu Aku selalu bersamanya bahkan terlihat seperti saat pasang kekasih. Itu karena Dia gadis yang begitu licik. Dia gadis gila yang akan melakukan apa saja agar aku selalu bersamanya, termasuk menyakiti gadisku... Gadis yang kucintai dalam hidupku selama ini."
Kening Ayra semakin berkerut. "Jika bukan Kinara gadis yang kakak cintai, lalu siapa gadis yang Kak Er cintai selama ini?" tanya Ayra penasaran. Dia sungguh tak menyangka dengan pengakuan yang tak pernah dirinya duga selama ini dari suaminya.
Er menatap Ayra begitu dalam. "Dia adalah seorang gadis yang begitu polos. Dia adalah seorang gadis yang sangat baik, manis dan menggemaskan," ucap Er sembari tersenyum. Tangannya mengapit pelan hidung Ayra yang begitu menggemaskan di mata Er.
"Gadis itu ada di depan mataku."
"M-maksud Kak Er?"
"Aku mencintaimu, Ay. Sangat mencintaimu...," bisik Er tepat di telinga sang istri.
Ayra tercekat. Berharap ucapan Er benar-benar nyata dan bukan hanya mimpi.
__ADS_1
***