
Pagi harinya, Ayra terbangun lebih awal dari Karel. Tubuhnya serasa begitu remuk atas perbuatan Karel semalam. Ia menahan perih di area sensitifnya ketika berjalan.
Dengan tertatih, Ayra berusaha keluar dari kamar Karel. Ia tidak ingin Karel melihatnya di sana dan malah akan membuat Karel semakin marah padanya.
Ayra akan merahasiakan kejadian ini dari suaminya.
***
Karel mulai membuka matanya. Kepalanya terasa begitu berat. Ia teringat kemarin ia pergi ke club malam bersama teman-temannya. Tapi Er bingung bagaimana dirinya bisa berada dalam kamarnya tersebut.
Potongan-potongan kejadiannya semalam membuatnya memijit pelipisnya. Yang Er ingat ia melakukannya dengan Kinara. Namun kini ia menyadari bahwa itu hanya mimpi. Karena tidak mungkin jika ia melakukannya dengan sang kekasih.
Er menyibak selimutnya. Dia terkejut melihat tubuhnya yang polos. Lalu pandangannya tertuju pada sprei putih yang terdapat noda darah disana. Pria itu mengusap wajahnya kasar.
"Sial! Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Aku tidak memakai pakaian? Dan noda apa ini?" ucapnya. Ia pun menyugar rambutnya kasar kala tak mengingat barang sedikitpun yang terjadi semalam.
Mungkinkah mimpi semalam adalah nyata? Namun ia tidak mendapati Kinara di dalam kamarnya. Lalu ia teringat akan Ayra. Mungkinkah ....
Er menggelengkan kepalanya. "Tidak! Aku pasti tidak mungkin melakukannya dengan gadis tak tahu diri itu," sangkalnya. Ia terus meyakinkan dirinya jika apa yang ada dalam pikirannya tidaklah benar.
Er lalu melangkah menuju bathroom untuk membersihkan tubuhnya.
__ADS_1
Setelah Er sudah rapi dengan pakaian kerjanya, pria itu langsung keluar dan berniat untuk mencari sang istri. Er ingin bertanya perihal kejadian semalam.
Ketika melihat Ayra yang duduk di meja makan, Er segera berjalan menghampirinya. Er memperhatikan Ayra dengan seksama.
"Apa Kau tahu apa yang terjadi semalam?" tanya Er.
Ayra nampak terkejut. Sejak tadi ia melamun dan tidak menyadari Er yang tiba-tiba ada di sampingnya berdiri menatapnya penuh selidik.
Ayra tergagap. Mungkinkah Er mengingat kejadian semalam? Apakah pria itu akan semakin kasar padanya jika ia mengatakan yang sebenarnya?
"Semalam kak Er mabuk, dan Kak Er juga muntah. Jadi Aku melepaskan pakaian Kak Er." jawab Ayra.
"Lalu?"
"Benarkah? Tapi bagaimana bisa ada noda darah di sprei milikku?" Er semakin memperhatikan mimik wajah Ayra untuk mencari kebohongan di sana. Namun ia tak menemukannya.
"Kemarin tangan ku terkena pisau saat memasak, dan semalam lukanya kembali terbuka saat Aku membantu melepaskan pakaian Kak Er. Dan darahnya menetes ke sprei Kak Er. Kak Er tenang saja, Aku akan mencucinya nanti," ucap Ayra.
Er menatap Ayra dengan datar. Tanpa kata iapun langsung pergi dari sana. Membuat Ayra bernafas lega.
Setelah terdengar bunyi pintu apartemen yang tertutup, tangis Ayra pecah seketika. Seandainya Er mengingat semuanya, ia tidak perlu berkata bohong seperti ini. Mungkin pernikahannya akan menjadi pernikahan yang bahagia.
__ADS_1
Di tengah tangisannya, ponselnya berbunyi tanda pesan masuk. Ternyata itu dari Arkan. Pria itu sudah menunggunya di apartemennya untuk menunggu sarapan paginya.
Ayra menghapus air matanya. Ia meyakinkan dirinya jika ia harus bisa melewati semuanya. Ayra pun segera beranjak pergi ke apartemen Arkan untuk melakukan pekerjaannya.
Ia berjalan dengan pelan karena ia masih merasakan perih di bawah sana.
Sampai di depan pintu apartemen Arkan, Ayra menghela nafasnya. Lalu ia membuka pintu apartemen tersebut.
"Pagi," sapa Ayra saat melihat Arkan yang berada di ruang tamu. Pria itu sengaja menunggu Ayra di sana.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Arkan saat melihat wajah Ayra yang nampak pucat.
"Aku tidak apa-apa. Memangnya kenapa Aku?"
"Wajah mu terlihat begitu pucat, Ayra. Mungkin sebaiknya Kamu istirahat saja, Aku akan sarapan di kantor. Aku tidak ingin Kamu sakit." ucap Arkan.
Namun Ayra bersikeras akan melakukan pekerjaannya hari ini. Ia meyakinkan Arkan jika dirinya tidak apa-apa.
Arkan akhirnya mengizinkan Ayra untuk bekerja hari ini.
Walau begitu, ia merasa sangat khawatir. Arkan sempat menawarkan Ayra untuk mengajaknya berobat, tapi Ayra menolaknya.
__ADS_1
***