
"Kau sakit?"
Er menghadapkan tubuh Ayra hi6 menghadap ke arah tubuhnya. Ayra hanya mampu menundukkan kepalanya. Dia tak ingin lagi goyah dengan sikap Er yang seperti ini.
Pelan, tangan Er mengulur menyentuh kening Ayra. "Tidak demam. Tapi memang wajahmu terlihat pucat. Kita ke dokter ya?"
Seketika itu, Ayra langsung menolaknya. Dia tak ingin Karel tahu tentang penyakitnya. Bukan apa-apa, dia hanya tak ingin pria yang memeluknya ini merasa kasihan padanya.
"Tidak usah Kak. Mungkin karena Aku anemia. Sebaiknya Kak Er segera mandi, Aku akan menyelesaikan masakanku sebentar," tolak Ayra.
"Tapi Aku masih ingin memelukmu seperti ini, Ay."
Ayra mer.emas ujung roknya. Lagi-lagi sikap Er membuat hatinya menjadi bingung.
Seharusnya Er tak bersikap seperti ini. Seharusnya Er menjaga jarak antara mereka karena yang Er cintai bukanlah dirinya. Dan sikap Karel yang seperti ini, semakin membuat cintanya tersiksa dan menjadi luluh lantak.
"Kak, tolong jangan seperti. Kau mempunyai Kinara sebagai cintamu. Lalu kenapa Kau selalu membuat sikap yang seolah-olah Kau memberikan ku sebuah harapan dalam pernikahan ini? Aku wanita Kak, dan Aku juga seorang istri. Aku pun juga mengharapkan sebuah pernikahan yang bahagia. Jika Kak Er terus seperti ini, maka Kak Er akan menyakiti Kinara dan juga Aku. Karena kami sama-sama wanita."
Er mematung kala ucapan Ayra menembus masuk kedalam gendang telinganya. Dia tak menyangka jika Ayra akan berkata seperti itu padanya.
__ADS_1
Karel sendiri juga tidak berpikir sampai ke sana. Ucapan sang istri tadi benar-benar menohok hatinya.
Karel mencintai Kinara, tapi dia juga tidak ingin melepaskan Ayra. Tak melihat Ayra sedetik saja bisa membuat dirinya kelimpungan. Apalagi jika dia memikirkan perpisahannya nanti. Karel tak ingin itu terjadi.
Ketika merasakan pelukan Karel mulai merenggang, Ayra buru-buru melepaskan diri dari pelukan suaminya.
"Oh iya Kak. Aku mau minta izin kepada Kak Er. Lusa Aku ada pekerjaan ke luar kota bersama Kak Ar," ucap Ayra dan langsung membuat Er tersadar kemudian menatap Ayra dengan tatapan terkejut.
"Kau mau ke luar kota bersama pria kurang ajar itu? Tidak! Aku tidak mengizinkan mu." Er langsung menolaknya dengan tegas.
Membayangkan Ayra yang saling mengobrol dengan Arkan saja membuat hatinya memanas. Apalagi ponselnya menjadi sasaran kemarahannya hingga ponselnya menjadi tak berbentuk lagi.
Er ingin menyimpan Ayra hanya untuk dirinya sendiri.
Sungguh egois bukan? Di satu sisi Er tak ingin putus dengan Kinara. Namun di sisi lain, dia juga tak ingin kehilangan Ayra.
"Loh... Kak Ar itu bos ku Kak. Dia membutuhkan ku untuk pekerjaannya," sarkas Ayra.
Er tahu jika ucapan Ayra memang benar. Namun membayangkan jika mereka akan selalu bersama, membuat pikiran-pikiran buruk yang akan terjadi menjadi begitu menyeruak.
__ADS_1
"Tapi dia itu sudah mempunyai tunangan Ay. Tidaklah kau mengerti itu. Bagaimana jika nanti tunangannya marah?" Er mencari alasan agar Ayra tak jadi pergi.
"Kami itu ke luar kota untuk urusan pekerjaan, Kak. Bukan untuk yang lain. Seharusnya tunangannya itu bisa mengerti. Lagipula Aku bukan seorang wanita murahan yang akan menggoda pria milik orang lain," ucap Ayra.
Namun Er langsung teringat akan hubungannya dengan Kinara. Pria itu sedikit merasa tersinggung dengan ucapan Ayra.
"Jadi menurutmu, Kinara itu gadis murahan? Seperti itu?"
Sungguh, Ayra tak bermaksud menyindir Kinara. Tapi dia tak tahan dengan Er yang selalu membatasinya dengan alasan yang begitu sukar untuk Ayra mengerti.
Jika Er tidak mencintainya, seharusnya pria itu tidak bersikap seposesif itu terhadap dirinya. Karena itu hanya akan membuat Ayra merasa memiliki sebuah harapan padahal akhirnya mereka akan berpisah nantinya.
"Aku tidak berkata seperti itu kak. Aku hanya memposisikan diri ku dalam percakapan kita saat ini. Jika Kak Er berpikir seperti itu, maka itu urusan Kak Er sendiri. Yang jelas, lusa Aku tetap akan pergi!" ucap Ayra.
Gadis itu kemudian mematikan kompornya. Tangannya dengan cepat menaruh masakan itu ke dalam wadah dan menghidangkannya di meja makan.
Sementara Er masih berdiri di tempatnya. Rasanya hatinya begitu buruk saat ini. Ayra sekarang mulai membantahnya.
Jika saja dia tak berjanji pada Nara untuk menemaninya ke luar kota juga lusa, pasti Er akan ikut Ayra dan mengawasinya.
__ADS_1