Terpaksa Menikahi Gadis Pilihan Mama

Terpaksa Menikahi Gadis Pilihan Mama
Bab 18


__ADS_3

Ayra mulai memasuki apartemen suaminya dengan menghela nafas panjang. Rasanya ia begitu malas jika harus bertemu dengan suami laknatnya itu. Suami yang bermesraan di depan istrinya sendiri dengan gadis lain.


Walaupun pernikahan mereka tak normal, tapi tetap saja di antara mereka ada sebuah ikatan yang begitu suci. Dan itu adalah ikatan pernikahan. Ikatan yang benar-benar suci untuk pasangan suami istri.


Namun rupanya itu tak berpengaruh terhadap Karel. Pria itu sudah mencemari arti sebuah pernikahan. Jadi jangan salahkan Ayra jika gadis itu menjadi istri yang pembangkang. Karena semua itu Karel lah yang memulainya.


Ayra sudah tak perduli lagi dengan sikap Karel yang kasar ataupun dengan hubungan pernikahan mereka. Toh memang sebentar lagi mereka akan berpisah.


Karel sudah mengatakan jika akan menceraikan Ayra dalam waktu dekat. Dan juga dengan penyakitnya yang semakin memburuk, membuat Ayra benar-benar tak ingin perduli dengan sikap suaminya.


Gadis yang sudah tak gadis lagi itu pun melangkah gontai menuju ke kamarnya. Rasa lelah yang mendengarnya membuatnya tak mengalihkan pandangannya dari sofa tempatnya tidur setiap malam.


Sementara di tempat tidurnya, Karel sedang duduk di sisi ranjang dengan menatap penuh arti gadis yang baru saja masuk kedalam kamarnya. Pria itu merasa kesal karena sikap acuh dari gadis yang ia benci.


Pria itu merasa lapar. Sejak siang tadi dia hanya makan sedikit. Itu di sebabkan karena pemandangan yang membuat hatinya panas ketika di restoran tadi siang.


Karel melihat ketika Arkan menangkap tubuh Ayra. Apa lagi melihat tatapan lembut Arkan kepada Ayra. Sungguh itu terus saja mengganggu pikiran dan hatinya.


Bukankah seharusnya ia senang? Karena dengan Ayra yang menyukai pria lain, akan menjadi alasan untuknya berpisah dengan gadis yang saat ini sudah tertidur pulas di sofa itu.


Karel tak perlu membuat alasan kepada orangtuanya agar bisa menceraikan Ayra.


Namun hatinya seolah tak ingin jika sang istri di miliki oleh pria lain. Karel seperti kehilangan penggemarnya. Jika sebelumnya sang istri selalu menyambutnya dengan senyum lembut ketika dirinya bangun tidur dan juga pulang bekerja, kini tak lagi dia dapatkan.


Bahkan Karel juga belum sempat mencicipi bagaimana masakan Ayra. Dan kini masakan yang setiap hari Ayra masakkan untuknya tak lagi tersaji di meja makan.


Saat ini Karel sengaja pulang cepat karena ingin makan malam di apartemen dengan masakan Ayra. Namun sayangnya ketika dia sampai di apartemen, Ayra sepertinya belum juga pulang. Dan itu semakin membuat pikiran Karel berseliweran kemana-mana. Ia sudah membayangkan jika Ayra tengah bermesraan dengan Arkan. Sungguh semua itu membuat hati Karel merasa begitu panas di buatnya.


Mengetahui sang istri seolah menyerah untuk membuatkan makanan untuknya, Karel tidak mau itu terjadi.

__ADS_1


Karel menunggu dengan gelisah seraya melirik pada jam tangannya. Ia menunggu gadis itu terbangun dan membuatkan makan malam untuknya. Namun gadis itu terlihat asyik dengan tidurnya.


Pria itu bertanya-tanya dengan hati yang begitu gelisah.


Merasa sudah hampir satu jam Er menunggu istrinya bangun, namun sepertinya tak ada hasil. Pria itu beranjak berdiri dan berjalan mendekat ke arah sofa.


Di tatapnya wajah Ayra yang saat ini terlihat begitu pucat. Apa dia sakit? Namun Karel terlalu gengsi untuk bertanya ataupun membangunkan sang istri.


Karel melihat lampu utama tak di nyalakannya. Bergegas Er menghidupkannya, berpikir jika mungkin ruangan ini terang, sang istri akan terbangun. Karel menyandarkan tubuhnya di dinding menunggu Ayra terbangun. Ternyata cara ini tak membutuhkan hasil.


"Ehem...!" Karel sengaja berdehem keras. Namun seolah tak di gubris.


Merasa tak mendapatkan respon, Karel mendekat dan mengulurkan tangannya menyentuh kening Ayra dan merasakan suhu tubuh gadis ini. Dan normal saja. Suhu tubuh masih dalam kondisi normal.


Karel menyipitkan matanya. Mungkinkah gadis ini sangat kelelahan? Dengan ragu tangan Karel terulur untuk mengguncang tubuh Ayra agar terbangun, tapi segera di urungkannya.


"Apa? Apakah ini serius?" gumam pria itu dengan frustasi.


Karel kembali ke tepi ranjangnya dan memperhatikan Ayra yang masih tertidur pulas. Wajahnya begitu damai dan terlihat begitu polos di saat bersamaan.


Pria itu mengingat bahwa selama menikah dengannya, ia samasekali tak pernah bersikap baik kepada istrinya itu. Karel bertanya-tanya, mungkinkah sang istri tak bahagia menikah dengannya?


Er menggelengkan kepalanya. Seharusnya ini yang dia inginkan. Karel tak ingin bersikap baik agar gadis ini tak berharap pada pernikahan ini. Seharusnya di antara mereka memang harus mempersiapkan diri untuk pernikahan 6 bulan ini.


Karel kembali mendekati Ayra dan duduk di pinggir sofa. Tangannya hanya mengambang di udara kala hatinya tergerak untuk membelai wajah cantik tersebut. Tapi jika Ayra tahu, ia akan kehilangan reputasinya. Er kembali mengurungkan niatnya.


"Shiit!"


Karel gusar sendiri malam ini karena sudah sangat kelaparan. Sementara istrinya sedang bermimpi indah. Mungkin bersama pria lain.

__ADS_1


Tidak! Tidak boleh! Ayra tak boleh bermimpi dengan pria lainnya. Harus dirinya yang seharusnya di mimpikan oleh istrinya itu. Sungguh sangat egois pria ini.


Karel menggeleng keras. Walaupun dia senang jika ada yang mendekati Ayra setelah perpisahan nanti, dia akan dapat bahagia bisa kembali bersama dengan Kinara kekasihnya. Namun saat ini ia merasa tak rela jika Ayra memimpikan pria lain dalam mimpinya.


"Apa dia benar-benar tidak bangun?" Karel semakin gusar.


Merasakan perutnya yang semakin lapar, Karel berjalan ke dapur dan mencoba untuk membuat makan malamnya sendiri.


Pria itu membuka kulkas dan menemukan isi kulkasnya sudah penuh. "Kapan gadis itu berbelanja?" gumamnya. Lalu pandangannya melihat ada sisa makanan di dalam sana.


Karel mengambilnya dan berniat untuk memanaskannya ke dalam microwave.


Pria itu kembali bergumam. "Aku seperti seorang pria bujang yang tak terurus." Karel terkekeh.


Setelah makanan itu sudah hangat, Karel mengambilnya dan membawanya ke meja makan. Makanan di depannya kini terlihat begitu menggiurkan. Sebelumnya Er tak pernah menyentuh apapun yang Ayra masak. Namun sekarang masakan itu sangat menggugah selera, atau mungkin karena hormon kelaparannya yang begitu mencuat.


Er mulai menyuapkan makanan itu kedalam mulutnya. "Ini benar-benar enak," puji Er tanpa sadar. Entah karena dia terlalu kelaparan atau karena memang masakan Ayra yang memang begitu lezat.


Rasa makanan itu seolah menyihirnya, walaupun itu hanya sisa makanan. Er membayangkan bagaimana jika makanan itu baru saja di masak, pasti akan sangat terasa lebih enak lagi.


Karel masih geleng-geleng merasakan makanan yang begitu enak. Dan ia kembali manggut-manggut karena terasa semakin enak. Dia tidak tahu bagaimana caranya untuk bilang kepada istrinya jika dia ingin istrinya memasakkan makanan untuknya tanpa menurunkan harga dirinya?


Beberapa saat kemudian, saat dirinya masih menikmati enaknya makanan di depannya, Karel mendengar suara. Sepertinya Ayra terbangun.


Entah apa yang di pikirkan pria itu. Tapi dirinya harus sembunyi. Dia tidak boleh ketahuan sama sang istri.


Mendengar suara langkah kaki yang semakin jelas, dengan cepat Er bersembunyi di bawah meja dengan membawa piringnya dan memakan kembali makanan tersebut sambil mengamati pergerakan Ayra dengan indera pendengarannya.


***

__ADS_1


__ADS_2