
Terlihat jelas kecanggungan yang terjadi diantara mereka. Ayra kemudian langsung melepaskan genggaman tangan Arkan pada tangannya.
"Eum... Kak Er, kenalkan dia Kak Arkan. Tetangga sekaligus bos Aku," ucap Ayra memperkenalkan.
Ayra melihat hawa dingin menyelimuti aura Karel saat ini. Pandangannya menatap tajam kearah Arkan seolah Arkan adalah musuh yang harus di basmi.
Arkan begitu terkejut. Namun pria itu berusaha menutupinya.
"Oh, jadi Anda seseorang yang sudah membuat istri Anda menunggu dengan gelisah?" Nada suara Arkan terdengar begitu sarkas di telinga Er.
Bahkan pandangannya menjadi tak ramah seperti sebelumnya. Itu semua membuat Ayra menelan ludahnya kasar. Kedua pria di depannya benar-benar membuatnya ketakutan.
"Tapi saya tetap menjemputnya. Jadi bisakah Anda menyingkir, Tuan Arkan? Saya harus segera mengajak istri Saya untuk pulang." Er meraih tangan sang istri dan membawanya ke belakang tubuhnya.
"Bagaimana kabar kekasih Anda, Tuan Karel?" Arkan bertanya dengan tersenyum miring.
"Bukan urusan Anda!" Karel langsung menarik tangan sang istri memasuki mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana.
__ADS_1
"Aku pulang duluan ya Kak Ar? Sampai jumpa besok...!" Ayra berseru kepada Arkan. Dia merasa tak enak dengan sikap sang suami kepada Arkan.
Arkan hanya tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Ayra. Dalam hati, dia merasa begitu patah hati saat ini. Di saat dirinya mulai mencintai seorang gadis, ternyata gadis tersebut malah sudah menjadi istri pria lain.
***
Karel merasa kesal karena sang istri terlalu dekat dengan Arkan.
"Apa Kau sudah lama mengenal Arkan?"
Dan sekarang wajah Er sangat dekat dengan wajah Ayra. Kira-kira hanya dua centimeter saja. Aroma mint serta hangat nafasnya menghempas sempurna ke seluruh bagian wajah Ayra.
Jangankan untuk menjawab pertanyaan dari Er. Bernafas saja Ayra begitu kesulitan. Ayra menggigit bibir bawahnya gugup. Tak berani menatap manik mata hitam Er yang menawan.
Hingga beberapa detik kemudian, bibir Er sudah mendarat di bibir Ayra.
Jantung Ayra seperti berhenti berdetak. Terlebih ketika dirinya melepaskan gigitannya di bibir bawahnya. Refleks langsung di gantikan oleh Er yang menggigit secara lembut bibir tersebut.
__ADS_1
Li.dah Er menerobos masuk menyentuh li.dah Ayra, seolah mengajaknya untuk bergerak bersama-sama. Hanya beberapa detik sebelum Er melepaskan tautan bibirnya dan menghembuskan nafas hangat dekat sekali dengan wajah Ayra. Membuat gadis itu berkedip sekali.
"Bernafas, Ayra!" Ayra tersadar dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Er terkekeh. Namun beberapa detik kemudian, pria itu kembali menarik tengkuk Ayra dan kembali me.lum.at bibirnya lagi.
"Jika Kau tidak ingin terjadi hal yang lebih lagi, Kau harus berhenti terus menggigit bibir bawahmu di depanku, terutama di depan pria lain. Apa Kau mengerti?" ucap Er.
Nafas keduanya masih terengah-engah setelah ciuman panjang yang membuat seluruh tubuh keduanya seakan mati rasa.
Ayra hanya mengangguk seperti orang bodoh. Er mengusap lembut bibir Ayra yang terasa sedikit kebas dan tentunya basah.
"Bibirmu sangat manis. Aku menyukainya." Setelah mengatakan itu, Er kembali menjalankan mobilnya seolah tak terjadi hal apapun dengan mereka barusan.
Bahkan Er bernyanyi mengikuti lirik lagu yang dia nyalakan dalam mobilnya.
Ayra sendiri, jangan di tanya lagi. Nyawa gadis itu seolah lepas dari tempatnya. Bayang-bayang hangat bibir Er yang begitu lembut dan basah seolah terus terputar indah di kepalanya. Sudah di pastikan jika malam ini Ayra tak akan tidur nyenyak.
***
__ADS_1