
"Apa perkataan ku telah mematahkan hatimu?" tanya Er.
Ayra terlihat menundukkan kepalanya. Dan itu semakin menambah keyakinan Er jika Ayra sebenarnya menyukai Arkan.
'Semudah itukah dia jatuh cinta pada seorang pria? Mereka baru bertemu beberapa bulan saja, tapi Ayra sudah jatuh cinta pada pria seperti Arkan. Apa dia sebodoh itu? Dia pasti percaya saja ketika Arkan mengatakan jika dia tidak punya kekasih. Lihat saja kalau sampai Ayra berani menyukai Arkan. Aku akan pastikan Ayra keluar dari perusahaan Arkan dan akan ku sembunyikan dia ke tempat yang jauh agar pria itu tak bisa menemukan Ayra lagi. Aku sangat tidak suka milikku di sentuh pria lain.' batin Er.
"Maksud Kak Er?" Ayra menatap Er penuh tanya.
"Kau pasti sebenarnya menyukainya kan. Terlihat jelas di wajahmu itu kalau Kau terlihat kecewa ketika Aku mengatakan jika Arkan mempunyai seorang tunangan."
Er berkata dengan sinisnya.
"Bukan Aku yang menyukainya, tapi Mita yang menyukai Kak Arkan."
Er menaikkan sebelah alisnya mendengar penuturan Ayra. "Mita?"
Ayra mengangguk. "Iya Kak. Dia teman kantorku. Tadi Aku mengatakan padanya jika Kak Arkan tidak memiliki seorang kekasih. Jika dia tahu kalau Kak Arkan mempunyai seorang tunangan, pasti dia akan sangat kecewa," ucap Ayra sedih.
Ada perasaan lega yang melingkupi hati Er mendengar cerita sang istri. Jadi bukan sang istri yang menyukai Arkan melainkan teman istrinya. Dan semoga saja itu benar.
"Sebaiknya Kau mengatakan kebenarannya kepada temanmu itu. Dari yang ku dengar dari Papa, kakeknya akan segera menikahkannya dengan segera."
"Lalu bagaimana Aku harus mengatakannya pada Mita Kak?" tanya Ayra yang menurut Er ekspresinya begitu menggemaskan.
'Kenapa dia selalu saja memikirkan perasaan orang lain?'
"Katakan saja jika Kau mengetahui kebenarannya hari ini. Pelan-pelan saja mengatakannya, dia pasti akan mengerti," ucap Er memberikan solusi.
Ayra menganggukan kepalanya begitu lucu. "Baiklah, akan ku coba."
__ADS_1
Rasanya Er tidak tahan untuk mencubit pipi Ayra. Gadis itu terlihat sangat lucu menurut Er. Hingga akhirnya Er mengusap lembut rambut Ayra dengan tersenyum.
Ayra terlihat begitu nyaman ketika Er mengusap lembut rambutnya. Dan itu membuat Er tak tahan untuk tidak jatuh cinta pada Ayra.
"Bagaimana jika hari ini kita berbelanja bersama? Sepertinya bahan masakan di rumah sudah hampir habis."
Ayra tersenyum menatap Er lalu mengangguk antusias.
Er akhirnya menjalankan mobilnya menuju pusat perbelanjaan. Yang ia lakukan ialah mendorong troli sementara Ayra yang memilih beberapa sayuran dan juga bahan masakan lainnya.
Sejujurnya inilah yang Er inginkan ketika bersama dengan Kinara. Namun Kinara tidak terlalu suka dengan urusan memasak.
Dulu ketika dirinya masih kecil, Mama Via dan Papa Bintang sering berbelanja bersama seperti ini. Makanya dia juga ingin merasakan hal yang Mama dan papanya lakukan. Karena menurutnya ini adalah momen romantis.
Kini mereka sudah selesai berbelanja dengan menenteng kantong plastik berisi belanjaan mereka. Namun tiba-tiba saja Er menarik Ayra dan bersembunyi di balik tembok. Sepertinya Er melihat seseorang.
Ternyata ada Kinara dan juga Deni di sana.
Demi apapun Er merasa marah melihat pria bernama Deni membentak Nara seperti itu. Selama ini Er tidak pernah membentak ataupun memarahi Kinara hingga menangis seperti itu.
Er berniat menghampiri kedua orang tersebut, namun Ayra menahannya.
"Kak Er mau kemana? Menghampiri mereka? Kak Er mau pukul Mas Deni? Sebaiknya Kak Er jangan terlalu gegabah. Mas Deni itu orang yang licik, sebaiknya kita dengarkan dulu apa yang mereka bicarakan." ucap Ayra.
Er menyipitkan matanya. Dia terkejut karena Ayra seolah mengenal pria bernama Deni tersebut.
Er pun akhirnya mengangguk dan memperhatikan Deni dan juga Nara dari balik tembok bersama dengan Ayra.
Sejujurnya Ayra juga terkejut melihat Kinara yang ternyata memiliki hubungan dengan Deni.
__ADS_1
"Dia sulit di taklukkan. Tidak seperti Karel. Dan dia terus saja memintaku untuk tidak dengannya. Kau tahu kan Aku tidak bisa melakukannya."
Er dan Ayra tampak begitu terkejut mendengarnya. Mereka saling bertatapan satu sama lain mendengar perkataan dari kedua orang yang mereka selidiki itu.
"Kita sudah sering tidur bersama, jadi apa salahnya jika Kau juga tidur dengannya. Tidak ada bedanya kan?" Deni tersenyum sinis menatap Kinara.
"Jadi Kau mau menjual ku? Kau sungguh tega! Aku bukan pe.l.a.cur. Kau tahu kan jika Aku melakukan semua yang Kau perintah demi anak kita!"
Ayra sangat terkejut. Gadis itu di rundung kemarahan. Rasanya dia tahu sikap Nara berubah pasti karena Deni. Dengan bersungut-sungut Ayra hendak menghampiri kedua orang tersebut. Dia ingin melabrak Deni karena sudah mengancam temannya.
Namun kini giliran Er yang menghentikan dirinya.
"Aku mau keluar Kak, biarkan Aku menghajar pria b.re.ngsek itu!" ucap Ayra pelan. Bahkan matanya sudah begitu memerah.
"Kita dengarkan saja dulu." tahan Er.
"Ya, Kau memang melakukannya demi anak kita. Tapi yang Kau lakukan dengan Karel itu apa. Kau tidak mendapatkan apapun selama ini dengannya. Apa Kau mencintainya? Aku tahu Kau begitu terobsesi padanya." Deni menyeringai.
Sementara Kinara terdiam. Tangannya mengepal. Memang dia begitu menginginkan Er untuk menjadi miliknya, namun dia juga tidak ingin jika ada yang tahu tentang rahasianya itu.
Sementara Er sudah tak ingin lagi mendengar pembicaraan mereka. Sudah cukup informasi yang dia dapatkan ini.
"Sudah jangan mencampuri urusan mereka. Lebih baik kita segera pulang," ajak Er.
"Tapi Kak. Bagaimana kalau pria itu menyakiti Nara?"
"Sudahlah, itu bukan urusan kita."
Er menarik Ayra menuju mobil dan melajukannya kembali ke rumah mereka.
__ADS_1
***