
"Selamat pagi, Tuan Karel." Klien tersebut mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Er. Dan di sambut oleh sang pemilik perusahaan.
Ekor mata Er melirik sekilas ke arah perempuan di samping kliennya itu yang saat ini juga tengah tersenyum menatapnya. Er pun menyambut jabatan tangan darinya.
"Selamat pagi, Tuan." Perempuan itu sedikit membungkuk menyapa Karel kemudian mereka semua kembali duduk.
Er masih menatap sosok gadis yang sangat di kenalnya itu dengan pikiran yang menerawang entah kemana.
***
Karel di buat takjub ketika melihat sekretaris Arkan yang dengan cekatan memberikan visi misi dari kerjasama yang akan mereka lakukan. Pria itu tidak pernah tahu jika sang istri secerdas itu.
Kini tinggal melakukan tandatangan untuk keduanya.
Asisten Karel senang karena saat ini perusahaan bos nya dapat bekerjasama dengan perusahaan milik Arkan yang tak kalah tersohornya.
Setelah Arkan membubuhkan tandatangan pada surat kontrak keduanya, kini tinggal Er yang juga harus menandatanganinya.
Namun tatapan pria itu seolah kosong. Membuat asistennya sedikit menyenggol bos-nya untuk menyadarkannya.
"Tuan...!" panggil Dion.
"Ah, iya."
"Sekarang giliran Anda yang menandatanganinya, Tuan."
Seperti orang bodoh, Er terlihat tak fokus saat ini. Sedari tadi pria yang ia ajak kerjasama terlihat begitu perhatian pada sekretarisnya. Melihat hal tersebut, membuat Karel merasa tak nyaman.
Hingga saat Arkan dan Ayra hendak kembali menjabat tangan Er ketika mereka akan meninggalkan ruangan, otak Karel masih belum fokus.
"Tuan!" Dion berseru sedikit lantang. Dan berhasil. Karel tersadar, ia pun menyambut jabatan tangan Arkan dan Ayra.
"Semoga kerjasama kita dapat berkembang pesat, Tuan Karel," ucap Arkan.
Karel hanya menjawabnya dengan anggukan dan senyuman. Namun lebih tepatnya dengan senyum yang di paksakan. Pria itu menjadi sedikit terganggu dengan adanya Ayra di sana.
Namun dari sikap yang Ayra tunjukkan padanya, istrinya seolah tak memperdulikan dirinya dan bersikap begitu acuh. Apalagi Ayra yang selalu mengalihkan pandangannya ketika tatapan mereka bertemu. Sungguh itu begitu mengganggunya.
Karel dapat melihat dari tatapan Ayra ketika menatap Arkan. Itu begitu lembut dan dengan senyuman. Namun malah membuat hatinya terasa begitu panas.
__ADS_1
Karel tak ingin tatapan lembut itu di berikan kepada siapapun. Dia ingin senyuman itu hanya untuknya. Melihat perubahan Ayra yang begitu signifikan membuat Karel sangat-sangat tak nyaman di buatnya.
Meeting selesai dan akhirnya mereka pun mulai keluar dari ruangan tersebut. Tapi Karel terkejut saat melihat Kinara yang sudah ada di depan pintu ruang meeting.
"Maaf tuan, saya sudah menyuruh Nona Kinara untuk menunggu di ruangan anda, namun Nona Kinara bersikeras untuk menunggu Anda di sini," ucap sekretaris Karel.
Kinara dengan tanpa malunya langsung saja bergelayut manja di lengan Karel. Sontak saja membuat Ayra dan Arkan menghentikan langkahnya dan menatap ke arah dua sejoli itu.
Ada perasaan nyeri ketika melihat sang suami yang terlihat begitu mesra bersama wanita lain. Namun Ayra berusaha tak memperlihatkannya. Dia lebih memilih untuk bersikap acuh dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Apa Nona ini istri Anda, Tuan?" tanya Arkan yang kagum melihat hubungan mesra antara Karel dengan Kinara.
Ekor mata Er melirik ke arah istrinya yang terlihat begitu acuh. Kemudian dia menatap kearah Arkan yang kini bertanya kepadanya. Er hendak menjawab pertanyaan Arkan, namun Kinara lebih dulu menjawabnya.
"Sebentar lagi, Tuan. Kami berencana akan menikah sebentar lagi," sahut Kinara dengan menampilkan senyum manisnya.
Karel kembali melirik Ayra yang samasekali tak menatapnya. Rasa tak nyaman itu kembali menggerogoti pikirannya.
"Wah, selamat, Tuan Karel. Anda beruntung memiliki kekasih secantik Nona ini."
"Kinara. Nama Saya Kinara, Tuan...."
"Oh, Tuan Arkan. Perkenalkan, Saya Kinara kekasih Karel A Askara. Dan siapa gadis di samping Anda, Tuan?" Kinara melihat Ayra yang menatap kearah lain. Dia belum menyadari jika itu adalah Ayra.
"Namanya Ayra. Dia adalah sekretaris sekaligus teman dekat Saya, Nona," jawab Arkan membuat Ayra langsung menoleh ke arah Arkan, begitu juga dengan Arkan yang tersenyum menatapnya.
Kinara terbelalak. Sedari tadi atensi Kinara hanya terfokus pada Karel. Ia tak terlalu memperhatikan yang lainnya.
Melihat adanya Ayra di sana, Nara langsung memeluk pinggang Er dengan sangat posesif. Tatapannya menghunus tajam dengan tersenyum remeh pada Ayra, namun tak sedikitpun di gubris oleh istri pria yang tengah di peluknya itu.
***
Arkan menatap Ayra dari tempatnya mengemudi. Sedari tadi Ayra terlihat diam saja setelah melakukan meeting perdananya. Arkan khawatir jika gadis di sampingnya itu menjadi lelah karena pagi ini Arkan mengajaknya untuk meeting.
"Ra, Apa Kau tidak apa-apa? Maaf karena Aku membuatmu lelah," tanya Arkan merasa bersalah.
Pertanyaan itu sontak membuat Ayra langsung menoleh ke arah Arkan. Dia sedikit menyunggingkan senyum pada pria yang telah memberikan pekerjaan untuknya.
"Aku tidak apa-apa Kak Ar. Kenapa Kau berpikir membuat ku lelah dengan pekerjaan yang begitu menyenangkan ini? Aku sangat menyukainya. Tapi...,"
__ADS_1
"Tapi, apa, Ra?"
Sejujurnya Walaupun Ayra memutuskan untuk menyerah mendapatkan Karel kembali, tetap saja jika melihat kemesraan suaminya bersama dengan Kinara menjadi momok menyakitkan baginya. Karena memang sejatinya Ayra masihlah sangat mencintai Karel. Pria itu adalah cinta pertamanya dan hingga saat ini hatinya masih terpatri pada pria itu.
"Aku lapar," jawab Ayra berbohong. Ia tak ingin membuat Arkan khawatir padanya. Pria ini sudah sangat baik dengan memberinya pekerjaan.
Sementara Arkan tersenyum lega mendengar jika Ayra hanya merasa lapar. Pria itu langsung memarkirkan mobilnya di sebuah restoran untuk mengajak Ayra makan siang.
"Kenapa berhenti di sini, Kak?" Ayra mengerutkan keningnya kala mobil Arkan berhenti di depan sebuah restoran.
"Bukankah tadi Kau mengatakan jika Kau sedang lapar? Lagipula ini sudah siang. Kita harus mengisi amunisi dulu untuk melanjutkan pekerjaannya kita di kantor nanti," ucap Arkan.
"Baiklah, Tuan Arkan," jawab Ayra dengan patuh.
Akhirnya mereka pun turun dari mobil dan hendak memasuki restoran tersebut. Namun ketika Ayra baru melangkah beberapa langkah, ia merasa kepalanya terasa sedikit pusing. Hal itu membuat tubuhnya menjadi limbung dan hampir terjatuh.
Grepp... Dari belakang Arkan menangkap tubuh Ayra yang hampir saja terjatuh. Pria itu terlihat begitu khawatir.
"Kau kenapa, Ra?" Arkan begitu panik melihat kondisi Ayra saat ini.
Ayra segera bangkit dan berusaha kembali berdiri. Gadis itu memaksakan senyumnya. "Aku tidak apa-apa Kak Ar. Mungkin ini karena anemiaku kambuh lagi," jawab Ayra berbohong.
Namun tetap saja itu membuat Arkan begitu khawatir. Karena Arkan tahu tentang bagaimana kondisi Ayra saat ini sebenarnya.
"Kita ke rumah sakit Sekarang. Aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu, Ra," ajak Arkan. Namun segera ditolak oleh Ayra .
"Tidak Kak Ar. Sungguh aku tidak apa-apa."
"Sungguh?"
Ayra tersenyum mengangguk meyakinkan Arkan.
"Ehem...!" Suara deheman seseorang di belakang mereka membuat Ayra dan Arkan menoleh ke belakang.
"Tuan Karel? Anda juga kemari?" Arkan terkejut melihat Karel dan Kinara.
"Ya, Tuan Arkan. Kami sedang ingin makan siang berdua di restoran favorit kami ini," jawab Kinara.
'Ck, lagi-lagi mereka,' batin Ayra. Gadis itu menatap jengah ke arah pasangan sejoli itu. Hingga tatapannya bertemu dengan tatapan Er yang begitu tajam menatap dirinya. Ayra kembali memutuskan pandangannya. Sementara Er mengepalkan tangannya ketika Ayra begitu acuh terhadapnya.
__ADS_1
***