
Pagi harinya...
Er melihat wajah Ayra yang tampak tak bersemangat seperti biasanya.
Selama dalam perjalanan menuju ke kantor Arkan, Ayra hanya diam saja tanpa kata. Membuat Arkan merasa heran dan ingin tahu.
Ya, saat ini Ayra berangkat bersama Arkan. Tadi saat dirinya menuju halte busway, dia bertemu dengan Arkan. Dan tentunya Arkan tak membiarkan Ayra tak ikut berangkat bersamanya.
"Apa yang sedang Kau pikirkan, Ra? Apa Kau sedang ada masalah?" tanya Arkan memulai pembicaraan.
"Aku tidak apa-apa, Kak Ar. Hanya saja Aku memikirkan tentang adikku. Saat ini dia sedang sakit," jawab Ayra.
Tadi setelah keluar dari rumah, Manda menelponnya dan mengatakan jika sekarang Denis sedang demam. Namun yang menjadi titik dari apa yang membuatnya terdiam sebagian besar bukan dari adiknya yang sakit, melainkan dari perkataan Er semalam.
Untuk masalah Denis, tadi Manda mengatakan jika sudah membawa Denis berobat. Dan sekarang sudah lebih baik.
Ayra berpikir, seharusnya dirinya tak melibatkan hatinya saat menerima tawaran Mama Via untuk menikah dengan Er.
"Jadi Kau mempunyai adik, Ra? Kau tidak pernah bercerita kepadaku." tanya Arkan antusias. Semua yang berhubungan dengan Ayra selalu membuatnya ingin tahu. Padahal dirinya sudah mewanti hatinya jika gadis yang duduk di sampingnya itu telah memiliki seorang suami.
Arkan jadi kepikiran tentang penyakit Ayra. Mungkinkah suaminya juga sudah mengetahuinya? Seharusnya Karel harus lebih bisa menjaga Ayra.
__ADS_1
Namun jika terus seperti ini, mungkin Arkan tidak akan bisa lagi mencegah hatinya untuk menggantikan Karel melindungi gadis pujaan hatinya.
"Iya Kak. Aku punya dua adik di rumah ku. Sebenarnya mereka dari panti. Aku mengajak mereka bersama ku karena Aku sudah sangat menyayangi mereka. Jadi almarhum nenek mengadopsi mereka." jelas Ayra.
Arkan hanya manggut-manggut. "Yasudah, Kau jangan cemberut lagi. Apa Kau tahu jika Kau cemberut seperti ini terlihat begitu jelek?"
Mau tak mau, Ayra mengulum senyumnya menanggapi ucapan Arkan.
"Eum... Kak Ar. Lain kali biarkan Aku naik busway saja kalau berangkat ke kantor. Aku tidak enak dengan berita miring tentang kita di kantor."
Ayra memberanikan diri untuk mengatakan apa yang ada di pikirannya. Mengingat bagaimana tadi Arkan begitu memaksa dirinya untuk berangkat bersama menuju kantor.
"Kak Ar, Aku serius loh. Aku benar-benar tidak enak dengan para fans Kak Ar," ucap Ayra jujur.
Arkan menaikan sebelah alisnya. "Kau bilang Aku punya fans? Aku malah tidak tahu. Apa Kau salah satu dari fans ku juga?" goda Arkan.
"Bukan. Aku kan teman kak Arkan." jawabnya dengan polos.
Sungguh menurut Arkan Ayra benar-benar sangat polos. Rasanya dia begitu gemas dengan gadis itu. Peringatan dalam otaknya seolah tak mampu mengusir perasaan sukanya pada gadis yang sudah bersuami itu.
Arkan jadi berpikir, kenapa dirinya tidak bertemu Ayra lebih dulu? Pertanyaan tersebut memenuhi otaknya sejak dirinya mengetahui jika Karel adalah suami Ayra.
__ADS_1
Seandainya saja ada sedikit celah untuk dirinya masuk kedalam hidup Ayra, Arkan bersumpah tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan itu.
"Kau sungguh orang yang begitu jujur sekali ya Ra?"
"Bukankah kita harus jujur Kak? Bohong kan dosa," jawab Ayra.
Rasanya Arkan ingin sekali mengacak rambut Ayra dengan gemas.
"Kau memang begitu polos dan jujur Ra. Pantas saja Karel menjadikan mu sebagai istrinya."
"Hah...?"
"Kau cantik Ra." ucap Arkan yang keluar dari otaknya. Membuat Ayra menjadi bersemu karena pujian Arkan. Selama ini bahkan Er tak pernah memujinya cantik.
Melihat semu merah yang terlihat di pipi Ayra, membuat pertahanan Arkan goyah. Rasanya dia ingin sekali memiliki Ayra untuk dirinya sendiri. Tapi segera di tepis oleh otaknya.
"Ih, Kak Arkan suka gombal aja sih!"
Rasanya Arkan tak tahan lagi. Jika perbincangan ini terus di lanjutkan, Arkan yakin jika akan berakhir dengan kemarahan Ayra. Arkan tidak tahan untuk tidak mencium bibir manis gadis di sampingnya itu.
***
__ADS_1