
Kinara berjalan menuju apartemen Karel. Dalam benaknya ia sudah membayangkan bagaimana dirinya nanti akan menunjukkan bahwa Karel adalah miliknya di depan Ayra. Ia akan menunjukkan kemesraan di depan mata Ayra. Sungguh ia sudah bisa membayangkan bagaimana raut wajah Ayra nanti.
Kinara telah memiliki kunci cadangan untuk apartemen Karel. Jadi ia tidak perlu lagi mengetuk pintu jika harus memasuki apartemen tersebut.
Dibukanya pintu apartemen itu, kalau dengan langkah pasti Kinara menjadi Di mana keberadaan Karel.
"Sayang, Aku datang...."suara lantang Kinara memenuhi ruangan depan.
Namun tak ada sahutan dari sang pujaan hati. Kinara mengerutkan keningnya heran ke mana sang kekasih saat ini. Ia memutuskan untuk ke dapur.
Matanya melebar sempurna kala melihat pemandangan yang begitu menusuk matanya. Kekasihnya telah mengukung rivalnya. Dan itu membuat Kinara menjadi begitu marah.
Wanita itu langsung saja menarik tubuh Karel dengan kemarahan yang luar biasa.
"Karel! Apa yang kau lakukan dengan gadis itu?!"
"Nara. Ini tidak seperti yang kau bayangkan. Tadi aku dan dia...,"
Plak...! Kinara langsung melangkah dan menarik Ayra kemudian menampar pipinya dengan begitu keras sebelum Karel menyelesaikan ucapannya.
Pria itu membulat sempurna. Namun bukannya melerai, Karel malah terpaku melihat kemarahan sang kekasih. Dia tak berniat untuk membela sang istri.
Ekor mata Ayra yang sedikit melirik ke arah suaminya. Dia begitu kecewa melihat suaminya yang hanya diam saja ketika istrinya disakiti.
Ayra memegangi pipinya yang terasa perih akibat tamparan Kinara. Namun perih itu tak sebanding dengan luka di hatinya. Ternyata selama ini Ia memang tidak akan pernah bisa membuat suaminya mengingat dirinya kembali.
Apakah ia harus menyerah saat ini juga?
"Dasar wanita tak tahu diri! Aku sudah menganggap mu sahabat ku selama ini. Dan lihatlah yang Kau lakukan?! Kau sudah menjadi seorang pengkhianat dalam hubungan ku dan Karel. Aku membencimu Ra...! Selamanya Aku membencimu!" Nara berteriak dan mendorong tubuh Ayra hingga tersungkur. Setelahnya wanita itu pun langsung pergi dari apartemen Er.
Karel sejenak menatap ke arah Ayra. Namun beberapa detik kemudian pria itu malah memutuskan untuk mengejar Kinara, dan meninggalkan Ayra sendirian di sana dengan hati yang begitu tersakiti.
Dalam kebisuan bibirnya, air matanya luruh dari sudut matanya. Ayra memaksa tersenyum walaupun dalam hatinya menyimpan sejuta lara yang sudah menggunung.
Berkali-kali ia mendapatkan rasa sakit dari orang yang ia cintai. Rasanya saat ini dia menjadi begitu kebal akan rasa sakit yang bertubi-tubi menderanya.
Ayra memutuskan untuk bangkit. Di hapus nya air mata yang menjadi titik lemahnya.
"Aku memang sangat mencintaimu kak Er. Tapi kali ini sudah cukup. Aku tak akan lagi memaksamu untuk mengingat semua tentang ku. Mungkin Kau adalah angan yang tak akan pernah bisa ku gapai."
Ayra menahan air matanya. Ia tidak ingin di sisa waktunya, melakukan hal yang tak akan pernah berguna. Arya ingin membuat semua orang bahagia. Meskipun itu dengan melepaskan suaminya untuk wanita lain.
Tidak ingin terlarut dalam kisah cinta pilunya, Ayra memutuskan untuk kembali ke apartemen Arkan. Ayra ingin melakukan pekerjaannya disana. Walaupun tadi Arkan sudah melarangnya untuk bekerja. Namun Ayra tidak bisa jika tidak melakukan hal apapun.
***
__ADS_1
Arkan terkejut saat melihat Ayra yang kini sudah mulai membersihkan apartemen miliknya kembali. Pasalnya tadi pagi sebelum Ayra kembali ke apartemen sebelah, Arkan sudah berpesan agar Ayra harus istirahat.
Namun ternyata Ayra adalah gadis yang begitu keras kepala.
"Ra, kenapa kesini lagi? Bukankah Aku sudah menyuruh mu untuk istirahat?"
Ayra terkejut kala mendengar suara Arkan yang ternyata sudah berada di belakangnya. Ia pun langsung memutar tubuhnya.
"Eh... Kak Ar belum berangkat ke kantor?" Ayra tersenyum memamerkan giginya.
"Jangan mengalihkan pertanyaan, Ra."
"Aku bosan jika harus berdiam diri Kak. Jadi please, boleh ya Aku melakukan pekerjaan ku hari ini?" Ayra memasang wajah memelasnya agar Arkan mengizinkannya.
Arkan menghembuskan nafasnya sejenak. Sepertinya akan sulit untuk membujuk gadis di depannya itu. Lalu ia teringat dengan sesuatu. Arkan menyadari jika ternyata Ayra lah yang telah membantu pekerjaannya tempo hari.
Arkan berpikir jika dirinya memperkerjakan Ayra di kantor, dirinya akan bisa senantiasa menjaga gadis ini dengan baik.
"Ayra." panggil Arkan.
"Ya, Kak Ar membutuhkan sesuatu?"
Arkan mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang dari sana.
"Ini gaji kamu bulan ini. Untuk seterusnya kamu tidak perlu lagi bekerja di apartemen kakak."
"Kau tidak salah. Tapi pekerjaan mu yang salah. Makanya Aku ingin mengajakmu bekerja di perusahaan milik ku." Arkan terkekeh melihat ekspresi dari Ayra yang menurutnya begitu menggemaskan.
Ayra tercekat. Ia berpikir jika dirinya salah dengar. "Maksud Kak Ar?"
"Kau akan bekerja dengan ku di kantor. Mau?"
Ayra refleks langsung mengangguk. Walaupun ia masih belum mencerna secara sempurna perkataan dari Arkan. Dirinya teramat senang. Karena ini salah satu dari keinginan Ayra, yaitu bekerja di sebuah perusahaan.
Kalau begitu, Kau bisa mulai bekerja besok, Ra. Aku yang akan menjemputmu. Kita akan berangkat bersama."
Ayra tersenyum mengangguk. Ayra akan menggunakan gaji dari Arkan untuk membeli beberapa pakaian kantor untuknya nanti.
"Kalau begitu Aku mau pergi dulu Kak Ar." Ayra memutar tubuhnya hendak meninggalkan Arkan, namun suara Arkan menghentikan.
"Mau kemana?"
Ayra tersenyum menoleh ke belakang. "Aku mau belanja untuk keperluan bekerja besok, Kak Ar." jawab Ayra jujur.
"Kalau begitu biar Aku mengantarmu," ucap Arkan segera. Ia takut jika Ayra akan kelelahan dan berakhir seperti kemarin malam.
__ADS_1
"Bukankah Kak Ar mau bekerja?"
"Aku tidak ada jadwal meeting pagi ini, jadi Aku bisa menemanimu." jawabnya. Walaupun sebenarnya saat ini dirinya sudah membuat janji temu dengan sebuah perusahaan besar, namun ia tidak ingin Ayra luput dari pengawasannya. Arkan memutuskan untuk memundurkan jadwalnya pagi ini.
"Tapi nanti Kak Ar akan terlambat bekerja. Lebih baik kakak berangkat ke kantor saja, biar Aku sendiri yang akan berbelanja."
"Jangan membantah, Ayo!" Arkan langsung menggandeng tangan Ayra dan menariknya pelan keluar dari apartemennya menuju mobilnya.
Setelah membukakan pintu mobil untuk Ayra, Arkan menelpon asistennya di kantor untuk memundurkan jadwal meetingnya. Baru setelahnya Ia memasuki mobilnya.
***
"Kak Ar."
"Iya, kenapa?
"Terimakasih untuk semuanya. Kau sudah memberiku pekerjaan, dan sekarang malah membelikan ku perlengkapan kantor untuk ku. Padahal Aku sendiri kan juga punya uang gaji dari Kak Ar."
Ayra sungguh merasa tak enak hati kepada Arkan. Pria itu tak membiarkan Ayra mengurangi gaji yang dia berikan padanya.
"Simpan saja uang itu. Anggap saja ini adalah bentuk rasa terimakasih ku karena Kau sudah membantu pekerjaan ku tempo hari. Aku tahu jika yang menyelesaikan pekerjaan ku waktu itu, Kamu Ra."
***
Sementara dari sudut lainnya, Karel kini seperti melihat siluet sang istri yang tengah bersama seorang pria.
Er berjalan ke arah seseorang yang ia yakini adalah istrinya. Namun ketika sudah semakin dekat, Kinara memanggilnya.
"Karel, mau kemana?"
Er menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Kinara. Saat ini mereka memang tengah berada di pusat perbelanjaan. Karel tahu bagaimana cara untuk membujuk sang kekasih agar tidak marah lagi. Yaitu dengan cara berbelanja.
"Tadi Aku seperti sedang melihat...," Karel kembali menoleh ke arah dirinya melihat siluet istrinya tadi. Namun sudah tak ada siapapun di sana.
"Siapa?" Kinara mengerutkan keningnya.
Er menepis pikirannya sendiri. Mana mungkin Ayra bisa berada di sana? Pasti dirinya salah lihat tadi. Pikirannya.
"Ah, bukan siapa-siapa, Sayang. Apa Kau sudah selesai?"
"Emm, belum Sayang. Aku masih ingin memilih beberapa pakaian lagi, boleh kan?"
"Ambillah semaumu, Sayang." ucap Karel tersenyum. Karel selalu memanjakan Kinara.
Sementara Kinara tersenyum girang. Inilah yang ia sukai dari Karel. Ketika ia marah, dan Karel membujuknya, maka pasti Karel akan mengabulkan semua kemauannya.
__ADS_1
***