
Setelah mencoba sekian lama, akhirnya penantian Karel berujung. Sang kekasih yang begitu keras, kini dapat ia luluh kan.
Kinara mulai dapat menerima permintaan maaf dari Karel. Semua itu tentu membuat Karel begitu bahagia. Rasanya Karel seperti memenangkan sebuah lotere karena sang kekasih akhirnya luluh.
"Terimakasih, Sayang. Aku janji tidak akan pernah lagi mengecewakan mu," ucap Er.
"Tapi kamu jahat, Sayang. Kamu sudah menikahi Ayra. Aku tidak akan pernah bisa menerima milikku juga di miliki oleh Ayra. Kamu hanya milikku dan selamanya milikku." Kinara mengerucutkan bibirnya.
Dengan cepat Karel mendekap tubuh Kinara. Pria itu begitu lemah jika berhadapan dengan sang kekasih. Ia akan menuruti apapun yang Kinara inginkan.
"Iya, Sayang. Aku hanya milikmu. Terimakasih sudah memaafkan ku," ucap Karel.
"Baiklah, Aku akan memaafkan mu. Tapi Kamu harus janji tidak akan pernah memiliki cinta untuk istrimu," rengek Nara.
"Apa Kamu gila, Sayang? Yang benar saja. Mana mungkin Aku mencintai gadis menjijikkan seperti dia. Dia sudah mengkhianati mu dengan menerima menikah dengan ku. Aku sangat membencinya, mana mungkin Aku bisa mencintainya?" Karel tersenyum sengit. Tak akan pernah dia mencintai gadis seperti Ayra. Dalam hatinya tertanam jika yang dia cintai hanyalah Kinara.
"Syukurlah jika begitu. Aku sangat takut kehilanganmu, Sayang." Kinara memeluk Karel dengan begitu posesif. Ia tidak akan pernah siapapun menghalangi jalannya, termasuk sahabatnya ataupun keluarganya.
"Kau tidak akan pernah kehilangan ku, Sayang. Karena Aku akan selalu di sampingmu. Kau adalah cinta pertama ku," ucap Karel. Dia membalas pelukan sang kekasih.
***
Di sisi lainnya.
__ADS_1
Ayra menunggu suaminya hingga malam larut. Namun tak ada tanda-tanda jika suaminya akan pulang malam ini.
"Sebenarnya Kamu kemana kak Er? Kenapa sudah malam seperti ini Kamu belum juga pulang? Apa Kamu lembur di kantor?" Ayra terus bertanya dalam hatinya. Sungguh,ia begitu merindukan Er yang dulu. Er yang berjanji akan menikahinya dan hidup bahagia selamanya bersamanya. Namun kini janji itu hanyalah tinggal janji.
Cinta yang dulu ia nantikan, ternyata tak sesuai dengan angan-angannya. Karel samasekali tidak mengingat masalalunya bersamanya yang begitu indah. Kini hanya dirinya saja yang mengingat masalalu.
Ayra menuju sofa tempat dirinya tidur selama menjadi istri Er. Gadis itu mulai merebahkan tubuhnya. Rasanya ia begitu lelah. Ia pun perlahan mulai memejamkan matanya dan terlelap.
Tak berapa lama pintu apartemen terbuka. Karel pulang hampir dinihari. Ia lebih suka menghabiskan waktunya bersama dengan Kinara daripada melihat Ayra di apartemennya.
Ketika memasuki kamarnya, pria itu sejenak melirik kearah Ayra yang tertidur di sofa kamarnya. Er menatap sinis Ayra dan langsung menuju kedalam bathroom.
***
Karel berangkat pagi-pagi sekali sebelum Ayra terbangun. Pria itu merasa begitu muak melihat wajah Ayra. Melihat wajah Ayra membuatnya begitu membencinya. Karena Ayra penyebab dirinya tak bisa menikahi kekasihnya.
Beberapa menit setelah Karel berangkat bekerja, Ayra mulai terbangun. Dia mengamati tempat tidur Er yang masih rapi. Ayra berpikir jika Er tidak pulang semalaman.
Kakinya mulai melangkah. Namun ia melihat pakaian yang Er kenakan kemarin berada di keranjang kotor. Hingga gadis itu pun langsung mengetuk pintu bathroom dan memanggil nama suaminya.
"Kak Er, apa Kau di dalam?" serunya dari depan pintu. Namun tak ada jawaban. Ayra mulai membuka pintu bathroom dengan perlahan. Dan ternyata tak terkunci.
Ayra membuka pintu tersebut lebar-lebar. Pandangannya menelisik ke seluruh sudut bathroom. Namun di sana kosong melompong tak ada siapapun.
__ADS_1
"Apa mungkin kak Er masih berada di luar?" gumamnya dan segera berlari keluar kamar. Ayra mencari ke dapur, ruang tengah dan ruang tamu. Ternyata masih tidak ada.
"Kenapa Aku sebodoh ini mencintai seseorang yang samasekali tidak menginginkan ku. Lebih bodohnya lagi Aku terus saja mencintainya dan semakin mencintainya setiap hari," ucap Ayra sembari tersenyum kecut.
Hingga rasa putus asa menghujam hatinya. Ia ragu apakah Er bisa mengingatnya kembali atau tidak. Semakin hari sikap Karel menjadi semakin dingin terhadap dirinya.
Ayra memutuskan untuk segera membersihkan dirinya dan bergegas kembali bekerja di apartemen Arkan.
***
Ayra langsung saja membuka pintu apartemen Arkan dengan kunci yang sempat Arkan berikan padanya. Kemarin Arkan mengatakan jika dirinya tidak akan pulang ke apartemennya.
Namun Ayra di buat terkejut kala melihat melihat Arkan yang sedang berada di dapur untuk mengambil air putih.
"Loh, bukankah kemarin Kak Ar mengatakan jika tidak akan kembali ke apartemen ini untuk beberapa waktu? Tapi kenapa sekarang masih berada di sini? "
"Aku merindukanmu." ucap Arkan membuat Ayra terdiam di tempatnya.
Melihat Ayra yang terdiam Arkan terkekeh. Ia tahu pasti Ayra akan bersikap seperti itu.
"Maksudku merindukan masakkanmu," ucap Arkan tertawa. Ia tak dapat menahan tawanya melihat ekspresi wajah Ayra.
Seketika Ayra bernafas lega. Ia tahu jika Arkan suka sekali menggodanya dengan kata-kata yang terkadang nyeleneh. Ayra mulai bisa mengimbangi candaan-candaan. Gadis itu tersenyum. Setidaknya masih ada seseorang yang menganggap dirinya.
__ADS_1