Terpaksa Menikahi Gadis Pilihan Mama

Terpaksa Menikahi Gadis Pilihan Mama
Bab 20


__ADS_3

Karel masih tersedak di tempatnya. Ia berharap Ayra mengambilkan minuman untuknya. Namun sepertinya gadis itu tak perduli.


Er tahu jika sebelumnya gadis itu begitu perduli padanya. Perubahan pada Ayra membuat Er ingin gadis itu kembali ke dirinya sebelumnya.


Akhirnya Er mengambil minum untuknya sendiri.


"Besok Kau mau masak ap?" tanya Er setelah tersedaknya terhenti.


"Belum tahu. Tapi sepertinya Aku ingin memasak pasta saja."


Belum apa-apa Er sudah membayangkan rasa pasta buatan Ayra. Hingga air liurnya hampir saja menetes.


Er saat ini sedang memikirkan cara agar Ayra mau membuatkan bekal untuknya besok. Belum pernah ia merasakan makanan seenak masakan Ayra. Bahkan masakan Kinara pun kalah jauh dengan istrinya.


Sejujurnya Ayra ingin menawarkan jika pria di depannya itu mau. Namun ia urungkan karena itu pasti akan sia-sia.


Ayra kembali memakan sup yang tinggal sedikit itu. Tanpa sadar Er menopang dagunya menatap Ayra.


'Aku tidak pernah tahu jika ternyata Kau adalah gadis yang unik. Perhatian mu membuat ku luluh. Aku tak pernah bertemu dengan gadis yang sepertimu.' batin Er tanpa sadar.


Er akui ucapan dalam hatinya. Perhatian Ayra sebelumnya membuat Er menyadari jika tidak ada seseorang gadis yang begitu perhatian padanya, termasuk Kinara, kekasihnya.


Ayra berharap agar Er segera masuk ke kamar atau kemanapun. Ia sungguh tak nyaman dengan tatapan Er yang di berikan kepadanya.


"Aku akan membantumu mencuci piring kotor setiap hari," ucap Er tiba-tiba. Membuat Ayra menyipitkan matanya.


"Tidak usah, Aku terbiasa mencucinya sendiri," tolaknya. Er kembali merasa geregetan sendiri di buatnya.


Pria itu lantas menyugar rambutnya dengan asal. Harus dengan cara apalagi gadis di depannya itu dapat kembali perhatian lagi padanya.


Bahkan Kinara sang kekasih tak pernah memberikan perhatian yang mendetail seperti yang Ayra berikan sebelumnya.


Pria itu tak pernah membandingkan hal tersebut sebelumnya. Namun entah mengapa kini ia malah membandingkan perhatian dari Kinara dan juga Ayra.


Er tahu betul jika Kinara lebih sering menghabiskan waktunya dengan berbelanja dan juga merawat dirinya. Apalagi ketika berkumpul dengan teman sosialitanya. Walaupun kekasihnya juga terkadang membuatkan makanan untuknya, namun itu masih bisa di hitung beberapa kali saja.


Er jadi berpikir, apakah nanti Kinara juga akan membuatkan bekal makan siang untuknya? Apakah Kinara akan menyiapkan air hangat dan juga pakaian kerjanya setiap hari? Pria itu terus bertanya-tanya.


Er menghela nafas. Semua sikap yang Ayra berikan padanya membuatnya jadi tak tenang. Er ingin Ayra kembali perhatian padanya.


Er memang tak pernah menyuruh Ayra untuk memberikan perhatian padanya. Namun ia tidak pernah menjumpai perhatian seperti yang di berikan Ayra sebelumnya. Pria itu merasa kehilangan.


***

__ADS_1


Pagi harinya.


Er terbangun lebih dulu dari pada Ayra. Pria itu menunggu sang istri bangun. Rencananya pria itu ingin membantu Ayra untuk memasak pagi ini. Siapa tahu saja istrinya itu akan berbaik hati membuatkan bekal makan siang untuk dirinya.


Sementara Ayra merasa sikap Er yang aneh. Dan perubahan sikap Er terjadi dari semalam.


Pagi ini ia di buat pusing saat Er selalu saja mengganggu dirinya. Apalagi ketika membuat sarapan. Sejujurnya Ayra ingin membuat sarapan untuk dirinya sendiri dan juga untuk Arkan. Namun melihat Er yang menunggu dirinya memasak, Ayra memutuskan untuk berbaik hati membuatkan Er juga.


"Aku akan mencuci piring," ucap Er bangkit dari tempat duduknya berniat untuk membantu Ayra. Pokoknya ia harus dapat sarapan dan juga bekal makan siang.


"Tidak ada piring kotor." Er menatap ke arah sink yang ternyata memang tak ada piring kotor di sana.


"Kalau begitu Aku akan membantumu memotong sayuran."


"Tidak perlu!"


Pria itu kembali berdiri di samping Ayra. Ia memutar otak cerdasnya agar bisa menikmati masakan Ayra pagi ini.


"Aku akan mengantarmu bekerja hari ini." Ayra bahkan mengiris tangannya sendiri mendengar ucapan Er barusan. Mungkinkah pria ini sedang mabuk?


Dengan cepat Ayra segera mencuci tangannya dan tak segera menanggapi ucapan suaminya.


"Kita akan berangkat bersama," putus Karel. Ayra masih membeku di tempatnya. Perubahan sikap Er yang tiba-tiba membuat gadis itu terkejut. Selama ini suaminya tak pernah perduli padanya. Bahkan Er tak pernah menganggap dirinya ada.


"Tapi Aku juga ingin sarapan di apartemen pagi ini," tambah Er.


Gadis itu terkejut saat tiba-tiba saja Er sudah berdiri tepat di hadapannya. Tubuhnya semakin membeku kala mata mereka bertemu.


Saat Ayra masih membeku di tempatnya, tiba-tiba ia merasakan sebuah kecupan lembut di bibirnya.


***


Ayra masih terdiam. Pikirannya melayang ke kejadian pagi ini. Er menciumnya? Sungguh? Dan dengan sadar? Ayra masih tak percaya. Semua itu seolah mimpi.


"Er masih menatap wajah Ayra yang saat ini terlihat begitu bingung. Dan itu menjadi pemandangan menggemaskan menurut Er. Pria itu ingin kembali merasakan bibir lembut Ayra. Pagi ini pria itu sungguh melupakan kekasihnya.


Istrinya sepertinya membuat Er lupa akan hal tersebut. Ia lebih memilih memandangi wajah cantik Ayra yang beberapa hari ini begitu mengganggunya karena sikap acuh sang istri.


Salahkah jika dirinya mencium istrinya? Kenapa tiba-tiba dirinya menjadi sangat ingin memeluk tubuh mungil istrinya. Er tak bisa menjelaskan apa yang di rasanya.


Er berdiri tepat di depan Ayra. Menatap dalam pada mata gadis cantik ini. Namun Ayra segera mendapatkan kesadarannya. Gadis itu tak ingin lagi tertipu. Ia sedikit mendorong tubuh Er ketika pria itu semakin mendekati.


"Kak Er Apa-apaan? Kenapa Kak Er mencium ku? Jika Kinara tahu, pasti dia akan sangat marah padaku." Ayra memundurkan tubuhnya. Namun tangan Er meraih pinggang gadis itu dan menariknya hingga posisi mereka menjadi berpelukan.

__ADS_1


"Bisakah kita memulai semuanya dari awal?"


Ayra menyipitkan matanya menatap wajah Er yang begitu dekat. "Maksud Kak Er?"


"Aku ingin kita menjalani kehidupan rumah tangga ini sebagaimana mestinya sepasang suami istri pada umumnya. Dalam dua bulan ini Aku ingin lebih mengenal mu." Perkataan Er membuat Ayra berdesir.


"Seperti kesepakatan yang Kau ucapkan waktu itu. Aku akan mencoba untuk berusaha menerimamu. Jika dalam dua bulan ini ternyata Aku tidak memiliki rasa padamu, maka Aku akan menceraikan mu. Tapi jika Kau mampu membuat ku jatuh cinta padamu, maka Aku akan memutuskan Kinara," ucap Er.


Ayra tertegun. Ada rasa senang bercampur sedih yang ia rasakan.


Ayra tak munafik. Dia memang ingin sekali merasakan bagaimana di cintai oleh suaminya. Namun disisi lain, ia takut jika penyakitnya akan merenggut nyawanya dan akan membuat Er terluka nantinya.


"Aku...." Belum sempat Ayra menjawabnya, terlihat darah merangkak keluar dari hidung Ayra. Membuat Er terkejut dan segera mengambil saputangan miliknya untuk menyumbat darah dari hidung Ayra.


Er merasa sangat khawatir. Ia segera mendudukkan tubuh Ayra di kursi dan sedikit mendongakkan kepalanya sang istri.


"Ay, Kau kenapa?"


"Aku tidak apa-apa, ini akan hilang sebentar lagi," jawab Ayra.


"Apa Kau sering mengalaminya? Kita periksa ke dokter ya?" Er terlihat khawatir. Namun Ayra segera menolaknya. Ia meyakinkan jika dirinya tidak apa-apa.


"Sungguh Kak Er, Aku tidak apa-apa. Lihatlah, ini sudah tidak keluar lagi kan?" Ayra mulai melepaskan saputangan milik Er.


Darah itu sudah tak merangkak keluar lagi. Tapi tetap saja Er merasa khawatir.


"Tunggu sebentar, Aku akan mencuci saputangannya," ucap Ayra. Ia hendak melangkah namun Karel menghentikannya.


"Tidak usah di cuci. Aku masih memiliki banyak. Lebih baik sekarang Aku mengantarmu istirahat ke kamar. Wajah mu begitu pucat. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu."


Ayra tertegun. Benarkah pria ini adalah Er yang biasanya? Kenapa pria ini tiba-tiba menjadi sangat perhatian padanya? Bahkan sikap Er menjadi begitu lembut padanya.


"Kenapa tiba-tiba Kak Er begitu perhatian padaku?" Kata-kata itu akhirnya lolos dari bibir Ayra.


"Aku sudah katakan padamu jika Aku ingin di sisa perjanjian kontrak yang Kau ajukan waktu itu, kita menjalani pernikahan ini seperti seorang suami istri pada umumnya. Jadi mulai sekarang Aku berjanji tidak akan bersikap kasar lagi padamu, Ayra," tegas Er sekali lagi.


***


Ayra masih serasa bermimpi melihat perubahan sikap Er yang begitu signifikan. Pagi tadi Er melarang keras dirinya untuk bekerja. Er mengatakan jika dirinya tidak ingin Ayra jatuh sakit jika memaksa bekerja hari ini.


Pria itu pun juga tidak bekerja hari ini. Bahkan Er menonaktifkan ponselnya selama seharian ini. Entah tujuannya untuk apa, yang jelas pasti Kinara akan marah-marah karena tak dapat menghubungi kekasihnya.


Ayra juga menghubungi Arkan dan mengatakan jika dirinya sedang tidak enak badan. Sejujurnya Ayra merasa sangat tidak enak kepada Arkan. Baru saja bekerja satu hari, kini malah dirinya meminta libur satu hari.

__ADS_1


Dan beruntung Arkan mengerti dan memberikannya libur bekerja. Tadinya Arkan akan bertandang ke apartemen Er untuk menjenguk Ayra. Namun segera di cegah Ayra. Ia tak ingin membuat Arkan menjadi repot karena dirinya. Ayra merasa tak enak karena sudah sering merepotkan pria itu.


***


__ADS_2