
Pagi harinya.
Ayra terbangun dari tidurnya. Gadis itu mengerjap pelan dan membuka matanya sempurna.
Ayra teringat dengan ciuman itu. Dia dan Er tengah berciuman. Benarkah itu? Apa itu bukan mimpi? Tapi kenapa terasa begitu nyata? Pikir gadis itu.
Ayra melongokkan kepalanya menatap ke seluruh ruangan kamar. Tak ada siapapun di sana. Bahkan tanda-tanda keberadaan Er pun tak ada.
Dia mulai melangkah pelan menuju ke kamar mandi guna mencari apakah suaminya ada di sana atau tidak. Dan... Kosong.
Ayra men.de.sah pelan. Dia semakin meyakini jika kemarin itu hanyalah mimpi saja. Mana mungkin Er mau mencium dirinya. Sementara suaminya itu begitu membencinya. Er selalu menyalahkan dirinya dengan pernikahannya. Ayra menganggap kata-kata Er itu mungkin juga hanya gurauan saja.
Ayra pun memutuskan untuk pergi ke kantor Arkan. Dia akan kembali bekerja hari ini.
"Ra, Kau baik-baik saja kan?" tanya Arkan saat melihat Ayra yang datang ke kantornya hari ini. Pria itu terlihat begitu cemas.
"Aku baik-baik saja, Kak Ar. Kenapa kau terlihat begitu khawatir seperti itu?"
"Aku khawatir karena kemarin Kau mengatakan sedang tidak enak badan. Jadi Aku cemas memikirkan mu. Apalagi ponselmu susah sekali di hubungi," jelas Arkan.
__ADS_1
Ayra tersenyum menatap Arkan. Dia sungguh beruntung memiliki teman seperti pria di depannya itu.
"Kak Ar jangan khawatir. Aku tidak apa-apa. Kak Ar lihat sendiri kan? Sekarang Aku sudah siap untuk melakukan pekerjaan ku hari ini."
"Tapi jika Kau sedang tidak enak badan, lebih baik Kau istirahat saja, Ra. Aku tidak ingin Kau kenapa-kenapa."
"Kak Ar, Aku tidak ingin memakan gaji buta. Cepat beri Aku kerjaan yang dapat ku kerjakan." Ayra begitu bersemangat.
Arkan menghela nafas panjang. Gadis di depannya itu memang benar-benar gigih dalam hal apapun. Pria itupun tersenyum menatap Ayra.
"Baiklah, Ayo ke ruangan ku. Banyak hal yang harus kau kerjakan," ucap Arkan pada akhirnya.
Menjelang sore, Ayra sampai di apartemen. Dia sedikit terkejut melihat Karel ada di rumah sedang menonton TV.
"Darimana?" tanya Er tanpa melihat ke arah Ayra.
"Dari bekerja. Kak Er sudah makan?"
"Belum. Bisa buatkan Aku nasi goreng seperti waktu itu?" Er bertanya dengan matanya fokus ke arah televisi.
__ADS_1
"Baiklah." Ayra meletakkan tas di kamar lalu melangkah menuju dapur.
"Sejak kapan Kau bekerja di perusahaan Arkan?"
Ayra sedikit terkejut mendengar suara Er yang begitu dekat. Ternyata pria itu sedang mengambil minuman dingin di kulkas. Mungkin tadi Ayra sedikit melamun.
"Sejak dua hari lalu," ucap Ayra singkat.
Er memang tak terlalu suka berbicara kepada Ayra. Jadi gadis itu menjawab sekenanya saja. Pikir Ayra.
"Bukankah Kau belum lulus kuliah? Bagaimana bisa di terima?"
Ayra memandang ke arah Er yang sedang bersandar di pinggiran meja dapur dengan minuman dingin di tangannya.
"Karena tanpa sengaja Aku membantunya dalam pekerjaannya, jadi dia menerima ku bekerja di perusahaannya itu," jawab Ayra dengan perasaan bangga.
Sedikit heran mendapati Er yang beberapa hari ini sering mengajaknya mengobrol seperti ini. Rasanya Ayra begitu bangga bisa di terima bekerja di perusahaan sebesar itu.
Karel tersenyum mengangguk dengan pandangan yang sukses membuat Ayra panas dingin.
__ADS_1
"Bagaimana kabar Kinara, Kak?" Ayra berusaha membunuh kecanggungan antara mereka. "Nara adalah gadis yang sangat baik. Aku sudah mengenalnya sejak di panti dulu. Kalian memang pasangan yang sangat cocok. Sebaiknya Kak Er lebih berusaha mengenalkannya lagi kepada Mama Via. Pasti nanti jika Mama dan Papa mengenalnya, mereka akan menyetujui hubungan kalian," ucap Ayra. Dan itu sukses membuat Er tertegun menatapnya.