Terpaksa Menikahi Gadis Pilihan Mama

Terpaksa Menikahi Gadis Pilihan Mama
Bab 16


__ADS_3

Malam harinya.


Setelah pulang mengantarkan dari apartemen Kinara, Karel bergegas pulang ke apartemen miliknya. Iya masih kepikiran tentang gadis yang ia lihat tadi siang ketika berada di pusat perbelanjaan.


Ketika memasuki pintu apartemennya, Karel bergegas menuju ke kamarnya. Ia ingin melihat apakah Ayra ada di apartemen. Jika benar gadis tadi itu adalah istrinya, Karel tidak akan segan-segan menghukum gadis itu. Dia tidak suka melihat Ayra berkeliaran di tempat keramaian seperti tadi siang. Jika memang praduganya itu benar.


Karel mulai membuka pintu kamarnya. Pandangan pertama yang ia lihat adalah gadis itu tengah tertidur pulas di sofa tempat biasanya.


Dia melihat dari perawatan wajah Ayra terlihat sedikit pucat dan kelelahan. Karel kembali menutup pintu kamarnya. Mungkin saja dugaannya itu salah.


Tiba-tiba dia merasa begitu lapar. Karena saking penasaran tentang gadis yang ia lihat tadi, Er belum sempat mengisi perutnya. Pria itu pun langsung menuju ke meja makan.


"Apa yang Gadis itu masak hari ini? Aku sangat kelaparan saat ini." Karel mulai mencari di mana makanan itu berada. Namun ia tak menemukan apapun di meja makan bahkan di lemari pendingin.


"Apa Gadis itu tidak memasak hari ini? Bukankah sebelumnya dia selalu membuatkanku sarapan dan makan malam? Lalu kenapa tidak ada makanan apapun? Sial! Aku sangat kelaparan saat ini."


Karena tak mendapatkan makanan di dapur, alhasil Er hanya memakan beberapa lembar roti tawar yang ada di meja makan.


"Ini lebih baik, daripada tidak sama sekali," gumamnya setelah menelan roti tersebut. Setelahnya ia kembali ke kamar dan membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya.


Pria itu memiringkan tubuhnya menatap ke arah sofa tempat Ayra tidur. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Tapi Er merasa ada sesuatu yang bergetar ketika ia menatap gadis yang tengah tertidur pulas di atas sofa tersebut. Hingga beberapa saat kemudian matanya mulai terpejam menyambut kedatangan sang malam.


***


Pagi hari.


Er menggeliat meregangkan otot tubuhnya seraya mengerjapkan matanya. Pria itu mulai terbangun.


Samar-samar Er melihat siluet Ayra yang terlihat begitu rapi. Sontak membuat Er seketika membuka lebar-lebar matanya.

__ADS_1


Pria itu menyipitkan matanya melihat Ayra yang menurutnya terlihat begitu cantik. Rambut yang di kuncir dan juga terlihat istrinya Itu mengenakan make-up tipis yang semakin membuat wajah gadis itu terlihat semakin ayu.


Er mengerjap-kerjapkan matanya guna memastikan apakah yang ia lihat itu nyata ataukah hanya fatamorgananya saja.


Karel mengucek matanya dan kembali menatap ke arah Ayra. Dan ternyata ini adalah nyata. Akhirnya pria itu mengeluarkan suaranya.


"Kau mau kemana?"


Ayra menoleh ke arah suara. Ditatapnya suaminya yang terlihat baru bangun dari tidurnya dengan menatapnya seolah bingung.


Gadis itu menatap suaminya sejenak lalu ia kembali menatap ke arah cermin mengamati dirinya sendiri apakah sudah terlihat rapi ataukah belum.


"Aku akan bekerja hari ini." ucap Ayra datar. Dia memutuskan untuk tidak lagi memperdulikan suaminya. Toh, sekarang di hati suaminya hanya ada Kinara dan Kinara. Jadi untuk apa terus membuat suaminya mengingat dirinya, jika itu hanya akan membawa sebuah luka dalam hatinya.


Ayra tampak begitu acuh sekarang. Dan itu membuat Er seakan tak rela jika dirinya di acuhkan oleh gadis itu.


Sebelumnya Ayra akan terus tersenyum menyambutnya ketika dirinya bangun tidur. Apalagi Ayra selalu menyiapkan segala keperluan Er sebelumnya.


"Kau kenapa?" tanya Er polos.


"Memangnya kenapa? Aku baik-baik saja. Bahkan lebih baik dari sebelum-sebelumnya," jawab Ayra sekenanya, kemudian dia melangkahkan kakinya pergi dari kamar tersebut.


Melihat sikap sang istri yang sedikit berkurang perhatian, membuat gejolak lain dalam diri Karel. Dia tidak ingin kehilangan Ayra menjadi acuh padanya.


Tak ingin merasa kembali kelaparan, Karel segera bergegas bersiap juga untuk pergi ke kantor. Pria itu segera menyelesaikan mandinya kemudian memakai pakaian kerjanya dengan cepat.


Karel mulai keluar dari kamarnya menuju ke meja makan. Di sana sudah tak ada siapapun. Yang ada hanyalah piring bekas sisa makan seseorang yang ia yakini adalah milik sang istri.


Karel mencari-cari sisa makanan yang ada di dapur. Dan ternyata tidak ada sisa apapun di sana. Istrinya tidak membuatkan dirinya sarapan seperti biasanya. Sungguh tidak bisa dipercaya.

__ADS_1


Pria itu duduk di kursi makan dengan jarinya yang mengetuk-ngetukkan meja. Biasanya istrinya suka bangun pagi dan menyiapkan sarapan dengan cekatan. Namun kini, sepertinya Gadis itu tak lagi ingin membuatkan sarapan untuknya. Ayra menyerah membuatkannya sarapan.


Karel gusar sendiri pagi ini, Karena dia sudah sangat kelaparan dan sang istri seperti tak menghiraukannya.


"Sebenarnya dia kenapa? Apakah Gadis itu sudah mulai menyukai pria lain sehingga dia tak lagi memikirkanku?" gumamnya. Otaknya terus saja yang memikirkan hal-hal yang berkemungkinan dengan sikap perubahan yang terjadi pada istrinya.


Ada rasa tidak rela. Namun jika itu benar-benar terjadi, bukankah akan menjadi lebih baik? Lalu untuk apa dirinya sampai sepeduli itu dengan sikap Ayra yang berubah? Lagi pula sebentar lagi mereka juga akan berpisah. Dan setelah perpisahan itu Karel dapat kembali bersatu lagi dengan Kinara kekasihnya.


Tak ingin terlambat pergi ke kantor, pria itu segera beranjak dan melangkahkan kakinya menuju mobil untuk segera berangkat ke kantornya. Semalam dia menahan lapar, sementara pagi ini, sekali lagi dia juga menahan lapar.


Sampai di kantor pria itu memutuskan untuk ke cafe dekat kantor demi mengisi perutnya terlebih dahulu. Namun sialnya asistennya menelpon jika pagi ini dia ada meeting penting dengan klien yang sangat penting.


Sungguh double sial hari ini. Karel benar-benar merasa kelaparan saat ini. Iya hanya menyeruput beberapa teguk kopi yang sudah dipesannya, kemudian segera meninggalkan kafe tersebut menuju kantornya.


"Dengan perusahaan mana sekarang kita akan meeting?" tanya Karel kepada asistennya saat sampai di ruangannya.


"Hari ini kita akan meeting penting dengan perusahaan D' Ar Corporation, Tuan. Pemilik perusahaan tersebut sudah menunggu kita di ruang meeting," ucap Dion sang asisten.


Karel menghela nafasnya sejenak. Pagi ini ia akan meeting dengan perut kelaparan. Namun ini adalah kerjasama yang harus ia dapatkan Karena perusahaan tersebut adalah perusahaan yang sangat berpengaruh. Dia tidak ingin kerjasama ini gagal.


"Apa Kau sudah mempersiapkan semuanya?"


"Sudah, Tuan."


"Bagus." Karet segera berdiri dan melangkahkan kakinya menuju ruang meeting diikuti dengan Dion di belakangnya.


Ketika pintu ruang meeting terbuka, terlihat dua orang yang sudah menunggu di ruangan tersebut menatap ke arah pintu yang terbuka.


Karel menghentikan langkahnya dan berdiri mematung menatap salah seorang yang duduk di ruang meeting yang juga menatap ke arahnya. Dia adalah seseorang yang gitu ia kenal. Dan Ia tidak menyangka jika dia bisa berada di sana duduk di samping seorang pria yang terlihat begitu berwibawa.

__ADS_1


Namun beberapa detik kemudian, Karel kembali berjalan mendekati dua orang yang kini sudah berdiri dan bersiap menyambutnya. Namun tatapanya tak lepas dari seseorang yang ia kenal dan juga sedang tengah berdiri bersiap untuk menyambutnya.


***


__ADS_2