
Makanan yang ada di piring Er hanya tersisa sedikit. Dan itu membuat Er begitu tak rela jika makanan itu cepat habis. Dia seperti anak kecil yang baru pertama kali merasakan rasanya makanan enak.
Ayra memasuki area dapur dan membuka kulkas untuk melihat apa saja yang bisa dia masak untuk makan malamnya.
Walau tak ada lagi masakkan untuk sang suami, namun tetap saja dia harus memasak untuk dirinya sendiri bukan?
Namun gadis itu lebih memilih membuat susu dan memakan roti dan juga selai. Ia sedikit santai karena tak lagi membuat makan malam untuk sang suami.
Tapi Ayra merasa heran karena seharusnya suaminya sudah pulang saat ini. Ayra sudah bisa menebak jika pasti Karel sedang berada di apartemen Kinara saat ini.
"****. Benar-benar habis!" gerutu Er pelan ketika melihat makanan dalam piringnya telah habis.
Ayra masih asik dengan roti dan segelas susu miliknya. Ia tak lagi membuatkan makan malam untuk Karel karena pria itu tak pernah menyentuhnya.
Pendengaran Ayra terganggu kala mendengar grasak-grusuk di bawah sana. Ia berniat mengambil sapu, mengira ada kucing liar atau bahkan mungkin tikus. Walaupun dia selalu menutup pintu, bisa saja kan ada kucing atau tikus yang nyasar masuk.
"Aku tak pernah membiarkan pintu terbuka. Apa ada tikus atau kucing yang masuk?" Ayra bertanya-tanya sendiri.
Pelan, Ayra membuka telapak meja. Gadis itu menganga tak percaya dengan apa yang ia lihat di bawah sana. Tangannya masih memegang sapu. Sementara pria di bawah sana juga sama halnya dengan Ayra yang menganga. Pria itu terdiam ketakutan seperti seorang pencuri.
"Tadi pulpen ku terjatuh di sini. Jadi Aku mencarinya." Karel beralasan tak masuk akal hingga membuat Ayra menyipitkan matanya.
"Pulpen?" tanya Ayra tak percaya. Untuk meyakinkan gadis itu, Karel mengangguk.
Ketika Er berusaha untuk keluar dari bawah meja, kepalanya terbentur meja yang membuat Karel mengusap kepalanya.
"Doble ****!" umpatnya.
Ayra hanya menatapnya datar. Walaupun dalam hatinya ia tertawa.
"Tadi Kak Er bilang jika Kak Er sedang mencari pulpen, lalu kenapa di tangan Kak Er ada piring?"
"Tidak tahu. Tadi di bawah meja ada piringnya, jadi sekalian Aku ambil."
__ADS_1
Niatnya bersembunyi agar tak turun harga diri, sekarang harga diri Er seolah terjatuh ke dasar jurang.
"Kenapa aneh sekali? Seingat ku, Aku tak pernah menaruh piring di bawah meja, tapi kenapa tiba-tiba ada di sana? Apa mungkin piring itu punya kaki sehingga bisa berpindah dari kulkas ke bawah meja," cibir Ayra. Dan itu sungguh membuat Er mati kutu.
Sial! Sial! Kini reputasinya sebagai seorang suami arrogant jatuh seketika.
Karel menelan ludahnya kasar. Bibirnya ingin mengatakan jika dirinya ingin di buatkan makan malam tapi gengsinya terlalu tinggi. Ia kembali mengurungkan.
Ayra sekarang sudah tak berselera lagi untuk memakan rotinya tadi. Sekarang gadis itu menginginkan sup kacang merah, sepertinya akan membuatnya segar jika di makan malam-malam seperti ini.
Ayra memutuskan untuk tak ingin menggubris suaminya. Ia lebih memilih mengambil bahan masakan untuk membuat makan malamnya sendiri.
Karel kembali duduk di meja sambil menatap Ayra yang terlihat begitu lincahnya dengan bahan masakan tersebut. Tanpa sadar dia tersenyum dan menopang dagunya melihat pemandangan di depannya.
Tiba-tiba ia menjadi sangat suka melihat tubuh kecil Ayra lincah bekerja di dapur. Apalagi kini dia tahu jika masakan Ayra begitu enak.
Tiga puluh menit berlalu. Ayra kini menyiapkan satu mangkuk dan ia isi sup kacang yang ia masak tadi. Dan sepertinya itu begitu enak. Ayra sudah tak sabar untuk mencicipi masakannya. Dia tahu jika pria di depannya itu pasti tidak akan mau memakan masakkanya, jadi ia menyiapkan untuk dirinya sendiri.
Sementara Er, perut pria itu seolah berdemo saat ini. Dia kembali merasa kelaparan.
Ayra hanya mengangguk. Kemudian ia segera duduk dan hendak menikmati hasil masakannya sendiri.
Sementara di seberang, sang suami merasa kesal karena gadis di depannya samasekali tak menawarinya. Sikap Ayra saat ini membuat Er menjadi begitu geregetan.
Harus dengan cara apalagi Er membuat Ayra menawarkan makan malam untuknya.
"Sepertinya Aku sedang sakit," celetuk Er. Sontak membuat Ayra menghentikan aktivitasnya dan menatap wajah Er yang saat ini terlihat begitu memelas.
"Biasanya orang sakit akan di berikan sup kacang merah," imbuh Karel tersenyum tanpa sadar.
Ia membayangkan jika memakan sup kacang merah dalam kondisi yang masih hangat seperti sekarang ini, pasti akan sangat enak. Membayangkannya saja membuat Er menelan ludah berkali-kali. Entah mengapa ia begitu gilanya menginginkan makanan itu.
"Oh, jadi begitu," ucap Ayra.
__ADS_1
'Hanya oh saja? Apa dia tidak ingin membuatkannya untuk ku?' batin Er meronta. Ia sungguh kesal dengan jawaban Ayra. Sungguh respon yang membuat Er kecewa.
Er ingin gadis itu perhatian padanya seperti biasanya. Apakah Ayra mulai bosan padanya? Sisi ruang hatinya merasa senang. Sebab jika mereka berpisah nanti, mereka sudah terbiasa dengan sikap asing.
"Kak Er bisa membelinya," imbuh Ayra.
Mendengarnya membuat Er semakin kecewa. Bahkan rasanya lebih kecewa dari dirinya yang kalah dari tander milyaran rupiah. Kenapa bisa seperti ini, Er tidak tahu yang terjadi pada dirinya.
Ayra meletakkan sup di atas meja. Hanya satu mangkuk, dan itu hanya untuk dirinya sendiri. Kemudian Ayra duduk dengan tenang dan mulai memakan sup tersebut tanpa menawari Er.
Sungguh, Er rasanya ingin sekali mengamuk saat ini.
"Kenapa Kau tidur seperti orang mati saja? Apa Kau tak pernah tidur? Wajahmu terlihat kelelahan. Seharusnya Kau tidak bekerja, apalagi dengan pria itu. Apa hubungan mu dengan Arkan?" Er sangat ingin mempertanyakan hal ini pada Ayra. Walaupun sebenarnya ia sudah menahannya, tapi ternyata dirinya terlalu ingin tahu tentang Ayra.
Ayra menghentikan acara makannya. Gadis itu menghela nafasnya sejenak. "Kenapa Kak Er begitu ingin tahu? Aku tak pernah berkomentar tentang hubungan mu dengan Kinara selama kita menikah. Kak Er bisa berbuat sesuka hati kak Er tanpa bertanya kepada ku. Jadi lebih baik Kak Er juga tidak usah tahu tentang diriku. Toh kita juga akan berpisah beberapa bulan lagi. Ah, sepertinya tinggal dua bulan lagi," ucap Ayra.
Seketika Er terdiam. Hatinya terasa begitu nyeri kala Ayra menyinggung tentang perpisahan mereka. Sebenarnya ada apa dengan hatinya?
Ayra kembali melahap makanannya kembali. Ia tak ingin menatap wajah Er karena hanya akan membuat hatinya perih. Ayra sedikit menunduk untuk memakan sup nya.
"Sepertinya memang ada tikus di sana," tunjuk Er ke arah sudut lemari pendingin.
Ayra mengikuti arah tunjuk Er. Benarkah? Gadis itupun juga menjadi penasaran. Ayra segera beranjak dan mengambil sapu mendekati tempat yang di tunjuk oleh suaminya tadi.
Dengan cepat Er meraih mangkuk Ayra dan memakan sup itu dengan tergesa. Walaupun tergesa, tapi sup itu sungguh sangat enak. Entah mengapa pria itu bertindak bodoh hanya demi sebuah makanan.
Sebenarnya ia bisa membeli makanan beserta restorannya. Namun semua itu mungkin tak akan sama dengan masakan Ayra.
"Mana ada tikus?" Ayra akhirnya kembali ke kursinya dan menatap Karel.
Dengan terburu-buru Er mengunyah makanan itu hingga dirinya tersedak. Itu adalah akibat dari mencuri. Er tak pernah mencuri selama ini. Ia tidak tahu kenapa demi makanan Ayra, ia bisa berbuat seperti itu. Ia melakukan itu karena tak ingin menurunkan harga dirinya.
"Perasaan tadi supaya masih penuh, kenapa tinggal sedikit?" tanya Ayra tak percaya.
__ADS_1
***