The Broken Ring

The Broken Ring
Harapan di Balik Sikap Membangkang


__ADS_3

Arfan tertegun tanpa bisa mengatakan apapun. Ada banyak hal yang berusaha dia cerna saat ini. Pertama, sikap Lalita yang berubah drastis di hadapannya, lalu juga ucapan putrinya itu tentang Riani. Kedua hal tersebut adalah sesuatu yang tak pernah ada dalam pikirannya selama ini, terutama apa yang Lalita katakan tentang Riani. Perempuan itu mencintai dirinya? Hampir saja Arfan tersedak ludahnya sendiri mendengar hal itu.


"Lita, Papa tidak tahu kenapa kamu mengatakan hal yang tak masuk akal seperti itu. Papa akan anggap kamu hanya asal bicara, jadi Papa akan pura-pura tidak mendengar apapun. Sekarang, ayo ikut Papa pulang," titah Arfan kemudian setelah terdiam cukup lama. Nada suaranya terdengar lebih rendah daripada sebelumnya, tapi tetap mengintimidasi.


"Apa Papa sungguh akan terus bersikap seperti ini? Papa tetap hanya akan mendengar apa yang ingin Papa dengar saja dan menutup telinga Papa atas apa yang tidak ingin Papa dengar, meskipun itu kebenarannya?" tanya Lalita.


"Bukankah Papa selalu bilang kalau Papa hanya ingin aku bahagia? Tapi semua tindakan Papa kenapa tidak sinkron dengan ucapan Papa? Yang Papa lakukan bukan untuk membahagiakanku tapi untuk kepuasan Papa sendiri. Papa lihat sekarang, apa aku bahagia dengan yang Papa lakukan selama ini? Tidak, Pa. Aku tidak bahagia. Rasanya Papa hanya memperlakukanku seperti sebuah boneka yang cantik. Bahkan pada perasaanku saja Papa tidak peduli! Bulshit kalau Papa bilang ingin aku bahagia!" seru Lalita lagi dengan agak emosional. Seperti layaknya sebuah bom waktu, Lalita meledak setelah sebelumnya terbiasa memendam setiap hal yang membuat dadanya sesak serta menutupinya dengan sikap ceria.


Lalita yang manis sepertinya kini tidak ada lagi. Dia sudah mati seiring dengan fakta demi fakta yang dia temukan dan hampir seluruh dari hidup yang dijalaninya itu adalah kebohongan serta rekayasa.


"Lita! Jangan kurang ajar kamu!" Arfan semakin berang.


"Papa mau menyumpahi aku anak durhaka? Katakan saja, tidak apa-apa. Karena sekarang aku memang anak durhaka! Tapi Papa mesti ingat, yang mengajari aku untuk tak mengenal belas kasihan dan tak berperasaan itu Papa sendiri."

__ADS_1


Mata Arfan membulat sempurna. Dia sungguh tak menyangka jika kata-kata yang tajam dan menusuk itu bisa keluar dari mulut Lalita, putri yang dia tahu begitu santun. Hal itu membuatnya sedikit menoleh ke masa lalu dan berusaha mengingat caranya mendidik Lalita selama ini. Ironisnya, tak sedikit pun Arfan menemukan memori di mana dirinya mengajarkan hal baik pada sang putri. Justru Riani yang melakukan semuanya. Bahkan samar Arfan mengingat bagaimana dulu Riani mengajarkan Lalita kecil berdoa setiap kali hendak makan dan tidur. Ya, perempuan yang selama ini dia anggap rendahan dan nilai di matanya tak lebih hanya sekedar pengasuh saja sebenarnya memang telah berperan besar dalam mendidik Lalita.


Arfan akhirnya mengakui dalam hati jika perannya sebagai orang tua telah banyak dia serahkan pada Riani. Selama ini, dia mau Lalita tumbuh dengan baik, tanpa mau terlibat terlalu jauh dalam setiap prosesnya. Dia selalu berpikir jika uang yang dia punya cukup untuk membuat sang putri bahagia, temasuk dengan cara menggunakan uang tersebut untuk mengatur hidup orang lain agar selalu berada di samping Lalita. Ya, kata-kata tajam Lalita barusan berhasil menampar Arfan dan menyadarkannya atas kekeliruannya selama ini. Namun, tentu saja egonya terlalu besar untuk mengaku salah di hadapan sang putri.


"Maaf, Pa. Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku tidak mau pulang bersama Papa. Aku tidak akan ikut Papa dengan melangkah menggunakan kakiku sendiri. Jika memang Papa bersikeras untuk membawaku pulang ke rumah Papa, silakan Papa minta orang-orang Papa untuk menyeretku. Aku pasti tidak akan sanggup melawan lagi dan semuanya akan berjalan sesuai dengan keinginan Papa seperti biasanya. Tapi Papa mesti tahu, saat ini hatiku benar-benar sedang terluka. Bukan hanya karena Erick, tapi justru luka terbesar yang kurasakan itu karena Papa. Aku hanya ingin Papa menyadari kalau yang Papa lakukan selama ini salah, tapi Papa sepertinya tetap merasa sudah melakukan hal yang paling benar dengan dalih demi kebahagiaanku." Lalita kembali bergumam dengan nada yang lebih rendah. Suaranya terdengar sangat sendu dan penuh dengan rasa sakit.


Bibir Arfan terkatup rapat. Matanya nyalang menatap ke arah Lalita, tapi tak ada kata yang mampu dia ucapkan. Hanya tangannya saja yang tampak mengepal kuat.


"Aku ingin Papa memperlakukanku seperti manusia, bukan boneka. Aku punya keinginan sendiri dan berhak menentukan jalan hidupku sendiri. Aku tidak mau lagi hidup dengan menjalani skenario yang Papa buat. Papa bukan Tuhan yang bisa mengatur hidup semua orang seenaknya, meskipun aku anak kandung Papa sendiri," sahut Lailta.


Dada Arfan tampak naik turun menahan semua emosi yang kini memenuhi dirinya. Dari semua hal tak menyenangkan di dunia ini, mendapatkan perlawanan dari putri semata wayangnya ini adalah sesuatu yang paling membuatnya murka. Arfan memang tipe orang yang sangat tak bisa toleran terhadap yang namanya pembangkangan.


"Baiklah, mulai sekarang, hiduplah sesuai dengan kemauanmu sana. Papa ingin lihat, apa yang bisa kamu lakukan tanpa Papa. Sepertinya kamu mesti dibuat sadar dulu jika hidupmu itu bergantung pada Papa. Justru karena hidup dalam aturan Papa, kamu bisa hidup senang. Sekarang kita lihat bagaimana kamu ke depannya tanpa kemewahan dari Papa!" Lagi-lagi Arfan membawa-bawa kemewahan sebagai ancaman, seolah semua orang yang ada di sekitarnya tidak akan bisa bertahan tanpa kemewahan tersebut.

__ADS_1


"Lihat saja, Lita. Kamu itu bukan siapa-siapa dan tidak akan bisa melakukan apapun tanpa Papa!" Arfan mengecam, lalu bangkit dan meninggalkan kamar kost Lalita dengan segenap kemarahan di hatinya. Dia tak berhasil membawa putrinya pulang dengan baik-baik, jadi sepertinya dia akan membiarkan dulu Lalita merasakan hidup tanpa sokongan darinya untuk sementara waktu.


Sementara itu, sepeninggalan Arfan, Lalita sendiri tampak tercenung dengan bulir bening hangat yang kembali jatuh membasahi kedua pipinya. Perempuan muda itu menangis dalam diam. Sungguh, tak ada hal paling membuatnya sakit selain melukai hati lelaki yang menjadi cinta pertamanya itu. Sang papa yang saat dirinya kecil dulu dia anggap sebagai seorang superhero.


"Papa benar, Pa. Aku bukan siapa-siapa dan tidak akan bisa melakukan apa-apa tanpa Papa," gumam Lalita lirih sembari menyeka air matanya.


"Aku tidak pernah berniat untuk meninggalkan Papa. Aku berjanji akan selalu berada di sisi Papa, bahkan di saat Papa tak memiliki apa-apa lagi dan semua orang nantinya Papa sekalipun. Tapi sekarang, aku ingin Papa mengerti arti sesungguhnya dari kasih sayang itu seperti apa. Aku ingin Papa memahami jika membahagiakan orang yang disayangi itu tidak harus dengan menyakiti orang lain." Lalita kembali menyeka air matanya.


"Semoga dengan sendiri dan merasa sepi untuk sementara waktu, Papa bisa menyadari jika jalan yang Papa pilih selama ini salah ... Aku sungguh ingin kembali pada Papa jika Papa sudah menyadari semuanya ...."


Bersambung ....


Sabar ya, gaesss, anak sama bapak ributnya ga akan lama, karena mereka punya ikatan yang ga bisa diputus oleh apapun. Btw, semua tokoh di cerita ini ga ada yang sempurna, ya. Semuanya punya plus minus masing-masing, begitu pun dengan Lalita. Dia punya sisi buruk di balik semua sifat baiknya, yaitu naif. Tapi semua karakter akan berkembang seiring berjalannya waktu. Jadi nikmatin aja perkembangannya di part-part selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2