The Broken Ring

The Broken Ring
Tindakan yang Riani Ambil


__ADS_3

Arfan akhirnya sadar, namun kondisinya tidak bisa dibilang baik. Tekanan darah yang terlampau tinggi, yang sebelumnya membuat dirinya sampai jatuh dan kehilangan kesadaran ternyata membawa dampak yang cukup serius bagi tubuh lelaki paruh baya itu. Dia mengalami kelumpuhan di beberapa bagian tubuhnya, temasuk pada sepasang kaki miliknya. Mulut dan bibir Arfan juga kaku, sehingga membuatnya kesulitan untuk berbicara. Hal itu tentu saja membuat Lalita amat sangat merasa terpukul dan semakin menyesali tindakannya yang menentang sang papa tempo hari.


Riani yang awalnya hanya akan membantu merawat Arfan sampai Lalita datang saja, akhirnya terpaksa tinggal lebih lama di rumah sakit. Bahkan Larisa juga akhirnya ikut bergantian mengurus Arfan saat Riani dan Laita sedang mengurus hal lain. Erlan sendiri selaku asisten pribadi Arfan sudah cukup kewalahan menangani jalannya operasional hotel. Apalagi Erick yang biasanya mewaili Arfan, serta Larisa yang juga berperan besar di hotel milik Arfan tersebut sudah tak bekerja lagi.


Dalam sekejab, semuanya menjadi berantakan. Jika situasinya tak segera ditangani dengan benar, tak menutup kemungkinan jika hal tersebut akan membuat kejayaan keluarga Baskara menjadi runtuh.


“Lita, Risa, ada yang mau Mama bicarakan,” ujar Riani setelah berbicara dengan dokter yang menangani Arfan.


Lalita dan Larisa yang sedang berada di ruang perawatan Arfan terlihat saling pandang sejenak. Sebelumnya, keduanya baru saja mengobrol dengan santai untuk pertama kalinya setelah bertemu kembali. Larisa bahkan sempat berseloroh dengan mengatakan kalau sekarang Lalita lebih gendut. Larisa dan Riani sampai saat ini memang masih belum tahu jika Lalita sedang mengandung.


“Kita bicara di luar sambil makan siang di luar,” ujar Riani lagi.


“Tapi Papa, siapa yang menjaga?” tanya Lalita.


“Mama sudah minta perawat untuk menjaga Papa sebentar. Lagipula, sekarang Papa sedang tidur, kan?” Riani menoleh sekilas ke arah Arfan yang baru saja terlelap setelah disuapi makan siang dan diberi obat.


“Iya,” sahut Lalita sembari mengangguk mengiyakan.


“Ayo. Lebih baik sekarang saja kita keluar. Mumpung Papa belum bangun,” ajak Riani.


Lalita dan Larisa pun akhirnya menurut. Mereka beranjak dari tempat duduk masing-masing dan meninggalkan ruangan tempat Arfan dirawat. Ketiganya lalu menuju ke sebuah rumah makan lesehan yang berada tak jauh dari rumah sakit. Lalita dan Larisa sedikit terkejut karena di sana sudah ada dua orang yang menunggu, Erlan dan Erick. Sekali lagi kakak beradik tersebut saling pandang dengan tatapan tak mengerti.


“Ayo, duduk. Mama yang meminta Erlan datang kemari bersama Erick,” ujar Riani seolah tahu apa yang ada di benak Lalita dan Larisa saat ini.


Mau tak mau, Lalita pun duduk di tempat yang tersedia, begitu pula dengan Larisa. Suasana canggung sangat terasa sehingga semuanya terlihat begitu kaku.

__ADS_1


“Seperti yang Mama bilang tadi, ada yang mesti Mama bicarakan pada kalian semua. Tapi lebih baik kita pesan makanan dulu. Setelah makan, baru kita bicara.” Riani mencoba mencairkan suasana.


Seorang pelayan datang untuk mencatat makanan dan minuman yang hendak mereka pesan. Tak lama kemudian, semua yang dipesan pun terhidang. Mereka akhirnya makan terlebih dahulu, meski masih dengan suasana yang masih terasa kaku.


Tanpa disadari, Erick terus melirik ke arah Lalita yang saat ini makan dengan begitu lahap. Porsi makan perempuan itu pun terlihat jauh lebih banyak daripada yang Erick ingat, seolah semua permasalahan yang ada saat ini bukannya membuatnya enggan untuk menelan makanan, tapi malah semakin berselera.


“Kamu makan sebanyak itu sekarang?” Larisa tak tahan lagi untuk bertanya saat melihat Lalita menambahkan nasi di piringnya untuk yang ketiga kalinya.


Lalita tak menjawab. Dia hanya mengangguk sembari terus mengunyah. Terang saja semua yang ada di meja lesehan tersebut melihat ke arah perempuan muda itu dengan sedikit keheranan.


Jika rata-rata dari mereka mengira Lalita terlalu stres karena banyak menghadapi permasalahan belakangan ini, lalu melampiaskan rasa stresnya dengan banyak makan, tapi tidak demikian halnya dengan Riani. Meski bukanlah sosok yang melahirkan Lalita, tapi firasat seorang ibu terasa begitu nyata bagi perempuan paruh baya itu. Sudah sejak beberapa hari yang lalu Riani curiga kalau Lalita sedang hamil, hanya saja dia terlalu sibuk mengurus Arfan dan belum sempat bertanya secara langsung pada Lalita untuk memastikan kecurigaannya itu.


“Pantas sekarang pipimu chubby, ternyata selera makanmu sedang bagus sekali.” Sekali lagi Larisa bergumam sembari meneruskan makannya yang sejak tadi tak habis-habis.


Larisa terdiam sejenak. Bukannya dia merasa tersinggung, tapi dia sendiri baru menyadari jika tubuhnya sekarang sekurus itu. Sejak keluar dari rumah Arfan dan tinggal di rumah lama sang mama, Larisa memang tak pernah lagi memperhatikan asupan nutrisi yang masuk ke dalam perutnya. Dia bahkan lebih sering makan sekali sehari karena terlalu sibuk membanting tulang membangun usaha barunya, yang rencananya akan dia gunakan untuk bertahan hidup dengan sang mama.


“Lita benar, Risa. Setelah ini, kamu mesti lebih memperhatikan pola makanmu,” ujar Riani menanggapi.


“Susah payah aku diet supaya bisa langsing seperti ini, malah disuruh makan banyak,” sahut Larisa kemudian, berusaha untuk mengelak. Dia tak ingin terlihat terlalu menyedihkan. Apalagi bukan hanya Lalita yang ada bersamanya sekarang, tapi juga ada Erlan dan Erick. Tak boleh ada yang tahu kesusahan yang dialaminya, apalagi kalau sampai ada yang mengasihaninya. Larisa tak ingin hidupnya semakin menyedihkan.


Tak ada yang bersuara lagi. Mereka semua akhirnya menyelesaikan makan siang tersebut, sebelum nantinya mulai membicaraan sesuatu yang dikatakan oleh Riani tadi.


“Jadi apa yang mau Mama bicarakan dengan mengumpulkan kita semua di sini?” tanya Lalita akhirnya. Pertanyaan yang mewakili semua yang ada di meja lesehan tersebut.


Riani terlihat sedikit menghela napasnya, sebelum kemudian mulau membuka mulut.

__ADS_1


“Tadi dokter yang menangani Papa mengatakan kalau Papa mesti menjalani terapi di Singapura supaya bisa pulih dengan lebih cepat,” ujar Riani pada Lalita kemudian membuka pembicaraan serius itu.


“Kita semua mesti bekerja sama,” tambah Riani lagi.


Terang saja semua yang mendengar ucapan Riani terlihat tak mengerti. Apalagi Erlan yang sejatinya tahu keadaan keluarga Baskara yang sebenarnya.


“Mama dan Lita akan mendampingi pengobatan papa Lita di Singapura. Erlan, Larisa dan kamu, Erick. Kalian mesti kembali mengurus hotel seperti sebelumnya,” putus Riani.


“Apa?” Larisa dan Erick bertanya bersamaan.


“Mama sangat tahu kalau kalian semua mendengar apa yang Mama katakan tadi, jadi Mama tidak perlu mengulang sekali lagi.”


“Tapi saya sudah mengundurkan diri.” Erick menyela.


“Larisa juga sudah mengundurkan diri, tapi Erlan bisa membuat kalian kembali duduk di kursimu kalian sebelumnya.”


Semuanya terdiam dan mencerna apa yang Riani ucapkan barusan.


“Seperti yang sudah Mama bilang sebelumnya, sekarang kita semua mesti bekerja sama. Kita mesti berbagi tugas sampai papanya Lita pulih kembali. Anggap saja ini sebagai balas budi pada beliau,” ujar Riani lagi dengan ketegasan yang entah dari mana datangnya.


Bersambung ….


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Semoga diberi kelancaran sampai Idul Fitri nanti.


Sebenarnya mau update dari siang tadi, tapi cuaca cukup panas, jadi puasa pertama hari ini cukup berat. Nggak bisa mikir, gaess wkwkwk.

__ADS_1


__ADS_2