
"Ya?" Erick tampak agak tak percaya dengan apa yang dikatan oleh Larisa barusan. Seketika kalimat yang sebelumnya sudah dia rangkai di dalam benak menjadi buyar.
"Pergilah. Aku harap, setelah ini kamu tidak perlu datang lagi kemari untuk menjengukku. Aku sungguh berteima kasih karena kamu sudah begitu peduli padaku. Tapi sekarang susah ada Mama dan juga Lita," ujar Larisa memperjelas ucapannya.
Erick tampak terkesiap untuk beberapa saat.
"Tapi, Risa ...."
"Jangan terus merasa kalau aku tanggung jawabmu, Erick. Kita ini tidak punya hubungan apa-apa selain mantan ipar." Larisa menegaskan.
Erick mengatup mulutnya. Tak tahu harus menanggapi seperti apa. Beberapa saat kemudian, barulah dia kembali membuka suara.
"Kamu seperti ini karena aku, Risa. Bagaimana mungkin aku tidak merasa bertanggung jawab. Aku tahu kalau aku lelaki brengsek. Aku juga tidak pantas berbicara tentang tanggung jawab padaku. Tapi tetap saja ...." Entah karena apa, kalimat yang Erick ucapkan menggantung begitu saja tanpa mampu dia selesaikan.
"Ini semua sudah menjadi keputusanku. Waktu itu, kamu tidak tahu kalau aku hamil. Aku yang memutuskan untuk menggugurkannya tanpa memberi tahu siapa-siapa. Apapun yang terjadi saat ini, semuanya adalah konsekuensi yang harus aku tanggung sendiri. Tidak ada hubungannya denganmu," ujar Larisa menanggapi. Nada bicaranya terdengar datar dan dingin, namun penuh dengan kepahitan.
"Bagaimana bisa itu tidak ada hubungannya denganku, Risa. Aku adalah ayah dari janin itu. Aku sebenarnya kecewa karena kamu memilih untuk tidak memberitahuku, bahkan menggugurkannya. Tapi bagaimana pun semuanya sudah terjadi. Aku ingin memperbaiki semuanya, meskipun agak terlambat." Erick menyahut.
Larisa menoleh ke arah lelaki itu dan menatapnya sejenak. Sejurus kemudian, sebuah senyuman asimetris tampak terulas di bibirnya tatkala memahami seperti apa sorot mata Erick saat melihatnya saat ini. Sorot mata penuh penyesalan, tapi juga disertai dengan rasa kasihan. Bukan kasih sayang, apalagi cinta. Lelaki itu hanya sedang mengasihaninya.
"Anggap saja aku kejam dan tidak berperasaan. Tapi asal kamu tahu, Erick. Saat aku memutuskan untuk memggugurkan janin itu, aku sudah bertekad untuk mengubur semua perasaanku padamu beserta seluruh kenangan kita. Mungkin selama ini aku tidak melakukannya dengan benar. Tapi sekarang tidak lagi. Aku benar-benar akan melakukannya. Meskipun kamu tidak kembali pada Lita sampai akhir, aku juga tidak akan membuka hati untukmu. Cerita tentang kita sudah berakhir sejak lama. Perasaanmu padaku juga sudah berakhir sejak lama. Andai saja kamu menyadari itu sejak awal, pasti sekarang kamu sudah bahagia bersama Lita." Larisa menjeda kata-katanya sejenak untuk menghela napas, sebelum kemudian melanjutkan kembali.
"Jadi, jangan berpikir untuk membersamaiku hanya karena kamu merasa kasihan, Erick. Aku tidak membutuhkan itu. Aku juga tidak selemah yang kamu pikirkan. Sebelumnya aku memang sempat hampir putus asa, tapi sekarang tidak lagi. Aku mampu melanjutkan hidup dengan kondisiku sekarang meski tanpa tanggung jawabmu itu. Jangan khawatir."
Kata-kata Larisa yang tajam terasa begitu menohok di hati Erick, membuatnya tak mampu berkata-kata lagi. Memang benar jika sekarang rasa cintanya pada Larisa telah menguap entah kemana. Tanggung jawab yang dia katakan juga tak lain hanya bentuk upayanya untuk menutupi rasa bersalah atas apa yang menimpa Larisa saat ini. Jika mereka benar-benar menikah, tak menutup kemungkinan dia hanya akan mengulang kesalahan untuk kedua kalinya. Mungkin saja Erick malah akan memperlakukan Larisa seperti dirinya memperlakukan Lalita dulu. Entahlah.
Erick menunduk dalam sembari menghela napas panjang. Untuk ke sekian kalinya dia telah membuat kekeliruan. Sedangkan Larisa sendiri tampak membuang muka demi menyembunyikan kepedihan atas semua kata-kata tajam yang ditujukannya pada Erick. Dia tak punya pilihan. Inilah yang harus dia lakukan agar ia dan lelaki itu tak terjerumus semakin dalam pada sebuah hubungan semu.
"Maaf ...." Hanya itu yang bisa Erick ucapkan.
__ADS_1
"Tidak, jangan beri aku maaf. Benci saja aku ...," ralatnya.
Larisa kembali menipiskan bibirnya.
"Selama ini aku sudah banyak membenci dan akhirnya itu malah membuatku jadi hancur. Aku tidak akan melakukan itu lagi. Dan kamu juga, belajarlah untuk memaafkan. Baik itu memaafkan orang lain ataupun dirimu sendiri."
Erick mendongak dan menatap Larisa dengan raut wajah yang tak dapat dijabarkan. Dadanya terasa semakin sesak karena penyesalan. Baik penyesalan terhadap sikapnya terhadap Lalita yang belum juga sirna, maupun penyesalan terhadap apa yang pernah dia lakukan pada Larisa di masa lalu. Entah apa dia mampu memaafkan dirinya sendiri seperti yang dikatakan oleh Larisa tadi.
Tak ada lagi pembicaraan setelah itu. Erick akhirnya mutuskan untuk undur diri dari hadapan Larisa. Di koridor rumah sakit dia kembali bertemu dengan Lalita yang kembali dari makan siang bersama dengan Riani. Mereka sama-sama menghentikan langkah dengan kecanggungan yang begitu terasa.
Entah bagaimana, Erick dan Lalita kemudian berakhir dengan duduk saling bersebelahan di sebuah bangku yang terletak di taman rumah sakit. Keduanya sama-sama menatap ke arah depan, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Apa kabarmu, Lita?" tanya Erick kemudian memecah keheningan.
"Baik," jawab Lalita tanpa menoleh.
"Tidak ada masalah. Janinnya sehat dan perkembangannya baik."
"Syukurlah ...." Erick bergumam.
"Aku dengar kamu mau menikahi Kak Risa?" Berganti Lalita yang bertanya.
Terang saja Erick sedikit terkejut dan menjadi agak canggung.
"Tidak perlu gugup begitu. Bahkan sejak awal mutuskan bercerai, aku berharap kamu dan Kak Risa kembali bersatu," ujar Lalita. Nada bicaranya datar, tapi terdengar tulus.
Entahlah, tak bisa dijabarkan lagi perasaan Erick saat mendengar ucapan Lalita barusan. Sepertinya mantan istrinya itu sudah membereskan perasaan terhadap dirinya dengan benar, di saat dia sendiri baru menyadari rasa cintanya untuk Lalita.
"Jika kamu menikahi Kak Risa, aku harap kamu memperlakukan dia dengan baik. Aku juga berharap perasaanmu tidak akan berubah sampai kapanpun meski Kak Risa tidak bisa memberikan kamu keturunan," ujar Lalita lagi.
__ADS_1
Ah, dada Erick semakin bergemuruh saja rasanya. Tak mungkin dia mengatakan pada Lalita jika perasaannya pada Larisa memang sudah berubah dan perempuan yang dicintainya saat ini justru Lalita. Jika dia mengakui hal itu, justru akan terdengar lucu, kan?
"Risa tidak mau menerimaku. Dia bilang, dia sudah mengubur semua perasaannya padaku sejak kita menikah. Dia juga bilang, dia akan melanjutkan hidupnya meski dengan kondisinya saat ini," sahut Erick akhirnya. Sungguh dalam hati dia pun mengakui jika dirinya terlalu pengecut. Dia tak sanggup mengakui jika Larisa menolak dirinya karena tak mau dikasihani.
Lalita terdiam sejenak, tampak mencerna apa yang Erick katakan.
"Kak Risa menolakmu?" ulang Lalita kemudian sembari menoleh ke arah Erick. Wajahnya terlihat tak percaya.
Erick mengangguk.
"Ya. Dia ingin menjalani hidupnya tanpa aku."
Suasana menjadi hening untuk beberapa saat.
"Kalau begitu, hargai keputusannya," ujar Lalita kemudian.
Kali ini mau tak mau Erick pun menoleh.
"Aku yakin Kak Risa punya pertimbangannya sendiri sebelum memutuskan hal itu. Lagipula, mungkin memang lebih baik kamu tidak kembali ke dalam hidup kami berdua, Erick. Dengan begitu, aku dan Kak Risa bisa terlepas dari belenggu masa lalu yang menyakitkan," ujar Lalita lagi setengah bergumam.
Mulut Erick sedikit terbuka karena hendak mengatakan sesuatu, tapi urung dia lakukan. Lelaki itu akhirnya memilih bungkam sembari kembali menundukkan pandangannya. Baik Larisa maupun Lalita, sepertinya memang tak ada jalan baginya untuk kembali membersamai salah satunya.
Sesal itu terasa semakin dalam dan menghujam. Entah bagaimana setelah ini Erick menjalani hari dengan perasaan bersalah dan penyesalan yang rasanya tak akan bertepi.
Bersambung ....
Maaf masih belum bisa update rutin. sebenernya pengen bisa update tiap hari, tapi kadang masih suka datang cemas dan was-was. Semalem saja rasanya gelisah, terus kena panic attack lagi, padahal udah lama nggak. Ngetik part ini aja sambil sesekali menepis perasaan gelisah dan was-was.
Harap maklum, ya.
__ADS_1