The Broken Ring

The Broken Ring
Jodoh Terbaik


__ADS_3

Lalita berdiri di balkon kamarnya sembari menatap ke arah langit malam yang dipenuhi bintang-bintang. Tampak bibirnya menyungging senyuman tipis sembari dia gelengkan kepalanya pelan. Dia merasa lucu sendiri jika ingat saat Kalandra ngotot hendak menjadi pengantin bersama seseorang yang dipanggilnya Kak Shelin tadi. Entahlah, apa yang ada dalam pikiran bocah polos itu. Setiap kali menyukai seseorang yang berlainan jenis, pasti bilang ingin menikah dengan orang itu.


Syukurlah pembahasan itu akhirnya bisa diakhiri dengan saran dari Lalita yang meminta Kalandra untuk memikirkan kembali semuanya saat sudah besar nanti. Bocah itu setuju dan akhirnya tertidur setelah kelelahan berdebat.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Rainer.


Lalita sedikit terkejut mendengar suara suaminya itu. Dia menoleh dan mendapati Rainer telah berdiri di sampingnya, padahal beberapa saat tadi Rainer masih di kamar, sibuk mengerjakan sesuatu menggunakan laptopnya.


"Bikin kaget saja," gerutu Lalita.


Rainer tertawa sejenak sembari memeluk Lalita dari belakang. Setelah itu, suasananya pun hening sejenak.


"Apa kamu tersenyum sendiri sejak tadi karena teringat ucapan Kalan?" tanya Rainer lagi.


Lalita menjawab dengan tawa renyah.


"Anak itu ada-ada saja. Semakin lama, aku jadi suka dibuat bingung dengan kata-katanya. Aku seringkali tidak tahu mesti menjawab apa," sahut Lalita.


"Dia memang anak yang tidak terduga," ujar Rainer menanggapi. "Tapi setidaknya, dia menyukai calon pasangan papanya. Awal yang bagus, kan?"


Lalita terdiam. Dia tidak tahu apakah Shelin memang benar calon istri Erick atau bukan. Jika memang iya, hal itu merupakan kabar baik.


"Benar. Awal yang bagus. Tapi kalau sampai dia merajuk saat Papanya benar-benar menikah dengan Shelin. Aku rasa itu akan cukup merepotkan." Lalita menjawab setelah terdiam selama beberapa saat.


"Tidak akan, Sayang. Kamu tidak ingat waktu itu dia bilang ingin menikah dengan beberapa orang anak perempuan di TK-nya? Supaya bisa bulan madu ramai-ramai dan seru katanya. Sekarang dia sudah tidak ingat lagi, kan?"


"Iya, benar. Semoga kata-kata konyolnya kali ini juga cepat dia lupakan," sahut Lalita.


Suasana kembali hening sejenak. Rainer masih setia memeluk Lalita dari belakang, sedangkan Lalita balas memegang tangan Rainer yang melingkar di atas perutnya. Sebuah momen sederhana yang membuat hati Lalita terasa damai dan juga hangat.


"Kamu tahu, Sayang. Dulu aku sempat tak memiliki keinginan untuk menikah ataupun memiliki anak. Aku pikir jika hal seperti itu hanya akan membelenggu kebebasanku dan membuat hidupku rumit. Aku sangat tidak suka dengan sesuatu yang merepotkan." Rainer kembali bersuara.


Lalita mendongak dan menatap suaminya itu dengan kening sedikit memgerut.


"Benar. Aku sempat berpikir jika dunia pernikahan itu pasti akan sangat membosankan dan menyiksa. Tapi saat mengenalmu dan Kalan, pandanganku akan pernikahan menjadi berubah. Saat bersama Kalan, aku menyadari jika menjadi seorang ayah itu ternyata sangat menakjubkan," ujar Rainer lagi.

__ADS_1


Lalita mendengarkan sembari kembali menatap ke arah bintang-bintang. Kata-kata Rainer terdengar manis, tapi dia justru bingung mesti menanggapinya seperti apa.


"Ternyata pernikahan itu memang sesuatu yang luar biasa. Bisa terbangun setiap pagi di samping orang yang dicintai. Bisa berbagi setiap hal dengannya, meski hanya hal-hal kecil. Semua itu terasa begitu menakjubkan. Tahu begini, dari dulu saja aku melamarmu," ujar Rainer lagi.


Lalita hanya terkekeh mendengarnya.


"Memangnya aku mau?" tanyanya.


"Benar juga. Meskipun aku menyadarinya dari dulu, kamu belum tentu mau menerima lamaranku begitu saja. Bahkan sekarang saja aku kadang merasa kalau kamu bersedia menikah denganku karena khilaf." Rainer menyahut.


Sekali lagi Lalita mendongak sembari menautkan kedua alisnya. "Apa maksudmu?"


Rainer tak langsung menjawab. Dia menghela napas sejenak sebelum akhirnya kembali membuka mulut.


"Sejujurnya, aku kadang bertanya-tanya sendiri, bagaimana sebenarnya perasaanmu padaku. Aku kadang merasa jika kamu tidak mencintaiku. Tapi di sisi lain, tidak ada alasan bagimu untuk menolakku, jadi kamu bersedia menikah denganku." Rainer bergumam dengan nada lebih rendah daripada sebelumnya.


"Tapi itu tidak masalah. Cukup aku saja yang mencintaimu. Aku akan memenuhi pernikahan kita dengan cinta. Jika aku gigih, mungkin suatu hari kamu juga akan memiliki perasaan yang sama denganku," tambah Rainer lagi sembari mencium sekilas pucuk kepala Lalita.


Terang saja kata-kata Rainer barusan membuat Lalita membeku dengan mata yang sedikit melebar. Dia sungguh tak menyangka jika sang suami akan berpikir seperti itu.


"Dari mana kamu berpikir jika aku tidak memiliki perasaan yang sama padamu?" tanya Lalita.


Rainer terdiam sejenak. Dalam hati dia merutuki mulutnya yang kelepasan, mengeluh tentang hal yang tak perlu dikeluhkan.


"Maaf, Sayang. Sepertinya aku sudah salah bicara. Lupakan saja," ujarnya kemudian sembari tersenyum.


"Tidak. Jangan suka memendam sesuatu yang mengganjal hatimu, nanti hal itu akan menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu akan meledak dan menghancurkan semuanya. Meski agak tidak enak didengar, tapi aku suka saat kamu berbicara jujur tentang apa yang kamu rasakan. Apa mungkin karena sikapku yang sering cuek padamu, makanya kamu berpikir kalau aku tidak memiliki perasaan yang sama denganmu?" tanya Lalita.


Rainer tak menjawab. Tapi diamnya itu cukup menjadi jawaban lagi Lalita. Perempuan itu benar-benar merasa bersalah. Tangannya terangkat dan menyentuh rahang Rainer dengan lembut.


"Maaf, karena sudah membuatmu merasa seperti itu. Tapi kamu salah paham, Rainer. Mana mungkin aku bersedia menikah denganmu kalau aku tidak memiliki perasaan yang sama terhadapmu," ujar Lalita.


Rainer masih terdiam.


"Kamu tahu kalau aku pernah gagal sekali. Di pernikahanku yang pertama, aku mencurahkan semua perasaanku dengan sikap dan tindakan yang berlebihan. Aku menunjukkan dengan jelas bahwa aku sangat mencintai suamiku. Tapi tindakanku itu justru menjadi sebuah bumerang untukku. Suamiku justru muak dengan semua itu. Aku justru menanggung kebencian karena terlalu menunjukkan perasaanku dengan menggebu-gebu. Makanya, sekarang aku tidak ingin terlalu kelihatan kalau aku mencintaimu. Aku tidak mau menunjukkannya terlalu jelas karena aku tidak ingin kamu juga menjadi muak denganku. Aku tidak ingin gagal juga bersamamu, Rainer." Lalita akhirnya mengungkapkan juga isi hatinya.

__ADS_1


Mata Rainer tampak menatap Lalita lekat dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.


"Semua itu terjadi karena kamu menunjukkan perasaan pada orang yang salah, Sayang. Jika kamu menunjukkan rasa cintamu pada orang yang tepat, semakin menggebu-gebu kamu menunjukkannya, maka akan semakin bahagia orang yang menerimanya. Bagaimana mungkin aku merasa muak saat kamu melakukan itu, di saat aku sendiri sangat sering mengkhayalkannya," ujar Rainer kemudian.


Lalita membalas tatapan Rainer sembari mencerna kata-kata yang diucapkan suaminya itu. Sepertinya memang sudah waktunya dia berhenti mencemaskan bayang-bayang masa lalu. Rainer bukan Erick. Mereka dua orang yang berbeda, dan yang pasti, Rainer telah mengungkapkan perasaannya berulang kali hingga tak terhitung lagi banyaknya. Entah itu dengan ucapan maupun tindakan. Lalu kenapa dirinya masih ragu untuk menunjukkan perasaannya juga?


Kedua tangan Lalita pun kembali terulur menyentuh wajah Rainer, lalu diberinya kecupan lembut di kedua pipi suaminya itu.


"Aku juga mencintaimu, Rain. Sangat mencintaimu. Kamu adalah jodoh terbaik yang diberikan Tuhan untukku. Dan aku sangat bersyukur memiliki kamu sebagai suamiku," ujar Lalita kemudian sembari memeluk Rainer erat.


Rainer tertegun sejenak, seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Sesaat kemudian, barulah dia tersadar dan membalas pelukan Lalita dengan sama eratnya. Hatinya terasa basah seakan ada hujan yang tiba-tiba datang mengguyur, membawa kesejukan yang tak terkira.


"Jadi jangan berpikir lagi kalau aku menerima lamaranmu karena khilaf, oke?" pinta Lalita.


"Oke." Rainer akhirnya menjawab dengan tersenyum cerah.


"Tapi tunggu dulu." Lelaki itu kemudian mengurai pelukannya karena teringat akan sesuatu. "Rain?"


"Kenapa?" Lalita menautkan kedua alisnya.


"Tadi kamu memanggilku Rain?" ulang Rainer.


"Iya. Kamu kan selalu rewel tentang panggilan sayang. Mulai sekarang, anggap saja itu panggilan sayangku padamu."


Rainer tampak memperlihatkan ekspresi orang bengong.


"Kenapa? Kamu tidak suka?" Lalita balik bertanya.


Terang saja Rainer kembali tertegun, sebelum kemudian dia tertawa senang.


"Hahaha ... tentu saja aku suka, Sayang. Tidak ada sebelumnya yang memanggilku Rain. Aku rasa bagus juga. Kamu tidak bisa hidup tanpa hujan, kan? Kamu akan kekeringan kalau tidak ada hujan. Tentu saja aku suka panggilan itu." Rainer menyahut.


Lalita hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja melihat reaksi Rainer. Dalam hati dia senang karena telah meluruskan kesalahpahaman di hati sang suami. Dia berharap lelaki itu menjadi orang terakhir yang singgah di hatinya dan akan menemaninya hingga tua nanti.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2