The Broken Ring

The Broken Ring
Salam Perpisahan


__ADS_3

Bukan hanya Lalita yang saat ini mematung dengan ekspresi terkejut, Erick pun sama. Lelaki itu juga tak menyangka jika kedatangannya ke rumah yang pernah ditempatinya bersama Lalita -untuk mengambil beberapa barangnya yang tertinggal- justru mengantarkannya bertemu dengan perempuan itu. Mangingat jika hari ini adalah sidang putusan perceraian mereka, Erick tentu tahu jika status mereka sekarang bukanlah suami istri lagi, melainkan hanya sekedar mantan. Jujur saja, dia sebenarnya masih belum siap berhadapan dengan Lalita dengan status baru tersebut.


“Kamu … di sini juga?” tanya Erick kemudian setelah mereka sama-sama terdiam cukup lama. Suaranya yang terdengar agak terbata, jelas sekali menunjukkan jika saat ini dirinya sedang merasa canggung luar biasa.


“Iya, ada beberapa barang yang mesti kuambil.” Mau tak mau Lalita pun menjawab. Boks yang sedang dibawanya saat ini menegaskan jika jawabannya bukanlah sekedar alasan semata.


“Aku juga datang karena ada barang yang ketinggalan,” ujar Erick lagi.


Lalita mengangguk.


“Oke,” gumamnya sembari menyingkir dari ambang pintu agar Erick bisa masuk.


Masih dengan ekspresi canggung, Erick pun melangkah masuk dan melewati Lalita. Sebenarnya, dia ingin menyapa mantan istrinya lebih banyak lagi, tapi dia merasa jika itu bukanlah hal yang tepat untuk dia lakukan saat ini.


“Erick.” Tiba-tiba Lalita memanggil tepat saat Erick sampai di depan tangga yang menghubungkan lantai satu ke lantai dua rumah tersebut.


Terang saja Erick langsung menghentikan langkahnya dan membalik badannya seketika. Dilihatnya saat ini Lalita sedang melangkah ke arahnya.


“Mumpung kita bertemu di sini, bisa bicara sebentar?” tanya Lalita sembari meletakkan boks yang dibawanya ke atas sofa yang ada di ruangan tersebut. Setelah itu, dia juga ikut duduk di samping boks yang sebelumnya dia letakkan.


Erick tertegun sejenak, tak tahu harus menjawab apa. Dia sungguh tak menyangka Lalita akan mengajak bicara dirinya lebih dulu seperti ini, mengingat apa yang telah terjadi pada hubungan mereka beberapa waktu belakangan.


“Mungkin ini akan menjadi kali terakhir kita berbicara berdua seperti ini. Anggap saja sebagai salam perpisahan,” tambah Lalita lagi.

__ADS_1


Pandangan Erick sedikit terangkat dan menatap Lalita sejenak, sebelum akhirnya meredup bersamaan dengan ekspresi pahit yang terbit di wajahnya. Dulu dengan pongahnya dia selalu bilang pada Larisa jika dirinya tak mencintai Lalita sedikit pun dan begitu tersiksa menjalani kehidupan rumah tangga dengan perempuan di hadapannya ini. Siapa sangka, sekarang justru teramat pedih rasanya mendengar kata-kata perpisahan yang Lalita ucapkan.


Namun begitu, Erick pun melangkah mendekati Lalita dan duduk di samping sang mantan istri dengan tatapan lurus ke depan. Dia memutuskan untuk menerima salam perpisahan yang hendak Lalita ucapkan padanya, meski tahu jika hal tersebut pasti akan terasa menyakitkan. Toh, itu bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan rasa sakit yang telah dia berikan pada Lalita selama ini.


“Sepertinya kamu makan dengan baik belakangan ini,” ujar Erick sembari menoleh ke arah Lalita sejenak. Selain perubahan sikap, Lelaki itu tampaknya menyadari jika fisik Lalita juga mengalami sedikit perubahan. Entah hanya perasaannya saja atau bagaimana, saat ini tubuh Lalita kelihatan lebih berisi dibandingkan dengan sebelumnya.


“Kamu mau bilang kalau sekarang aku gemuk?” tanya Lalita sembari menoleh juga ke arah Erick.


Erick tak menjawab dan buru-buru membuang pandangannya ke arah lain. Dia memang tak begitu tahu banyak hal tentang Lalita, tapi jelas Lalita adalah perempuan yang sangat memperhatikan penampilannya, termasuk menjaga berat badan agar selalu ideal. Dianggap gemuk oleh orang lain pasti sangat tak menyenangkan untuk perempuan itu.


“Aku memang makan banyak belakangan ini, jadi berat badanku naik beberapa kilo. Tapi itu bukan masalah. Punya tubuh yang sedikit berisi ternyata tidak buruk juga,” ujar Lalita lagi. Dia sama sekali tak berniat untuk mengatakan jika saat ini dirinya sedang hamil, makanya tubuhnya jadi sedikit berisi. Meski tentu dia juga tak bohong saat mengatakan jika belakangan ini dirinya makan lebih banyak daripada sebelumnya.


Sekali lagi Erick menoleh ke arah Lalita. Dia merasa agak tak percaya mendengar kalimat santai yang diucapkan mantan istrinya itu. Sama sekali tak terdengar kesal ataupun marah.


Setelah itu, suasana hening sejenak. Baik Erick maupun Lalita, keduanya tampak sedang tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Erick tampak menelan ludahnya dengan agak kesusahan. Lagi-lagi tak tahu harus menjawab apa.


“Supaya semuanya lebih cepat selesai seperti yang kamu harapkan. Kalau aku datang, takutnya tanpa sadar aku akan menghambat proses perceraian kita,” sahut Erick akhirnya. Sebisa mungkin dia memberikan jawaban yang masuk akal.


Terdengar Lalita mengembuskan napasnya, sebelum kemudian dia mengangguk pelan.


“Iya, sepertinya memang lebih baik kamu tidak datang. Surat cerainya mungkin akan dikirimkan ke alamat rumah ini dalam beberapa hari.”

__ADS_1


“Nanti akan aku ambil,” ujar Erick menanggapi. Dia kembali membuang pandangannya ke arah lain karena tak ingin Lalita melihat matanya yang memerah. Dalam hati, dia tak henti merutuki dirinya sendiri. Bagaimana dia baru menyadari jika kehadiran Lalita memiliki arti yang tak bisa disepelekan di saat semuanya sudah berakhir seperti ini.


Suasana kembali hening sejenak. Sebenarnya, bukan hanya Erick yang saat ini sedang merasa emosional, tapi Lalita juga. Bagaimanapun menyakitkannya cara kisah mereka berakhir saat ini, lelaki itu pernah menjadi sosok yang paling dia damba dan membuat perasaan bahagia membuncah hanya dengan menyebut namanya saja.


“Erick, kamu tahu bagaimana aku dulu jatuh cinta padamu?” tanya Lalita tiba-tiba.


Terang saja Erick semakin tak mampu menjawab apa-apa.


“Saat itu, umurku baru enam belas tahun. Aku sering melihat kamu datang ke rumah dan melakukan beberapa hal yang Papa minta. Lalu karena penasaran, aku sering mengikutimu diam-diam. Kamu selalu membawa roti dan makanan kucing di dalam tas ranselmu, lalu memberikan roti tersebut pada gelandangan yang kamu jumpai selama perjalanan. Kamu juga akan berhenti saat bertemu dengan kucing-kucing liar dan memberi mereka makan juga.”


Lalita menghentikan ucapannya sejenak dan menoleh ke arah Erick sembari berusaha tersenyum, meski amat sangat tipis.


“Bagiku yang seorang anak manja, kamu benar-benar sosok yang luar biasa. Kamu pekerja keras dan juga memiliki hati yang baik. Bahkan pada para gelandangan dan kucing-kucing liar saja kamu begitu penuh kasih sayang. Aku selalu berpikir, sungguh beruntung perempuan yang akan menjadi istrimu kelak. Kamu pasti akan sangat menyayanginya melebihi apapun ….”


“Lita ….” Erick seketika mengangkat wajahnya dan hendak mengatakan sesuatu, tapi hanya tertahan di tenggorokannya saja. Dia sungguh tak menyangka jika Lalita berpikir seperti itu tentang dirinya.


“Jadilah lelaki baik seperti itu lagi, Erick. Semoga kali ini kamu bisa menikah dengan orang yang benar-benar kamu cintai. Terima kasih untuk waktu yang kamu berikan padaku selama dua tahun ini. Aku tidak menyesal pernah menjadi istrimu selama kurun waktu itu. Aku juga bahagia menjalaninya. Satu-satunya yang aku sesalkan adalah kenyataan jika selama ini aku hanya merasa bahagia sendirian, sedangkan kamu tidak." Suara Lalita mulai terdengar bergetar, tapi sebisa mungkin dia berusaha untuk menetralkannya.


“Semoga setelah ini kamu juga akan mendapatkan kebahagiaan, entah itu saat kamu bersama dengan seseorang ataupun saat kamu sendirian.” Lalita bangkit dari duduknya setelah mengucapkan sebuah doa untuk mantan suaminya itu.


“Selamat tinggal. Demi kebaikan kita berdua, mungkin akan lebih baik jika setelah ini kita tidak perlu bertemu lagi,” ujarnya lagi sembari meninggalkan Erick yang masih menatap ke arah lain.


Erick memejamkan matanya dengan perasaan perih yang tak tertahankan. Air mata lelaki itu akhirnya tumpah. Sebuah penyesalan kini memenuhi setiap sudut hatinya. Penyesalan karena tak menyadari ketulusan luar biasa yang selama Lalita berikan untuknya.

__ADS_1


Bersambung ....


Terima kasih atas doanya ya, gaess. Sehat-sehat juga semuanya❤️❤️❤️


__ADS_2