The Broken Ring

The Broken Ring
Riani dan Arfan


__ADS_3

"A-apa yang kamu lakukan?" Riani akhirnya tak mampu lagi menahan tangisnya. Dia pun ikut bersimpuh di hadapan Arfan sembari mencoba menarik lelaki itu agar berdiri kembali.


"Tidak, Riani." Arfan menolak bangkit. "Biarkan aku seperti ini. Biarkan aku memohon maaf padamu dengan benar ...."


"Jangan begini, kumohon ...." Riani menggelengkan kepalanya. Sosok Arfan yang dilihatnya saat ini tampak begitu menyedihkan, membuat hatinya ikut terasa sakit.


"Tolong maafkan aku," ujar Arfan lagi dengan nada memohon.


Sekali lagi Riani menggelengkan kepalanya. Dia tak mampu mengatakan apapun selain hanya memperdengarkan suara isakan.


"Apa kesalahanku sudah tak termaafkan lagi olehmu?" tanya Arfan dengan nada sendu.


Bukannya menjawab, Riani malah semakin tersedu. Entah emosi macam apa yang tengah dirasakan oleh perempuan paruh baya itu saat ini hingga membuatnya menangis dengan begitu pilu.


"Kamu ... tidak salah apapun padaku ...." Riani akhirnya berujar di sela isakannya. "Kamu tidak salah ... Akulah yang sudah serakah ...."


Arfan hendak membuka mulutnya, tapi Riani kembali bersuara.


"Sejak awal, kamu sudah mengatakan dengan jelas jika kamu menikahiku hanya untuk Lita. Kamu sudah mengatakan jika yang bisa kamu berikan sebagai imbalannya adalah status sebagai istrimu serta semua fasilitas yang kamu miliki, tapi tidak dengan hati dan perasaanmu. Kamu sudah mengatakan itu dan aku menyetujuinya. Kamu sudah memenuhi semua janjimu padaku. Kamu tidak pernah mengingkarinya sedikit pun ...."


Riani menghela napasnya sejenak.


"Aku dan Risa sudah hidup dengan nyaman seperti yang kamu janjikan, jika ada hal menyakitkan berkaitan dengan perasaanku, itu adalah masalahku sendiri. Aku harusnya tidak serakah dengan mengharapkan hal lebih dari apa yang telah kudapatkan. Itu sama sekali bukan salahmu. Sejak awal, keberadaanku dan Risa memang hanya demi Lita. Harusnya kami tahu diri," ujar Riani dengan nada pahit.


"Mama ...." Lalita berhambur ke arah Riani. "Jangan bicara seperti itu, Ma. Aku mohon. Mama dan Kak Risa juga berarti untuk Papa."


Riani tak menjawab. Dia semakin tersedu sembari memejamkan mata, menumpahkan semua rasa yang ditahannya selama ini. Terbayang kembali di ingatannya saat pertama kali dirinya bertemu dengan Arfan.


Saat itu, Riani masih berstatus istri dari Rendra, ayah kandung Larisa. Dia dipukuli oleh suaminya itu di depan sebuah bar tempatnya bekerja karena menolak ide Rendra yang hendak menjualnya kepada lelaki hidung belang. Tak ada yang menolong Riani meskipun dia merintih kesakitan, sampai kemudian muncul seorang lelaki yang membuat tubuh Rendra terjungkal.


Beberapa pukulan mendarat di tubuh Rendra hingga akhirnya melarikan diri, tapi tentunya sebelum itu dia masih sempat melontarkan kalimat makian serta ancaman pada Riani.

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa?" Lelaki yang memukuli Rendra bertanya dengan sopan pada Riani.


Riani mengangguk sembari menunduk. Dia tak sanggup mengangkat wajah ke arah sosok yang menyelamatkannya. Tentu dia malu karena kondisinya saat ini terlihat sangat menyedihkan.


"Di mana kamu tinggal? Biar saya antar pulang," ujar lelaki itu lagi.


"Terima kasih banyak atas bantuannya. Saya belum bisa pulang karena ini jam kerja saya," sahut Riani masih dengan menunduk.


"Bekerja dengan keadaan seperti ini?" tanya lelaki itu.


Riani sadar jika saat ini tubuhnya babak belur. Dia hanya tidak mau merepotkan lelaki asing di hadapannya itu lebih banyak lagi.


"Saya tahu kamu bekerja di bar ini. Saya juga kenal dengan bosmu. Dia tidak akan memecatmu hanya karena malam ini kamu pulang lebih cepat," ujar lelaki itu lagi.


Mau tak mau Riani mengangkat wajahnya mendengar ucapan lelaki itu. Untuk sesaat dia terkesiap melihat sosok rupawan yang kini tampak sedang menatap ke arahnya. Lelaki dengan tubuh yang tinggi dan tegap dan sorot mata yang tajam. Seketika Riani langsung menundukkan kepalanya lagi.


"Saya tidak bermaksud jahat. Mari, saya antar pulang. Lukamu itu harus segera diobati." Lelaki itu mengulurkan tangannya pada Riani.


Lelaki itu mengantar Riani sampai ke rumahnya. Kedatangan mereka disambut dengan tangisan Larisa yang terdengar begitu memilukan. Larisa yang kala itu masih kecil tampak terbangun dari tidurnya dan menangis karena perutnya sejak tadi terus melilit.


"Bawa dokter kemari!" Lelaki yang menolong Riani memerintahkan sopirnya untuk membawa seorang dokter.


Riani yang kebingungan tampak terkasima dan tak tahu harus berkata apa. Baru saja dia dipukuli tanpa ampun oleh suaminya sendiri karena ia tidak mau diminta menjual diri, sekarang seorang lelaki asing malah berteriak dengan nada khawatir mendengar tangisan Larisa. Padahal mereka tak saling mengenal, bahkan tak saling tahu nama masing-masing.


Tak menunggu waktu lama, sopir dari lelaki yang menolong Riani datang kembali dengan membawa seorang dokter. Larisa segera mendapatkan pertolongan dan diberi obat hingga tangisannya pun perlahan mereda. Riani yang babak belur juga mendapatkan perawatan. Setelah semuanya selesai, barulah lelaki yang menolong Riani pergi. Dia bahkan meninggalkan beberapa lembar uang tunai di atas tempat tidur Larisa karena mendengar Larisa mengalami sakit perut kemungkinan karena menyantap makanan basi.


Riani tak sempat mengucapkan terima kasih dengan benar karena masih mencerna apa yang dialaminya. Seumur hidupnya, baru kali ini dia diperlakukan dengan baik oleh seseorang, yang ironisnya tak pernah dilakukan oleh suaminya sendiri.


Setelah kejadian itu, sikap tak manusiawi Rendra pada Riani semakin menjadi. Tuduhan Riani memiliki selingkuhan menjadi alasan lelaki itu untuk menyiksa Riani lebih dari biasanya. Bahkan Larisa kecil yang tak tahu apa-apa juga ikut mendapatkan pukulan membabi buta dari sang ayah. Riani ingin lari, tapi tak tahu mesti lari kemana. Dia pernah kabur dan berakhir dengan Rendra menemukannya kembali. Jadi, tak ada yang bisa dia lakukan selain menahan semua itu seorang diri.


Sampai kemudian, saat Riani sedang bekerja sebagai seorang pelayan bar seperti biasa, dia kembali bertemu dengan sosok lelaki yang waktu itu pernah menolongnya. Pertemuan yang amat tak disangka bagi Riani. Tapi sebenarnya lelaki itu memang sengaja datang untuk menemui Riani setelah mencari tahu segala hal tentangnya.

__ADS_1


"Apa kamu pernah berpikir untuk keluar dari kehidupan menyedihkan yang kamu jalani sekarang?" tanya lelaki itu sembari menatap wajah Riani yang penuh lebam.


Riani balik menatap lelaki itu dengan raut wajah yang tak dapat dilukiskan. Dia merasa tersinggung, tapi di sisi lain dirinya juga merasakan secercah harapan.


"Jika kamu bersedia, saya akan membantumu lepas dari suamimu itu untuk selamanya." Lelaki itu kembali berujar.


"Ya?" Riani tak tahu harus menanggapi seperti apa.


"Saya pastikan suamimu itu akan menceraikanmu tanpa banyak protes. Kamu dan anakmu tidak perlu menjalani kehidupan menyedihkan seperti ini lagi. Tapi sebagai gantinya, setelah semuanya selesai, menikahlah dengan saya."


"Apa?" Kali ini Riani terkejut bukan kepalang.


"Saya akan menjamin kehidupanmu dan anakmu. Kalian tidak akan kekurangan apapun. Saya pastikan kalian menjadi orang terhormat. Saya juga tidak akan membebanimu dengan tugas seorang istri atau hal yang semacamnya, karena saya juga tidak ingin melibatkan perasaan pribadi yang tidak penting. Yang harus kamu lakukan hanyalah menjadi ibu yang baik untuk anak saya. Itu saja."


Riani terdiam dengan raut wajah yang semakin tak dapat dijabarkan.


"Jangan langsung menolak. Pikirkanlah dengan baik, kapan lagi kamu punya kesempatan merubah hidup." Lelaki itu menggoyahkan Riani yang memang sedang kalut.


"Ba-bagaimana Anda bisa mengatakan ingin menikah dengan saya. Kita bahkan tidak saling kenal." Riani akhirnya bersuara meski dengan agak terbata.


"Namamu Riani, dan anakmu Larisa. Iya, kan? Saya tahu semua hal tentangmu juga tentang suamimu," sahut lelaki itu.


"Lalu bagaimana dengan saya? Saya tidak mengenal Anda sama sekali."


Lelaki itu terdiam sejenak, seakan baru menyadari sesuatu. Sesaat kemudian, tiba-tiba saja dia mengulurkan tangannya ke hadapan Riani, membuat Riani sedikit terkejut dan juga bingung.


"Kalau begitu, kenalkan, saya Arfan Baskara," ujar lelaki itu sembari menatap Riani dengan sorot matanya yang tajam dan menghipnotis.


Riani termangu sejenak, sebelum akhirnya membalas uluran tangan Arfan. Sebuah jabat tangan yang kemudian tak hanya menjadi simbol dari sebuah perkenalan, tapi awal dari sebuah cerita bagi mereka berdua. Sebuah tindakan yang membawa Riani hidup bersama lelaki itu dengan segala hal tentang dirinya, hingga detik ini.


bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2