
Riani kembali ke tanah air dengan menggunakan penerbangan pagi. Dia berangkat ke bandara bahkan sebelum Arfan bangun dari tidurnya. Tapi sebelum itu, dia telah menghubungi seorang suster untuk membantu Lalita mengurus papanya itu. Suster tersebut datang tepat setelah Arfan bangun dan minta dibantu ke kamar kecil.
Setelah dibantu membersihkan diri juga, kursi roda yang diduduki Arfan kemudian dihadapkan ke meja makan agar bisa dia sarapan bersama dengan Lalita, sementara suster yang tadi mengurusnya pamit sebentar karena ada keperluan. Lelaki paruh baya itu makan sendiri bubur yang telah Lalita siapkan. Dia memang sudah bisa menggerakkan tangannya untuk hal-hal yang ringan. Bicaranya pun sudah semakin jelas didengar, jika dibandingkan dengan sebelum melakukan terapi.
“Mama pulang dulu karena ada urusan penting, Pa. Jadi untuk ke depannya, kita akan dibantu oleh suster yang tadi. Aku tidak tahu juga apakah Mama akan segera kembali atau tidak bisa kembali lagi ke sini.” Lalita membuka percakapan setelah sejak tadi hanya ada keheningan antara dirinya dan Arfan.
“Ada sesuatu yang terjadi?” tanya Arfan dengan lidah cadelnya.
Lalita mengangguk, tapi tak mengatakan apapun lebih jauh lagi. Bukannya tak ingin sang papa tahu tentang apa yang menimpa Larisa. Dia hanya tak tahu bagaimana caranya menyampaikan cerita menyedihkan itu.
“Katakan pada Papa, Lita, apa yang terjadi pada Risa?” tanya Arfan lagi. Sebenarnya, dia mendengar percakapan antara Riani dan Lalita semalam, meski tak semuanya. Tapi yang jelas, Arfan tahu kalau Riani kembali ke tanah air karena ada hal buruk yang terjadi pada Larisa.
Lalita menghentikan kunyahannya sejenak, lalu meraih gelas air putih yang ada di hadapannya dan meneguk isinya beberapa tegukan. Perempuan itu lalu mengembuskan nafas kasar sebelum membuka mulutnya untuk bicara.
“Kak Risa harus menjalani operasi pengangkatan Rahim. Rahimnya rusak dan mengelami infeksi …,” ujar Lalita dengan nada lirih. Entah tepat atau tidak pilihannya untuk menceritakan hal itu pada Arfan, tapi yang Lalita tahu, Arfan mesti mengetahui juga bagaimana kondisi Larisa saat ini.
Dapat Lalita lihat keterkejutan di mata Arfan, meski wajah lelaki paruh baya itu masih tak bisa berekspresi karena sarafnya yang masih kaku.
“Bagaimana bisa seperti itu?” Arfan kembali bertanya dengan suara yang lebih tak jelas daripada sebelumnya, tapi masih bisa Lalita pahami.
__ADS_1
“Kak Risa pernah melakukan aborsi dua tahun yang lalu, makanya rahimnya mengalami kerusakan.”
Arfan terkejut sampai-sampai menjatuhkan sendoknya ke lantai. Dia mematung sejenak dengan sorot mata tak percaya.
“Aborsi?” gumam Arfan lirih.
Lalita mengangguk mengiyakan.
“Hngg ….” Arfan bergumam tak jelas karena terkejut. Pantas saja semalam dia mendengar Riani menangis tersedu-sedu dalam waktu yang lama. Ternyata apa yang terjadi pada Larisa memang seburuk itu.
“Kak Risa mengandung anak Erick dan terpaksa menggugurkannya karena saat itu tanggal pernikahanku dengan Erick sudah ditentukan.” Lalita kembali membari tahu. Kali ini, dia memejamkan matanya sejenak karena ini adalah bagian terburuknya. Jangan sampai papanya itu mengalami syok dan kesehatannya kembali drop setelah mendengar apa yang dikatakannya barusan. Tapi tentu dia harus mengatakannya karena inilah kesempatan baginya untuk membuat Arfan sadar akan semua tindakannya selama ini.
Lalita sangat paham dengan sikap Arfan. Jika dalam keadaan sehat dan gagah, rasanya akan sulit bagi papanya itu untuk merenungkan diri. Makanya, sekarang dia seperti sedang melakukan sebuah pertaruhan dengan menceritakan keadaan Larisa di saat kondisi Arfan belumlah begitu stabil.
“Papa ….” Dengan susah payah, Arfan kembali berbicara. “Sepertinya … Papa sudah terlalu banyak membuat kesalahan ….”
Lalita mengangkat pandangannya ke arah sang papa. Agak tak percaya dia dengan apa yang didengarnya barusan. Benarkah tadi lelaki itu mengakui kesalahannya?
“Pada kamu … pada mamamu … pada Risa … bahkan pada Erick …,” tambah Arfan lagi.
__ADS_1
Meski terbata-bata dan tak begitu jelas apa yang Arfan katakan, tapi Lalita bisa memahaminya dan merasakan rasa penyesalan dari kata-kata itu.
“Papa tidak tahu … apa Papa bisa memperbaiki semuanya …? Apa papa bisa … menebus semua dosa-dosa Papa pada kalian ….?”
Lalita tertegun, tak tahu harus seperti apa menanggapi kata-kata yang diucapkan oleh Arfan. Matanya bahkan sedikit melebar saat menyadari mata Arfan yang tampak berkaca-kaca. Sedalam itukah rasa bersalah dan penyesalan yang dirasakan oleh sang papa saat ini?
Sejak jatuh pingsan dan siuman dalam kondisi tak bisa melakukan apa-apa, Arfan memang telah mengalami pergolakan batin yang hebat, yang tentunya tak diketahui oleh orang lain. Awalnya, dia merasa kesal sendiri dan menyalahkan keadaan tubuhnya. Tapi kemudian, perlahan semua hal-hal kejam yang dilakukannya selama ini terus datang membayangi. Bayangan wajah orang-orang yang pernah dia perlakukan semena-mena, silih berganti hadir di pelupuk matanya, terutama bayangan wajah Riani dan Larisa.
Lambat laun, Arfan mulai menyadari jika cara dirinya memandang istri dan anak tirinya itu terlampau picik. Dia yang selama ini menganggap jika mereka hanya orang-orang yang menginginkan hartanya saja, perlahan mulai mendapatan pencerahan. Larisa dan Riani ternyata tidaklah seburuk itu. Terkhusus Riani, perempuan itu bahkan dengan sabar dan telaten mengurusnya, meski selama ini tak pernah sekalipun dianggap sebagai istri. Tak pernah sedikit pun Riani mengeluh atau mengatakan sesuatu yang mampu melukai hatinya. Bahkan, senyum tak lepas dari bibir Riani saat sedang mengurusnya.
Ternyata benar apa yang pernah Lalita katakan padanya, Riani tidak pernah memandangnya hanya karena harta. Perempuan itu memiliki hati yang tulus dan penuh cinta, meski dirinya sendiri tak pernah menerima cinta. Ah, rasa malu atas dirinya yang selama ini terlalu jumawa kini mulai memenuhi hati Arfan. Orang yang paling sering dia rendahkan ternyata adalah orang yang terus berada di sisinya dan merangkulnya saat dirinya tak berdaya.
“Pa ….” Lalita menyentuh punggung tangan Arfan sembari mengulas senyuman tipis. Hatinya lega tak terkira manyadari hati papanya kini sudah lebih terbuka.
“Tak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik,” ujar Lalita kemudian dengan perasaan haru.
“Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Hak orang lain juga jika mereka tak mau memaafkan kita, karena mungkin sudah merasa terlalu sakit dengan apa yang kita lakukan. Tapi, Pa, kita masih punya hak untuk memperbaiki diri. Seburuk apapun keadaanya, jika kita masih bernapas, kita masih punya kesempatan untuk menjalani hidup dengan cara yang lebih baik,” tambah Lalita lagi.
Arfan menatap ke arah putrinya itu dengan perasaan yang tak dapat dijabarkan dengan kata-kata. Tanpa sadar, air mata lelaki paruh baya itu jatuh tak tertahankan. Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Arfan, dia membiarkan Lalita melihat dirinya menangis.
__ADS_1
“Mulai hari ini, mari kita hidup dengan cara yang lebih baik, Pa.” Sekali lagi Lalita berujar sembari menyeka sudut matanya yang juga ikut menjadi basah.
Bersambung ....