
Perkembangan hubungan Larisa dan Zayn cukup pesat. Kedua pihak keluarga bahkan sudah bertemu secara resmi dan sepakat untuk menikahkan keduanya, meski tanggal pernikahan masih belum ditentukan. Zayn sendiri secara pribadi mengatakan pada Riani dan Arfan jika dirinya mengetahui keadaan Larisa dan menerimanya. Namun, Zayn meminta agar pihak keluarganya tidak perlu tahu hal itu, sebagaimana Larisa yang juga tak memberitahukan pada keluarganya sendiri perihal tentang Zidan.
Meski tak begitu paham dengan keinginan Zayn, tapi Riani dan Arfan setuju saja asalkan hal itu tak akan menempatkan Larisa pada posisi yang sulit nantinya. Zayn meyakinkan jika hal itu tak akan terjadi. Sepertinya, dia telah memiliki rencana sendiri untuk mengamankan posisi Larisa di keluarga besarnya.
Kabar rencana pernikahan Larisa bahkan telah sampai di telinga Erick. Hal itu tak lain karena celotehan Kalandra, yang saat dikonfirmasi pada Lalita, rupanya memang benar. Erick ikut merasa senang, meski tentu masih terasa seperti ada yang mengganjal di dalam hatinya jika mengingat tentang Larisa. Hal itu tak lain karena dirinya mengingat kondisi Larisa yang sudah tak sempurna lagi. Dalam hati Erick bertanya-tanya, apakah calon suami Larisa serta keluarga sungguh bisa menerima kekurangan yang gadis itu miliki?
Tapi apapun itu, Erick tetap berharap Larisa bisa segera mendapatkan kebahagiaannya, seperti Lalita.
"Pak Erick, boleh saya masuk?" Terdengar suara meminta izin masuk dari balik pintu ruang kerja Erick, setelah sebelumnya terdengar ketukan lebih dulu.
"Iya, silakan," sahut Erick.
Pintu terbuka dan sesosok gadis belia melangkah masuk ke dalam ruang kerja Erick sembari memeluk beberapa berkas. Gadis itu tak lain adalah Shelin, karyawan Erick yang dipercaya memegang bagian keuangan.
"Ada apa?" tanya Erick sembari menatap ke arah layar laptop, seolah ada yang sedang dia kerjakan. Belakangan dia memang sengaja menghindari kontak mata dengan Shelin.
"Ini laporan keuangan minggu ini, Pak," sahut Shelin sambil menyerahkan berkas yang dia bawa.
"Iya, terima kasih. Nanti saya periksa," sahut Erick sembari menerima berkas tersebut dan meletakkannya begitu saja, tanpa sedikitpun melirik ke arah Shelin.
Shelin yang diperlakukan seperti itu menjadi agak serba salah dibuatnya. Dia pun menunduk dengan perasaan yang tidak enak.
"Kalau begitu, saya permisi, Pak," ujar Shelin kemudian undur diri.
__ADS_1
Erick mengiyakan dengan tak acuh. Lalu setelah Shelin benar-benar keluar dari ruang kerjanya, barulah lelaki itu mendongak dan membuang napas dengan kasar. Sungguh dia tak tahu harus bagaimana berhadapan dengan Shelin setelah tanpa sadar menangis tersedu-sedu di bahu gadis itu pada hari pernikahan Lalita.
"Haishhh." Sekali lagi Erick menggerutu setiap kali teringat dengan kekonyolannya hari itu. Dia malu, benar-benar merasa malu. Setiap kali berhadapan dengan Shelin, dia jadi merasa seolah gadis itu hendak menertawakannya. Rasanya dia tak punya muka lagi.
"Pak Erick."
Nyaris saja Erick melompat karena terkejut mendengar suara Shelin kembali memanggilnya. Matanya seketika membeliak karena tahu-tahu gadis itu sudah muncul lagi di hadapannya, padahal tadi telah pergi.
"Maaf, Pak. Saya cuma mau mengembalikan ini," ujar Shelin sambil menaruh sesuatu di atas meja kerja Erick. Sebuah cincin yang tempo hari Erick jatuhkan.
"Sebenarnya saya mau kembalikan sejak awal, tapi kelihatannya Pak Erick sedang tidak ingin berbicara dengan saya," tambah Shelin lagi.
Kali ini Erick sedikit tertegun. Mungkinkah sikapnya yang selalu menghindar dari Shelin sudah agak kelewatan, sehingga gadis itu merasa tersinggung?
Lagi-lagi Erick membuang napas kasar dengan agak kesal. Karena kekonyolannya, dia jadi menciptakan kesalahpahaman antara dirinya dan karyawan yang paling dia percaya.
"Tidak, bukan seperti itu. Memang ada yang mengusik pikiran saya, tapi itu bukan salahmu," sahut Erick kemudian. "Tolong jangan dipikirkan. Saya minta maaf kalau sampai membuatmu berpikir begitu."
Shelin pun memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya.
"Jadi, saya tidak melakukan kesalahan apa-apa, Pak?" tanya gadis itu.
"Sama sekali tidak ada. Jangan khawatir." Erick kembali menyahut.
__ADS_1
Tanpa sadar Shelin tersenyum lebar. Mungkin karena merasa senang dirinya tak terancam dipecat.
Erick kembali tertegun. Baru kali ini melihat dari jarak dekat wajah Shelin yang sedang tersenyum. Ternyata gadis pemalu itu manis juga. Bahkan ada lesung pipi di wajahnya saat dia tersenyum.
Cepat-cepat Erick kembali beralih ke layar laptopnya dan pura-pura sibuk mengetik sesuatu di keyboard laptopnya.
"Silakan lanjutkan pekerjaanmu," pinta Erick kemudian.
"Baik, Pak," sahut Shelin, jauh lebih bersemangat daripada sebelumnya.
Gadis itu lalu kembali meninggalkan ruang kerja Erick, membuat Erick sekali lagi menghentikan aktivitas pura-pura sibuknya. Lelaki itu menyandarkan punggung di penyangga kursi. Entah kenapa, sejak tindakan impulsif yang dilakukannya pada hari pernikahan Lalita tempo hari, atmosfer saat Shelin berada di dekat dirinya jadi berubah drastis. Padahal selama setahun Shelin bekerja untuknya, tak ada hal istimewa yang Erick rasakan. Baginya, Shelin hanyalah seorang gadis malang yang mesti dia tolong agar dapat memiliki kehidupan yang lebih baik.
Shelin masih sangat muda. Usianya baru sembilan belas tahun lebih, belum genap dua puluh tahun. Selisih hampir lima belas tahun dengan usia Erick saat ini. Namun, meski sangat belia, nyatanya pahit dan kerasnya hidup telah dia rasakan lebih dari siapapun.
Setahun lalu, Erick menemukannya hendak melompat dari atas jembatan layang dalam kondisi yang mengenaskan. Erick berhasil menggagalkan aksi tersebut dan membawa Shelin ke rumah sakit. Rupanya gadis malang itu baru saja digilir oleh beberapa orang lelaki sekaligus. Dia menjadi korban perdagangan manusia dan dipaksa melayani banyak lelaki hidung belang setiap harinya.
Butuh waktu beberapa hari bagi dokter dan pihak berwajib untuk membuat Shelin mau bercerita. Untunglah dia cepat pulih dan mentalnya pun perlahan membaik. Dari keterangan yang dia berikan, akhirnya para sindikat yang mempekerjakan Sherin secara paksa bisa diringkus. Namun, Sherin tak bisa kembali ke kampung begitu saja karena ternyata dia adalah tumpuan bagi ibu dan adik-adiknya di sana. Itulah kenapa, selepas menyelesaikan SMA dia nekat merantau ke kota.
Karena itulah, akhirnya Erick mempekerjakan Shelin di tempat makan kekinian yang menjadi bisnisnya saat ini. Awalnya, gadis itu hanya membantu mencuci piring di dapur, tapi kemudian Erick memindahkannya ke bagian kasir. Sampai akhirnya, Erick pun mempercayakan urusan keuangan karena melihat Shelin adalah sosok yang jujur dan bisa dipercaya.
Kini tak disangka, sosok itu bahkan mampu mengusik hati Erick yang sebelumnya nelangsa karena belum mampu melupakan mantan istri. Hal konyol apa yang sebenarnya sedang Erick rasakan?
Bersambung ....
__ADS_1