The Broken Ring

The Broken Ring
Hukuman Dimulai


__ADS_3

Pada akhirnya, Erick hanya menemui Arfan sebentar saja. Dia harus segera bertolak ke bandara karena jadwal penerbangannya menuju tanah air akan segera tiba. Mau tak mau, Erick harus pergi dari apartemen yang ditinggali oleh sang mantan istri serta mantan mertuanya. Lelaki itu memasuki sebuah taksi yang sebelumnya telah dipesankan oleh asistennya, masih dengan perasaan tak percaya.


Kehamilan Lalita yang baru diketahuinya belum lama tadi benar-benar membuat Erick terguncang. Ada rasa senang yang tiba-tiba saja muncul di salah satu sudut hatinya. Namun, perasaan sedih dan menyesal justru yang paling mendominasi dirinya saat ini. Kenyataan jika Lalita hamil bahkan sejak sebelum mereka merayakan ulang tahun pernikahan waktu itu benar-benar membuat dada Erick terasa sesak seketika. Pasalnya, malam itu adalah malam di mana dirinya memberikan luka yang teramat dalam untuk mantan istrinya itu.


“Pak, kita sudah sampai.” Suara asisten Erick membuyarkan lamunan lelaki itu.


Erick mengusap wajahnya dengan kasar sebelum akhirya turun dari taksi. Masih dengan perasaan tak menentu, lelaki itu melangkah memasuki badara, hingga tanpa sadar tahu-tahu dia telah duduk di bangku pesawat.


“Pak Erick.” Lagi-lagi Erick mendengar asisten pribadinya memanggil.


“Apa Pak Erick baik-baik saja? Wajah Bapak kelihatan pucat,” ujar lelaki muda itu lagi saat Erick menoleh ke arahnya.


“Saya baik-baik saja,” sahut Erick sembari membenahi posisi duduknya. Sebisa mungkin dia berusaha untuk terlihat baik-baik saja di hadapan bawahannya itu.


“Apa ada yang terjadi di apartemen Direktur tadi?” tanya asisten Erick lagi.


“Tidak ada. Saya hanya sedikit lelah.”


Asisten pribadi Erick tak mengatakan apapun lagi. Sejak kembali bergabung, Erick memang sangat sibuk melebihi sebelum-sebelumnya. Hal itu dikarenakan hampir semua tugas Arfan dikerjaan olehnya. Dedikasi Erick untuk hotel milik Arfan kali ini memang lebih dari saat sebelum dirinya bercerai dengan Lalita. Hal itu dia lakukan tak lain karena menganggap jika itu adalah caranya untuk membalas jasa pada Arfan.

__ADS_1


“Gama,” panggil Erick kemudian pada asistennya.


“Iya, Pak?” Lelaki muda bernama Gama itu menoleh.


“Kamu sudah punya anak?” tanya Erick.


Gama terlihat sedikit bengong mendengar pertanyaan yang dilontarkan padanya.


“Anu, Pak. Saya belum menikah,” sahut Gama kemudian dengan sedikit kikuk.


“Ah, iya. Saya lupa.” Erick langsung membuang pandangannya. Dia merasa konyol karena untuk sesaat melupakan fakta jika asisten pribadinya ini adalah seorang lajang. Umurnya saja beberapa tahun lebih muda dari Erick.


“Tapi kalau sudah menikah nanti, saya maunya punya anak minimal empat.” Gama kembali berujar dengan sedikit berseloroh.


“Banyak sekali,” gumam Erick tanpa sadar.


“Soalnya saya anak tunggal, Pak. Saya selalu merasa sepi karena tidak punya saudara. Makanya, nanti kalau saya menikah, saya mau punya anak setidaknya empat orang,” sahut Gama sembari sedikit terkekeh.


Erick terdiam sejenak. Dulu, dia juga pernah berkhayal seperti itu. Membangun sebuah keluarga dan memiliki anak-anak yang manis. Tapi dia membayangkan semua itu saat masih menjalin hubungan dengan Larisa. Tentu saja perempuan yang dia harapkan untuk menjadi ibu dari anak-anaknya kelak adalah Larisa.

__ADS_1


Sejak menikah dengan Lalita, Erick tak pernah lagi berkhayal akan memiliki anak. Dia tak pernah lagi membayangkan masa depan yang bahagia karena merasa kebahagiaannya telah musnah bersama dengan kandasnya hubungannya bersama Larisa. Meski saat menjadi suami Lalita, tak jarang mereka melakukan hubungan suami istri, tapi tak pernah sekalipun Erick membayangkan jika Lalita akan hamil. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Setiap detiknya dia menjalani pernikahan itu dengan ketidakikhlasan tanpa melihat hal baik yang mungkin terjadi.


Baru Erick sadari jika selama ini dirinya terlalu dibutakan oleh kebencian sehingga tak bisa mensyukuri semua yang dia miliki. Kini, saat semuanya telah hancur berantakan, baru dia merasakan jika sebenarnya Lalita telah memiliki arti tersendiri di dalam hidupnya. Belum lagi, dirinya juga terancam tak bisa membersamai calon anak yang dikandung oleh Lalita saat ini.


Tanpa sadar, Erick menghela napas panjang. Entah apa yang harus dia lakukan untuk memperbaiki semuanya. Sejauh dia memikirkan hal itu, rasanya tak akan nada maaf untuknya. Kesalahan yang dia perbuat terhadap Lalita sudah terlalu fatal. Bukan hanya masalah hati, tapi juga harga diri Lalita. Erick telah menghancurkan semua itu, sehingga akan sangat sulit rasanya untuk mendapatkan kesempatan kedua.


“Kalau nanti saya punya anak, saya tidak mau seperti para ayah kebanyakan yang tidak terlalu memperhatikan tumbuh kembang anaknya. Saya mau seperti ayah saya, selalu ada bersama saya dalam momen apapun. Ayah saya bilang, membesarkan anak itu bukan hanya tugas istri, tapi juga tugas suami. Masa iya, bikinnya sama-sama, tapi mengurus dan membesarkannya dilimpahkan pada satu orang saja.” Gama kembali berujar, membuat Erick kembali menoleh ke arahnya dengan perasaan yang agak tersentil.


“Astaga, kok saya jadi mengkhayal kejauhan begini, padahal menikah saja belum. Maaf, Pak, saya jadi terbawa suasana karena tadi Bapak tanya soal anak,” ujar Gama menambahkan sambil sedikit tersenyum meringis.


Sekali lagi, Erick memaksakan diri untuk ikut tersenyum. Tapi kali ini dia tak mampu menutupi wajah sendunya. Tanpa sadar, lelaki itu memejamkan mata sembari kembali menghela napas panjang. Perlahan tapi pasti, rasa sesal atas semua perlakuan tak berperasaannya pada Lalita selama ini semakin merongrongnya. Ada rasa sakit yang tak dapat dia jabarkan yang saat ini bersemayam di salah satu sudut hatinya. Satu persatu kilasan sikap tak terpujinya terhadap sang mantan istri memenuhi kepalanya, membuatnya semakin merasa frustasi.


Semakin diingat-ingat, semakin Erick merasa tak layak jika ingin bersikeras kembali pada Lalita, meskipun dengan alasan anak. Namun, memikirkan anaknya kelak lahir tanpa keluarga yang utuh, hal itu juga membuatnya gamang. Dia pernah mendengar ungkapan, jika seorang lelaki hanya bisa menyumbang benih tanpa ada tanggung jawab terhadap anaknya, maka tak ada bedanya dia dengan seekor hewan. Lalu apakah sekarang dia juga termasuk lelaki yang seperti itu?


Tiba-tiba saja perasaan Erick menjadi semakin kalut karenanya. Selama ini, karena telah menghabiskan masa kecil di panti asuhan dengan segala kerasnya kehidupan panti, Erick selalu membenci orang tua tak bertanggung jawab yang kerap kali membuang anak mereka di tempat itu. Erick benci pada para orang tua yang hanya bisa menhadirkan anak-anaknya ke dunia, tapi tak mampu mengurusnya. Lalu kini sepertinya dirinya akan menjelma menjadi sosok yang dibencinya itu. Sungguh miris.


‘Ya Tuhan, apa yang sudah kulakukan selama ini?’ Erick mendesah dalam hati dengan perasaan kalut tak menentu. Mengingat perut buncit Lalita yang dilihatnya tadi, membuat dadanya terasa semakin sesak. Terlebih jika dia mengingat juga kata-kata yang Lalita lontarkan padanya. Sepertinya benar-benar sudah tak ada harapan.


Untuk ke sekian kalinya, Erick menghela napasnya tanpa sadar. Dia merasa jika saat ini dia mulai menuai apa yang dia tabur selama ini. Ya, sepertinya hukuman atas apa yang telah dia lakukan pada Lalita dimulai dari sini.

__ADS_1


Bersambung ....


Mumpung masih dalam suasana lebaran, Mak Othor mau mengucapkan minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir dan batin, ya, semuanya. Insya Allah, mulai hari ini Lalita akan update rutin lagi.


__ADS_2