
Setelah makan siang, Erick membawa Kalandra pulang ke rumahnya. Rumah yang merupakan hasil kerja keras Erick selama beberapa tahun terakhir. Di sana mereka melanjutkan kebersamaan dengan menghabiskan waktu di halaman belakang rumah yang Erick sulap menjadi kebun buah dan sayuran. Di sana juga ada kolam ikan yang merupakan tempat favorit Kalandra. Bocah itu bisa betah duduk di tepi kolam berjam-jam hanya untuk memberi makan ikan dan memperhatikan gerak-gerik hewan air tersebut.
"Wah, ikannya sudah besar-besar, Pa!" seru Kalandra kegirangan saat melihat ikan-ikan di dalam kolam.
"Kok cepat sekali besarnya, ya? Kan waktu Kalan lihat kemarin-kemarin masih kecil." Bocah itu menambahkan dengan sedikit bergumam.
Erick tertawa kecil melihat kebingungan sang putra.
"Ikan yang kecil-kecil tempo hari mati semua karena stres. Papa ganti dengan ikan yang ukurannya lebih besar," sahut Erick.
"Memangnya ikan bisa stres juga, Pa?" tanya Kalandra semakin bingung.
"Iya, Sayang. Semua makhluk hidup bisa stres, tapi tentu saja stresnya tidak seperti manusia," sahut Erick menjelaskan.
"Oh, kalau manusia stresnya marah-marah, ya, Pa?" Kalandra kembali bertanya.
"Kalan tahu dari mana?" Erick balik bertanya. Tidak mungkin Lalita yang marah-marah karena stres, kan?
"Daffa yang bilang. Katanya mamanya Daffa suka marah-marah karena stres," sahut Kalan dengan polosnya.
"Oh ...." Tanpa sadar Erick menghela napas lega.
"Yang penting bukan mamanya Kalan yang suka marah-marah karena stres," ujar Erick kemudian setengah bergumam.
"Mama tidak pernah marah-marah, malah suka senyum sendiri," sahut Kalan.
"Suka senyum sendiri?" ulang Erick.
Kalandra mengangguk.
"Daddy bilang, Mama suka senyum sendiri karena bahagia. Kan sebentar lagi Mama sama Daddy mau jadi pengantin." Daddy yang dimaksud Kalandra sudah pasti Rainer. Lelaki itu memang telah dekat sejak lama dengan Kalandra, bahkan sebelum Lalita menerima perasaannya.
Serasa ada benda tajam yang menghujam dada Erick saat ini. Dia memejamkan matanya sejenak sembari menghela napas pelan. Tentu tak ada beban bagi Kalandra berbicara tentang Rainer, karena di mata bocah itu, Erick dan Lalita hanya berteman, sedangkan Rainer adalah calon pasangan Lalita.
Entahlah, mungkin karena sejak lahir Kalandra tak pernah menyaksikan kedua orang tuanya hidup bersama, jadi baginya Lalita dan Erick memang hanya berteman saja. Dia juga belum terlalu paham dengan arti pasangan yang bercerai. Yang dia tahu hanyalah mama papanya selalu ada untuknya, jadi bagaimana pun hubungan keduanya, Kalandra merasa bahagia-bahagia saja.
"Kalan suka kalau Mama dan Daddy menikah?" tanya Erick kemudian memancing.
"Suka!" Tanpa diduga, Kalandra menjawab dengan penuh semangat, membuat hati Erick semakin kecut.
__ADS_1
"Suka kenapa?"
"Ngg ...." Kalandra terlihat berpikir sejenak. "Kan Daddy baik. Daddy suka kasih hadiah buat Mama dan Kalan. Suka ajak Mama dan Kalan jalan-jalan. Terus ... Daddy juga suka bikin Mama tersenyum."
Erick tersenyum getir mendengar jawaban Kalandra. Benar, Rainer bisa memberikan sesuatu yang tak bisa dia berikan untuk Lalita. Tak ada alasan baginya untuk tak ikut merasa bahagia karena lelaki itulah yang kini akan menjadi pendamping mantan istrinya itu. Tapi kenapa hatinya sulit sekali berkompromi, padahal otaknya sudah menerima?
"Lalu Papa? Kalan tidak suka Papa, kah?" Erick kembali bertanya. Kali ini pertanyaan yang terdengar cukup kekanakan.
"Suka, dong! Masa tidak suka? Papa kan superhero Kalan. Papa is the best!" Kalandra menjawab sembari mengacungkan kedua jempolnya. Jawaban yang cukup menghibur hati Erick.
"Baiklah. Kalau begitu, kita beri makan ikan saja," ujar Erick kemudian sembari beranjak untuk mengambil makanan ikan. Mengakhiri pembicaraan tentang Rainer dan Lalita adalah pilihan paling bijak agar hatinya tak semakin terasa nyeri.
"Hore!" Kalandra menyambut senang. Memberi makan ikan adalah bagian kesukaannya. Bocah itu ikut bangkit dengan riang, menunggu Erick mengambil pakan ikan untuknya.
Sore hari barulah Erick mengantar Kalandra pulang. Tentu saja setelah dia memandikan Kalandra dan kembali memberinya makan meskipun belum waktunya makan malam. Di rumah Erick memang tersedia baju ganti Kalandra agar tak bingung lagi jika sewaktu-waktu bocah itu membutuhkannya, seperti saat ini.
Erick tak langsung mengantar Kalandra ke rumah. Lalita memintanya untuk ke butik saja karena jaraknya lebih dekat. Ternyata Lalita masih berada di sana. Perempuan itu masih saja bekerja meski beberapa hari lagi akan menggelar pesta pernikahan.
"Daddy!" Kalandra langsung berseru saat mendapati Lalita tak sendiri, tapi bersama Rainer.
Rainer langsung merentangkan tangannya dan langsung disambut dengan pelukan hangat dari Kalandra.
"Kalan habis jalan-jalan sama Papa. Main bom-bom car, terus kasih makan ikan," sahut Kalandra. Dia selalu antusias setiap kali bercerita tentang apa yang dia lakukan.
"Wah, pasti seru. Sayang sekali Daddy tidak ikut." Rainer menangapi.
"Lain kali Kalan minta Papa buat ajak Daddy juga. Daddy mau?" Kalandra bertanya dengan polosnya.
Rainer tertawa. Diusapnya pucuk kepala Kalandra dengan sayang.
Erick yang melihat pemandangan itu hanya hanya bisa tersenyum samar. Di satu sisi dia lega karena Kalandra akan mendapatkan ayah sambung yang menyayanginya dengan tulus. Tapi di sisi lain, dia juga merasa cemburu. Dia takut Kalandra akan lebih menyayangi Rainer daripada dirinya.
"Aku dan Kalan pulang dulu. Mama pasti sudah menunggu. Sejak tadi beliau menelepon terus." Suara Lalita menginterupsi isi kepala Erick.
Rainer mengiyakan. Dia menawarkan diri untuk mengantar pulang, tapi Lalita menolak karena membawa mobil sendiri.
"Erick, aku duluan, ya. Terima kasih sudah menjemput dan menjaga Kalan seharian ini," ujar Lalita pada Erick.
"Jangan berterima kasih. Aku malah senang," sahut Erick. Cukup miris rasanya mendengar Lalita berterima kasih hanya karena dia telah menggantikan mengurus putra mereka.
__ADS_1
"Baiklah. Kalau begitu, kami pulang dulu." Lalita berpamitan sekali lagi. Sedangkan Kalandra melambaikan tangannya bergantian ke arah Erick dan Rainer.
Lalita dan Kalandra berlalu, meninggalkan Erick dan Rainer berdua dalam situasi yang cukup membuat Erick kurang nyaman.
"Mau minum kopi? Di dekat sini ada tempat ngopi enak," tawar Rainer pada Erick memecah kebisuan.
Erick ingin menolak, tapi tak memiliki alasan yang masuk akal. Mereka berdua pun lalu berakhir di sebuah kafe yang terletak tak jauh dari butik milik Lalita.
Sebenarnya, ini bukan kali pertama Erick dan Rainer berbincang berdua. Keduanya sudah sering berinteraksi, atau lebih tepatnya Rainer yang sering lebih dulu mengajak Erick berbicara. Hanya saja, Erick selalu merasa tak nyaman berada di dekat Rainer, meski kelihatannya itu tak berlaku untuk Rainer sendiri. Calon suami Lalita itu tampak begitu enjoy dan bercerita apa saja dengan santai pada Erick, seperti halnya sekarang. Seolah Erick adalah temannya, bukan mantan suami dari calon istrinya.
"Rainer, boleh aku tanya sesuatu?" Erick menyela di tengah pembicaraan.
"Tanya saja," sahut Rainer santai.
"Aku tahu ini terdengar agak kekanakan, tapi aku penasaran sejak lama. Kamu dan Lita akan segera menikah, tapi kamu merasa nyaman-nyaman saja denganku. Kamu juga tidak keberatan saat aku dan Lita harus pergi bersama untuk kepentingan Kalan. Apa kamu tidak merasa cemburu?" tanya Erick serius.
"Cemburu?" Rainer terkekeh. Lelaki itu menyesap kopinya sejenak.
"Tentu saja aku cemburu, Erick. Mana ada lelaki yang tidak cemburu melihat calon istrinya berinteraksi dengan mantan suami, untuk alasan apapun itu," lanjut Rainer kemudian dengan nada yang lebih serius.
"Lalu?" Erick mengerutkan keningnya tak mengerti, mengingat begitu santainya sikap Rainer selama ini. Sangat tak mencerminkan lelaki yang sedang cemburu.
"Lalu?" ulang Rainer. "Karena aku cemburu, bukan berarti aku mesti memusuhimu dan menjauhkanmu dari Lita, kan? Bahkan setelah kami menikah, aku tidak berniat melakukan itu."
"Kenapa?" Erick tak mengerti.
Rainer menoleh ke arah Erick dan menatapnya sejenak. Raut wajah lelaki itu berubah menjadi sangat serius.
"Karena kamu berarti untuk Lita. Entah itu sebagai orang yang pernah dia cintai, atau sebagai ayah dari Kalan," sahut Rainer.
Erick terdiam, tak tahu harus berkata apa.
"Aku menghargai Lita bersama dengan semua hal yang ada pada dirinya. Saat aku memutuskan untuk menjadikan dia pasangan hidupku, saat itu aku juga memutuskan untuk menerima dia apa adanya, termasuk menerima jika dia memiliki masa lalu yang tak akan pernah bisa dia lepaskan demi Kalandra. Lagipula, dia adalah sosok perempuan yang akan memegang teguh kepercayaan yang diberikan padanya. Jadi aku tidak perlu merasa khawatir meski dia terus berinteraksi denganmu," ujar Rainer lagi.
"Untuk urusan cemburu, bahkan pada semut yang menggigit kakinya pun aku merasa cemburu. Tapi biar itu menjadi penderitaanku sendiri. Jangan sampai dia ikut menderita karena rasa cemburuku." Rainer kembali menambahkan.
Erick memalingkan muka tanpa bisa berkata-kata. Bahkan jika dia berusaha menandingi Rainer sekuat tenaga sekalipun rasanya dia masih tetap akan kalah. Lelaki itu terlalu luar biasa. Erick pun sadar, Lalita pantas mendapatkan pasangan yang luar biasa seperti Rainer. Mau tak mau, dia harus mengakuinya, meski sekali lagi hatinya masih merasa tak rela.
Bersambung ....
__ADS_1