The Broken Ring

The Broken Ring
Kenyataan Pahit untuk Erick


__ADS_3

Dokter yang menangani Larisa terdiam sejenak, memberi jeda atas keterkejutan yang ditunjukkan oleh Erick.


"Memangnya penyakit apa yang diderita oleh kakak ipar saya, Dok?" tanya Erick masih dengan raut tak percaya.


"Nona Larisa mengalami kerusakan permanen pada rahimnya dan beberapa kali mengalami infeksi. Biasanya, kondisinya tersebut bisa diatasi dengan obat-obatan, tapi kali ini sudah tidak bisa seperti itu lagi. Rahim Nona Larisa benar-benar harus diangkat agar infeksinya tak menyebar ke organ lain. Untuk itulah saya harus meminta persetujuan wali dari Nona Larisa," sahut dokter itu menjelaskan.


Erick tampak semakin terperangah mendengar penjelasan itu.


"Rahim Larisa mengalami kerusakan dan infeksi?" ulang Erick sekali lagi untuk memastikan.


"Benar."


Jelas terlihat tatapan tak percaya di mata Erick. Lelaki itu bahkan menggelengkan kepalanya pelan tanpa sadar.


Sekali lagi, dokter yang menangani Larisa memberi jeda sejenak, sebelum kemudian kembali membuka mulutnya.


"Begini, Tuan. Sebenarnya, ada hal yang disembunyikan Nona Larisa dari keluarganya. Dua tahun yang lalu, saat Nona Larisa pertama kali datang meminta perawatan saya, dia baru saja melakukan aborsi," ujar dokter itu lagi dengan hati-hati.


"Aborsi?" Erick terlihat semakin terkejut.


"Benar. Waktu itu, Nona Larisa datang dengan kondisi yang buruk. Dia mengalami pendarahan hebat dan hampir tak sadarkan diri. Saat diperiksa, rahimnya mengalami kerusakan parah dan dirawat inap selama seminggu. Dia dinyatakan tak bisa hamil lagi di masa depan. Di samping itu, rahimnya yang sudah rusak rentan sekali mengalami infeksi sehingga saya mengajurkan untuk dilakukan tindakan pengangkatan rahim bahkan sejak awal kedatangannya. Saya juga meminta pada Nona Larisa untuk segera membicarakan hal ini pada pihak keluarga agar operasi pengangkatan bisa dilakukan secepatnya. Tapi sepertinya sampai saat ini, Nona Larisa masih belum membicarakan tentang kondisi kesehatannya pada keluarganya." Dokter kembali memberi penjelasan.


Bagaikan mendengar suara petir yang menggelegar, Erick merasakan seluruh tubuhnya menjadi lemas. Apa yang dikatakan oleh dokter mengenai kondisi Larisa barusan membuatnya terguncang untuk ke sekian kalinya. Larisa melakuksn aborsi dua tahun yang lalu? Apakah itu berarti dia telah meninggalkan benih di rahim perempuan itu saat menikahi Lalita?


Erick memejamkan matanya sejenak dan berusaha berpikir. Jika memang Larisa pernah dirawat di rumah sakit selama seminggu setelah melakukan aborsi, lalu kenapa tak ada anggota keluarganya yang menyadari hal itu? Apakah itu saat Larisa menghilang selama dua minggu dengan alasan pekerjaan tepat sebulan sebelum pernikahan dirinya dan Lalita?


"Kami pihak keluarga tidak pernah tahu kalau Larisa pernah dirawat di sini, bahkan sampai seminggu lamanya. Apalagi tentang aborsi itu," ujar Erick kemudian dengan suara yang terdengar agak bergetar.


"Seperti yang saya katakan sebelumnya, Nona Larisa sepertinya memang merahasiakan kondisi kesehatannya dari pihak keluarga. Saat dirawat waktu itu, dia hanya sendirian. Tidak ada yang menemani dan sepertinya juga tidak ada yang datang membesuk," sahut dokter itu.


Serasa ada belati yang menikam dada Erick saat ini. Rasanya begitu sakit dan sesak. Setelah sebelumnya dihantui rasa bersalah atas tindakannya terhadap Lalita selama dua tahun ini, lalu sekarang dia juga mesti mengetahui fakta berapa menderitanya hidup Larisa karena dirinya. Di sudut hatinya yang paling dalam, Erick merasa yakin jika janin yang digugurkan oleh Larisa adalah benihnya. Namun, tentu dia mesti memastikan hal itu terlebih dahulu pada Larisa.


"Sebagai perwakilan pihak keluarga, sekarang Anda sudah mengetahui kondisi Nona Larisa seperti apa. Jadi, saya harap Anda bisa menyetujui prosedur pengangkatan rahim Nona Larisa agar kami bisa melakukan operasi terhadap Nona Larisa sesegera mungkin. Ini semua tentu demi kebaikan Nona Larisa sendiri," ujar dokter membuyarkan isi kepala Erick.

__ADS_1


Erick menghela napasnya sejenak.


"Untuk masalah itu, saya masih harus menghubungi orang tua Larisa terlebih dahulu. Saya tidak bisa memutuskannya sendiri meskipun ingin Larisa mendapatkan penanganan secepatnya," sahut Erick kemudian.


"Baiklah. Saya harap, secepatnya hal ini diputuskan. Kasihan Nona Larisa jika harus menunggu lama."


"Secepatnya saya akan menghubungi orang tua Larisa." Erick meyakinkan.


Dokter yang menangani Larisa pun mengangguk dan mengatakan jika tak ada lagi yang ingin dia sampaikan. Erick pun akhirnya undur diri dari ruangan dokter tersebut.


"Nona Risa sudah sadar," ujar Erlan memberitahu saat melihat Erick keluar dari ruangan dokter.


"Saya mau bicara dengan Risa. Antarkan saya ke sana," pinta Erick.


Erlan mengiyakan dan langsung membawa Erick ke kamar rawat inap di mana Larisa berada saat ini. Setelah itu, Erlan pamit untuk kembali ke hotel karena ada pekerjaan yang masih harus dia selesaikan.


Erick masuk ke dalam ruangan tersebut dengan langkah perlahan. Didapatinya Larisa sedang duduk bersandar di atas brankar rumah sakit dengan tatapan mengarah ke jendela.


"Risa ...," panggil Erick.


Erick pun mendekat dan duduk di kursi yang ada di samping brankar Larisa.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Erick.


Larisa menoleh sekilas ke arah lelaki itu, tapi lalu kembali menatap ke jendela.


"Kenapa kamu bisa ada di sini?" Alih-alih menjawab pertanyaan Erick, Larisa malah balik bertanya.


"Pak Erlan menghubungiku dan ...."


"Padahal aku sudah minta dia untuk tidak memanggil siapapun." Larisa bergumam datar memotong ucapan Erick.


Erick menghela napasnya sejenak sembari menatap nanar ke arah perempuan di hadapannya itu.

__ADS_1


"Kondisimu sudah sangat parah, Risa," ujar Erick kemudian dengan agak tertahan.


"Aku masih bisa mengatasinya."


"Masih bisa mengatasinya bagaimana maksudmu? Nyawamu terancam jika tidak segera dilakukan operasi!" Erick akhirnya berseru dengan agak emosional.


Larisa kembali menoleh ke arah Erick sejenak, lalu membuang pandangannya lagi.


"Jadi benar, dua tahun lalu kamu melakukan aborsi?" tanya Erick kemudian dengan nada lebih rendah daripada sebelumnya.


Larisa tak menjawab. Tapi diamnya tentu sudah menjadi jawaban yang valid untuk Erick.


"Janin yang kamu gugurkan itu ... anakku?" tanya Erick lagi dengan suara yang agak bergetar.


Lagi-lagi Larisa memilih diam, tapi kemudian tampak napasnya agak tersengal karena menahan tangis.


"Dia anakku, Risa? Jawab aku!" Erick kembali berseru.


Kali ini Larisa menoleh dan menatap Erick tajam dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Memangnya kenapa? Apa pentingnya itu sekarang?"


Wajah Erick berubah pias dan sendu. Mestinya dia tak bertanya lagi karena sudah pasti yang digugurkan Larisa adalah anaknya. Tuhan adalah saksi bagaimana mereka dulu sering melampaui batas saat masih menjalin hubungan. Itulah kenapa sulit bagi Erick untuk merelakan Larisa meski telah menikahi Lalita. Itu juga yang membuat Erick selalu membayangkan Larisa saat menyentuh Lalita, karena dia telah banyak menghabiskan malam yang panas dengan Larisa meski mereka belum memiliki ikatan yang sah.


"Kenapa kamu menggugurkannya, Risa? Dia tidak bersalah ...." Hanya itu yang bisa Erick ucapkan dengan nada penuh keputusasaan.


Air mata Larisa akhirnya luruh meski sebisa mungkin dia tahan sejak tadi.


"Saat aku menyadari kalau aku hamil, tanggal pernikahanmu dengan Lita sudah ditetapkan. Aku tidak punya pilihan selain menggugurkannya," ujar Larisa kemudian.


Bahu Erick langsung terkulai lemas di sandaran kursi. Matanya terpejam rapat dengan gemuruh dada yang tak menentu. Detik itu, dia menyadari jika dirinya adalah lelaki brengsek yang benar-benar tak pantas untuk Lalita atau perempuan manapun di muka bumi ini.


Bersambung ....

__ADS_1


Santuy, gaesss. Mau bagaimana pun Larisa atau Erick, yang jelas kita kawal Lalita buat hidup bahagia sama anaknya. Tapi Mak Othor pun kalo di posisi Larisa ga sanggup sih, pasti udah mikir pergi ke planet mars aja😑


__ADS_2