
Erick tenggelam dalam perasaan gamang tak terkira. Sungguh berat rasanya jika harus berpisah dari Kalandra di saat bayi lucu itu kini telah menjadi dunianya. Bukan sehari atau dua hari, tapi bertahun-tahun. Mungkinkah saat kembali nanti Kalandra masih mengenali dirinya? Tapi di sisi lain, tak mungkin juga dia menghalangi langkah Lalita yang hendak merengkuh mimpi. Sekali lagi dia ingat betul jika statusnya saat ini hanyalah sebatas mantan.
"Jangan salah paham, Erick. Aku bukannya sengaja mau memisahkanmu dengan Kalan. Hanya saja, aku gadis meraih impianku yang tertunda," ujar Lalita seolah memahami kegelisahan hati Erick.
"Tidak, bukan begitu." Erick menggeleng. Dia bukannya berpikir buruk tentang rencana Lalita. Hanya saja, berpisah dari Kalandra rasanya sungguh menyesakkan, meski baru dibayangkan saja.
"Aku tahu kamu tidak akan melakukan itu, Lita. Jika kamu mau memisahkanku dengan Kalan, sejak awal kamu tidak akan mengizinkan aku dekat dengannya," ujar Erick lagi. Takut Lalita salah paham.
"Kalan akan tetap mengenalmu sebagai papanya, Erick. Tidak perlu merasa khawatir. Kamu bisa video call setiap hari untuk berinteraksi dengan Kalan. Aku juga akan sering-sering mengirim video tumbuh kembang Kalan." Lalita menanggapi.
Erick terdiam. Kedengarannya tidak buruk juga. Tapi tetap saja, itu tak akan sama dengan saat mereka saling berdekatan seperti sekarang.
Entah bagaimana Erick mesti berekspresi saat ini, dia tidak tahu. Lalita sudah banyak bermurah hati padanya. Dia tak ingin mantan istrinya itu merasa tersinggung dan tak dihargai juga saat ini dirinya terlihat emosional. Yang bisa dia lakukan hanyalah menciumi Kalandra dengan perasaan yang entah, sulit untuk dijabarkan. Lalita juga tampaknya memilih untuk tidak bicara lebih jauh lagi. Dia paham jika mungkin saat ini Erick masih agak terkejut.
"Kapan rencananya kamu akan berangkat?" Erick kembali bertanya setelah berhasil sedikit menetralkan perasaannya.
"Sekitar sebulan lagi," sahut Lalita.
Helaan napas terdengar hari mulut Erick. Halus, tapi juga berat. Jika Lalita akan berangkat ke Paris sekitar sebulan lagi dari sekarang, itu artinya tak tersisa banyak waktu lagi bagi dirinya untuk membersamai Kalandra.
"Maaf, aku tidak memberitahumu lebih awal." Lalita meminta maaf dengan tulus. Dia paham dengan apa yang Erick rasakan saat ini.
__ADS_1
"Kamu bahkan berhak untuk tidak mamberitahukan apapun padaku mengenai rencana hidupmu. Hanya saja, Kalandra ...." Kata-kata Erick menggantung di udara. Dia tak mampu melanjutkan. Tapi meski begitu, tentu saja Lalita sangat tahu apa yang Erick ingin sampaikan.
Sejak dulu Erick selalu memimpikan menjadi ayah yang sempurna untuk anaknya. Karena dirinya yatim piatu dan tak pernah merasakan kasih sayang dari orang tua, dia bertekad jika kelak memiliki seorang anak, maka dia akan mencurahkan seluruh kasih sayang itu dan memastikan anaknya tak akan pernah merasakan apa yang dirasakannya saat kecil dulu.
"Kamu akan tetap menjadi orang yang paling istimewa untuk Kalan, Erick. Bahkan jika aku berusaha menjauhkanmu dengan Kalan sekalipun, kamu tetaplah ayahnya. Darahmu mengalir di dalam diri Kalan. Separuh dari genmu kamu turunkan padanya. Insting dan intuisinya akan selalu mengarah padamu. Kamu tidak akan kehilangan peranmu sebagai seorang ayah, kalau itu yang kamu takutkan," ujar Lalita sembari tersenyum tipis pada Erick.
Erick menoleh dan tertegun mendapati betapa lembutnya tatapan Lalita saat ini padanya.
"Aku memang telah menutup kemungkinan kita untuk bersama, tapi aku tidak akan merampas hakmu sebagai orang tua Kalan. Tidak peduli sejauh apapun aku membawa Kalan, atau meski nantinya kita telah punya jalan hidup masing-mading, hal itu tidak akan mengubah fakta bahwa Kalan adalah putramu. Kamu akan tetap menjadi sosok yang paling penting untuk Kalan. Kamu boleh pegang kata-kataku," sambung Lalita lagi.
Serasa ada angin sejuk yang berhembus di hati Erick saat ini. Perasaan risaunya perlahan mereda. Lalita memang sosok yang penuh dengan ketulusan dan memiliki hati yang lapang. Sungguh bodoh dia baru menyadari semua itu sekarang. Andai itu perempuan lain, sudah pasti dia tidak akan diberi kesempatan untuk dekat dengan Kalandra, mengingat apa yang telah dilakukannya selama pernikahan mereka di masa lalu.
Hari-hari berlalu. Setelah mengetahui prihal rencana Lalita yang hendak pergi ke Paris bersama Kalandra, Erick semakin sering datang ke kediaman keluarga Baskara. Mungkin dia ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama Kalandra sebelum putranya ikut sang mama. Seperti sore itu, Erick datang dengan membawa sesuatu.
"Tadi aku mampir pusat perbelanjaan dan membeli beberapa pakaian untuk Kalan," ujar Erick sembari memberikan barang bawaannya pada Lalita.
Lalita menerimanya. Tentu saja Kalandra tak kekurangan pakaian. Bahkan banyak baju baru yang bahkan belum sempat dipakai bayi itu. Tapi tentu Lalita tetap harus menerima pemberian Erick.
"Terima kasih. Aku akan memasukkannya ke dalam koper pakaian yang akan dibawa," sahut Lalita sambil tersenyum. Dia lalu masuk sebentar, membiarkan Erick berdua saja dengan Kalandra.
Saat Lalita kembali, Kalandra tampak sudah berada di pangkuan Erick. Dilihatnya Erick menciumi wajah Kalandra berulang kali, seolah tak puas dia melakukan hal itu. Lalita terdiam sejenak melihat pemandangan itu. Dia tahu, pasti berat bagi Erick untuk melepas Kalandra pergi jauh selama bertahun-tahun.
__ADS_1
"Kalan jangan nakal nanti di sana, ya. Jangan buat Mama repot," ujar Erick sembari memeluk Kalandra.
Kalandra hanya menanggapi dengan tertawa riang dan menepuk-nepuk wajah Erick dengan kedua tangan mungilnya.
"Kalan tidak akan lupa dengan Papa, kan? Jangan lupakan Papa, ya ...."
Lalita terkesiap mendengar kalimat terakhir yang Erick ucapkan pada Kalandra. Entah kenapa suara lelaki itu terdengar sangat menyedihkan. Tapi tentu Lalita tak akan goyah. Toh, kepergiannya membawa Kalandra bukan niat untuk menjauhkannya dengan Erick, tapi upaya untuk meraih impiannya.
Tak terasa, hari keberangkatan Lalita pun akhirnya tiba. Riani dan Larisa ikut berangkat juga bersama Lalita dan rencananya akan menginap di Paris selama beberapa hari untuk melihat-lihat seperti apa suasana tempat Lalita dan Kalandra akan menetap selama beberapa tahun.
Erick mengantar ke bandara bersama dengan Arfan. Selama menunggu jadwal pesawat lepas landas, dia terus memangku Kalandra sembari memeluk bayi itu erat, seolah berat sekali untuk dilepaskan. Hingga akhirnya tibalah saatnya untuk Lalita, Larisa dan Riani untuk berangkat.
Dengan perasaan yang berkecamuk, Erick pun akhirnya menyerahkan Kalandra ke dalam gendongan Lalita. Diciumnya sekali lagi putranya itu sebagai salam perpisahan.
"Jangan nakal, ya, Sayang," ujar Erick sembari mengusap lembut pucuk kepala Kalandra. Suaranya terdengar bergetar.
Erick lalu melambaikan tangannya pada Kalandra yang mulai menjauh seiring dengan langkah Lalita menuju tempat boarding pass. Dipandanginya Kalandra yang masih melihat ke arahnya, juga punggung sang mantan istri. Dalam hati dia merasa seperti ada yang lepas dari dirinya, seolah setelah ini dia benar-benar akan kehilangan Lalita sepenuhnya. Namun, apapun itu, Erick berusaha untuk mengikhlaskan semuanya.
"Selamat Jalan, Lita. Semoga kamu bisa meraih impianmu. Semoga kamu bisa menjalani kehidupanmu dengan bahagia, bersama siapapun nantinya. Terima kasih untuk tidak membenciku ...."
Bersambung ....
__ADS_1