The Broken Ring

The Broken Ring
The Broken Ring


__ADS_3

Orang bilang, penderitaan terbesar adalah penyesalan yang berkepanjangan. Itulah agaknya yang kini tengah Erick rasakan. Sesak di dada karena rasa sesal tak berkesudahan itu sepertinya begitu enggan menjauh darinya. Seribu kata andai terus menari-nari di dalam pikiran lelaki itu, membuatnya perlahan merasa frustrasi. Andai dulu dia tak melewati batas saat menjalin hubungan dengan Larisa, sehingga Larisa tak perlu menggugurkan kandungannya yang berakibat pada rusaknya rahim perempuan itu. Andai dulu dia tak terlalu membenci Lalita dan memperlakukannya dengan lebih baik, sehingga Lalita tak perlu merasakan penghinaan darinya yang tak berdasar. Andai situasinya tak serumit ini, sehingga ada jalan baginya untuk kembali merengkuh sang mantan istri. Andai ....


Pada akhirnya, Erick pun lelah berandai-andai dan menarik dirinya untuk kembali pada kenyataan saat ini. Kenyataan jika jalan antara dirinya dan Lalita memang sudah salah sejak awal. Mungkin mereka memang tidak ditakdirkan untuk berjodoh.


Erick pun menghela napas panjang dan menatap ke arah sekelilingnya. Dia tak boleh memperlihatkan raut wajah sedih di tengah suasana bahagia seperti sekarang, karena ini adalah hari yang paling istimewa untuk mantan istrinya.


Ya, hari itu adalah hari pernikahan Lalita dan Rainer.


Erick datang dengan memakai setelan jas yang sama dengan Kalandra. Mereka terlihat kompak. Bahkan dia juga berusaha untuk tersenyum seperti halnya Kalandra yang merasa senang karena mama dan daddy-nya menjadi pengantin. Erick terus berusaha untuk meyakinkan hatinya jika dirinya juga ikut berbahagia. Ah, tapi rupanya pura-pura bahagia itu sangat sulit. Erick hampir menyerah dan hendak menyingkir, tapi urung dia lakukan karena Kalandra yang berjingkrak kegirangan saat seseorang menuntun Lalita memasuki ruangan tempat prosesi pernikahan akan dilaksanakan.


"Pa, lihat Mama, Pa! Lihat Mama!" tunjuk Kalandra ke arah Lalita.


Tentu saja Erick langsung melihat ke arah ujung telunjuk Kalandra. Lalita tampak begitu cantik. Namun sayang, hari ini dia tampil bak bidadari bukan sebagai pengantinnya Erick, melainkan pengantin untuk Rainer.


"Mama cantik, ya, Pa?" Kalandra bertanya dengan riang, tak menyadari sedikitpun kepiluan hati sang papa. Yah, anak kecil mana tahu urusan hati orang dewasa.


"Pa, Mama cantik, kan?" Kalandra bertanya sekali lagi karena Erick tak kunjung menjawab pertanyaan sebelumnya.


"Iya. Mama Kalan cantik sekali." Erick akhirnya menyahut dengan nada getir. Dia jadi teringat hari pernikahannya dulu dengan Lalita. Hari yang dulu dia anggap sebagai hari paling buruk dalam hidupnya. Hari di mana impiannya untuk bersanding dengan Larisa mesti hancur, dan hal itu membuat hatinya begitu membenci sosok Lalita, perempuan yang terpaksa dia nikahi.


Saat itu, Lalita juga tampil sebagai pengantin yang sangat memukau, tapi Erick bahkan tak sudi menatap ke arahnya. Hal yang akhirnya kini menambah panjang daftar penyesalan di hari Erick untuk sang mantan. Membuatnya sekali lagi mengulang kata andai di dalam benaknya.


"Wah, hebat. Mama dan Daddy sungguhan jadi pengantin." Kalandra bertepuk tangan dengan riang, membuat Erick memejamkan matanya sejenak sembari menghela napas perlahan.


Prosesi pernikahan Lalita dan Rainer pun dimulai. Suasana berubah menjadi begitu khidmat. Tangan Erick terasa dingin dan bergetar, seolah dunia di sekelilingnya hendak runtuh.


"Pak Erick sakit?" Suara pertanyaan seseorang yang terdengar setengah berbisik membuyarkan isi kepala Erick.

__ADS_1


Erick menoleh. Dia hampir lupa jika datang ke acara hari ini tak sendirian, tapi membawa serta salah seorang karyawannya karena tak sanggup jika harus datang sendiri.


"Muka Bapak pucat sekali, Pak. Mau saya ambilkan air minum?" tanya karyawan Erick lagi. Gadis muda itu tampak memperlihatkan raut wajah khawatir.


"Papa sakit?" Kali ini Kalandra yang bertanya.


Buru-buru Erick menggeleng.


"Papa tidak apa-apa," sahut Erick. "Tidak perlu khawatir, Shelin. Saya tidak apa-apa." Erick juga menjawab karyawannya.


Gadis bernama Shelin itu mengangguk, meski dalam hati dia yakin jika Erick tak baik-baik saja.


Erick pun menegakkan punggungnya dan berusaha bersikap biasa. Beberapa saat kemudian, prosesi pernikahan Lalita dan Rainer pun selesai. Kedua orang tersebut dinyatakan sah sebagai suami istri. Mereka berdua lalu diantar duduk di pelaminan. Kalandra juga tak lama menyusul ke sana atas permintaan Lalita.


Erick memandang dari jauh dengan perasaan yang tak bisa dia jabarkan. Dia ingin ikut bahagia, tapi hatinya malah merasa nelangsa.


"Mama memanggilmu untuk foto bersama," ujar Larisa memberi tahu.


"Ah, iya." Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Erick. Dia sungguh ingin menolak. Bagaimana nanti kalau raut wajahnya yang kusut akan tercetak jelas di momen pernikahan Lalita. Pasti akan menjadi hal yang tak mengenakkan.


"Kalan sudah menunggu. Dia ingin berfoto bersamamu juga katanya," tambah Larisa lagi.


Kali ini Erick tak bisa menolak. Dia pun mengiyakan sembari bangkit dari duduknya.


Larisa lebih dulu pergi setelah Erick setuju untuk berfoto bersama. Gadis yang hingga kini masih terus sendiri itu memang seakan menjaga jarak dengan Erick setelah melakukan operasi pengangkatan rahim beberapa tahun lalu. Dialah beban penyesalan terbesar Erick sehingga lelaki itu tak berani untuk berkhayal membersamai Lalita lagi.


Erick berpamitan pada Shelin sebelum akhirnya melangkah menuju pelaminan. Dengan segenap hati yang berusaha dikuatkan, dia pun berfoto bersama Rainer, Lalita dan Kalan sembari memperlihatkan senyuman semanis mungkin. Setelah itu, Erick juga memberikan selamat pada pasangan pengantin baru tersebut.

__ADS_1


Ah, Lalita. Senyumnya sungguh terlihat cerah. Kalandra pun terlihat sama. Bahkan Larisa yang memasang wajah datar dan dingin di hadapan Erick, saat berfoto bersama juga terlihat sangat bahagia. Semua ternyata bahagia hari ini, kecuali dirinya.


Erick tak tahan lagi. Dadanya kembali terasa sesak. Dia pun berpamitan dan menyeret langkahnya menjauh dari pelaminan. Entah seberapa jauh Erick melangkah, tibalah dia ke salah satu sudut tempat yang tak dilalui orang-orang.


Kaki Erick akhirnya berhenti. Dia tercenung dengan tatapan yang terlihat kosong. Tanpa sadar tangannya merogoh saku celana dan mengeluarkan sebuah benda dari sana. Benda yang merupakan cincin yang dulu pernah dia sematkan di jari manis Lalita saat hari pernikahan mereka, tapi lalu Lalita kembalikan lagi padanya karena kenyataan pahit yang akhirnya diketahui oleh perempuan itu.


Mata Erick mulai memanas tatkala menatap cincin itu. Kilasan semua perlakuan kasar serta penghinaan yang dia lontarkan pada Lalita saat perempuan itu menjadi masih istrinya, kini memenuhi ingatannya layaknya film yang diputar kembali. Dua tahun Lalita menjadi istrinya, dua tahun pula dia membenci dan berlaku seenaknya pada Lalita. Bahkan saat terpaksa menggauli Lalita pun dia sampai membayangkan wajah Larisa. Tangan Erick pun bergetar karena mengingat memori itu, sehingga cincin dalam genggamannya jatuh menggelinding ke sembarang arah.


Pertahanan Erick akhirnya runtuh. Dia kalah. Tangisnya pecah. Tangis penyesalan yang terdengar begitu memilukan.


"Pak Erick. Bapak di sini rupanya." Sebuah panggilan dari arah belakang Erick membuat lelaki itu mengatup mulutnya sejenak. Suara itu milik Shelin.


"Bapak menjatuhkan sesuatu," ujar Shelin lagi.


Erick akhirnya membalik badan ke arah Shelin. Sontak gadis itu terkejut melihat wajah Erick yang beruraian air mata.


Shelin mendekat dan menatap Erick dengan tatapan tak percaya.


"Pak Erick? Bapak kenapa?" tanya Shelin.


Erick tak menjawab. Dia membisu dengan tatapan sendu mengarah pada Shelin. Detik berikutnya, Shelin semakin terkejut tatkala Erick menjatuhkan keningnya di bahu gadis itu sembari kembali tergugu pilu.


Bersambung ....


Wah, ternyata banyak yang sayang sama Erick, ya wkwkwk. Buat tim rujuk, sabar ... sabar ... ini ujian. Kenapa Erick ga dibuat rujuk sama Lalita, karena itu adalah jalan tengah yang akan membuat mereka semua benar-benar bahagia pada akhirnya. Kalo balikan, justru ga akan ada yang benar-benar merasa bahagia, karena ada beban rasa bersalah dari masing-masing tokoh.


Buat yang beranggapan ga adil, kenapa Erick sendiri yang terkesan menderita, yang lain bahagia. Bahkan Arfan pun dikasih kesempatan kedua. Tenang guys, ini kan baru part Lalita yg bahagia. Nanti Erick, bahkan Larisa pun ada saat bahagianya. Untuk Arfan, dia ga bisa disamakan sama Erick. Biarpun tindakannya terkesan banyak jahatnya, tapi dia punya andil banyak dalam hidup Riani. Dia udah banyak ngasih kontribusi pada Riani dan Larisa, bahkan untuk Erick. Mungkin kyk Aaron ke Zaya gitulah. Beda dengan Erick yang ga ada kontribusi apapun dalam hidup Lalita. Gitulah pokoknya wkwkwk.

__ADS_1


Terima kasih atas semua supportnya ya, Sayang-sayangku.


__ADS_2