
Suasana pagi hari tampak cerah. Arfan terlihat duduk di bangku taman rumahnya sembari menikmati sinar matahari pagi. Beberapa saat tadi dia baru saja selesai melatih kedua kakinya berjalan tanpa menggunakan alat bantu apapun dan kini tampaknya lelaki paruh baya itu merasa agak lelah. Dia memang telah bisa berjalan, tapi masih dengan menggunakan tongkat. Bicaranya juga sudah jelas seperti sedia kala.
"Papa." Terdengar suara Lalita memanggil.
Arfan menoleh dan mendapati Lalita telah berada di sampingnya. Ia pun tersenyum ke arah putrinya itu.
"Obatnya jangan lupa diminum," ujar Lalita sembari meletakkan botol obat serta segelas air putih di meja yang ada di samping Arfan.
"Iya, terima kasih," sahut Arfan sembari meraih obat tersebut dan mengeluarkannya sebutir. Dia lalu menenggak obat tersebut dengan air putih yang tersedia.
Lalita tersenyum. Dia merasa lega karena sekarang kondisi sang papa sudah jauh lebih baik. Bahkan, dari hari ke hari perkembangannya terus meningkat.
"Aku ke rumah sakit dulu, ya, Pa. Katanya hari ini Kak Risa diperbolehkan keluar dari rumah sakit," ujar Lalita lagi.
"Benarkah?"
"Iya. Tadi Mama menelepon."
Arfan tampak terdiam selama beberapa saat.
"Mereka akan pulang ke rumah ini, kan?" tanya Arfan kemudian.
Kali ini Lalita yang sedikit tertegun. Tempo hari, dia memang telah meminta Larisa untuk pulang ke rumah itu, tapi Larisa menjawab akan mempertimbangkannya terlebih dahulu. Setelahnya Lalita lupa untuk menanyakannya kembali pada Larisa.
"Aku tidak tahu, Pa. Tempo hari Kak Risa masih kelihatan ragu untuk pulang ke sini. Kalau Mama sendiri akan menuruti Kak Risa. Mama akan tinggal di mana Kak Risa merasa nyaman untuk tinggal," sahut Lalita.
Terdengar Arfan menghela napasnya.
"Harusnya Papa datang ke rumah sakit dan menemui Risa langsung untuk memintanya pulang ke rumah ini. Papa juga mesti minta maaf secara langsung pada Mama dan Kakakmu." Arfan setengah bergumam.
Lalita kembali tersenyum. Sekarang Arfan tampaknya telah benar-benar mengakui Larisa dan Riani sebagai anak serta istri. Kalimat yang diucapkannya terdengar tulus.
"Kondisi Papa kan memang belum benar-benar pulih. Mama dan Kak Risa pasti maklum. Papa tidak usah khawatir," sahut Lalita menenangkan.
Arfan menoleh ke arah putrinya itu dan menatapnya sejenak.
"Lita," panggilnya sembari menunjukkan raut wajah ragu-ragu. "Menurutmu, apa Risa dan Mamamu mau memaafkan Papa?"
"Tentu saja." Lalita menyahut mantap.
__ADS_1
"Tapi ... Papa sudah begitu banyak melakukan kesalahan pada mereka ...." Arfan kembali bergumam.
Sekali lagi Lalita mengembangkan senyumnya.
"Papa sudah menyadari hal itu saja sudah sangat luar biasa, Pa. Setelah ini, Papa memang harus meminta maaf langsung pada Mama dan Kak Risa. Terlepas bagaimana tanggapan mereka, yang penting Papa sekarang susah berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Kalau memang Mama dan Kak Risa tidak bisa langsung menerima untuk kembali pulang ke sini, tidak apa-apa. Kita juga harus memberi mereka waktu," ujar Lalita.
Arfan kembali menghela napasnya, lalu mengangguk.
"Iya, kamu benar. Mereka pasti butuh waktu. Apalagi Papa pernah mengusir mereka, meskipun secara tidak langsung," sahut Arfan.
"Sudahlah, Papa jangan terlalu banyak pikiran. Fokus saja dulu pada pemulihan Papa. Percaya saja, semuanya akan berjalan ke arah yang lebih baik."
Arfan mengangguk, lalu kembali menghela napas.
"Oh, iya. Apa kamu serius dengan rencanamu setelah melahirkan nanti?" tanya Arfan mengalihkan pembicaraan.
Lalita mengangguk.
"Iya, Pa. Aku serius. Itu adalah impianku yang tertunda. Maaf kalau aku tidak tertarik mengelola hotel seperti Papa dan Kak Risa," sahut Lita.
"Tapi apa nanti kamu tidak kerepotan? Mengurus anak bukan hal mudah, apalagi jika harus sambil melakukan hal lain."
Mau tak mau Arfan pun terkekeh mendengarnya.
"Ya sudah, Pa. Aku pergi dulu, ya. Mama pasti sudah menunggu," ujar Lalita kemudian berpamitan.
Arfan mengangguk mengiyakan, lalu melambaikan tangannya sebelum kemudian Lalita berlaku dari hadapannya.
Tak lama kemudian, Erlan datang dengan membawa laporan operasional hotel selama Arfan absen. Karena sekarang kondisi Arfan sudah sangat memungkinkan untuk menerima laporan tersebut, dia pun meminta asistennya datang.
"Semuanya tidak ada kendala, Tuan. Tempo hari memang sedikit terjadi masalah karena Nona Risa tiba-tiba masuk rumah sakit. Pekerjaannya di hotel tentu saja menjadi terbengkalai. Tapi Tuan Erick bisa mengatasi itu. Semuanya sudah terhandel," ujar Erlan setelah selesai menjabarkan laporannya. Dia lalu menyerahkan beberapa berkas untuk Arfan periksa.
"Mereka berdua sudah bekerja keras," gumam Arfan sembari membaca laporan tersebut.
Erlan mengiyakan. Namun dalam hati dia merasa sedikit heran. Tak biasanya Arfan mengapresiasi kerja keras Larisa dan Erick dengan mulutnya sendiri.
"Saya dengar, setelah Tuan kembali ke hotel, Tuan Erick dan Nona Risa akan kembali berhenti," ujar Erlan memberi tahu.
Arfan menghentikan gerakan tangannya yang hendak membalik halaman berkas. Dia baru teringat jika sebelumnya Erick dan Larisa memang telah mengundurkan diri. Mereka kembali hanya karena keadaan dirinya yang tiba-tiba harus dirawat secara intensif.
__ADS_1
"Aku tidak akan menahan Erick, tapi Risa tidak akan kemana-mana. Dia adalah penggantiku setelah aku pensiun nanti," ujar Arfan setelah terdiam selama beberapa saat.
Terang saja Erlan kembali dibuat heran dengan apa yang didengarnya barusan.
"Maksud Anda, Nona Risa yang kelak akan menjadi direktur?" tanya Erlan memastikan.
"Iya," sahut Arfan.
"Tapi ... bukankah sebelumnya Anda bilang, posisi itu akan diberikan pada Nona Lita setelah tiba saatnya nanti, Tuan?"
Arfan sedikit menghela.
"Sebelumnya aku memang berpikir begitu. Tapi setelah dipikirkan lagi, Lita tidak berminat untuk terjun ke hotel. Dia malah ingin merintis usaha lain. Sedangkan Risa memiliki kemampuan mengelola hotel lebih dari kemampuanku saat aku seusianya dulu," sahut Arfan.
Erlan tak mengatakan apapun lagi. Dari cara bicaranya, terdengar seolah atasannya itu menganggap Lalita dan Larisa memiliki posisi yang sama, bukan anak kandung dan anak tiri yang dibedakan seperti sebelumnya. Apakah dia salah?
"Erlan." Suara panggilan Arfan membuyarkan isi kepala Erlan.
"Ya, Tuan," sahut Erlan sigap.
"Bisa kamu antar aku ke rumah sakit?" tanya Arfan.
"Apa Tuan merasa ada yang tidak nyaman? Mau cek kondisi tubuh Anda?" Erlan balik bertanya.
"Tidak, bukan begitu. Aku mau menjemput Risa. Katanya hari ini dia keluar dari rumah sakit."
Erlan tertegun selama beberapa saat. Tak tahu harus berkata apa.
"Kenapa kamu malah bengong? Ayo!" seru Arfan.
"Tapi, Tuan. Nona Lalita bilang, Anda belum boleh bepergian dulu." Erlan akhirnya menyahut.
"Aku baik-baik saja. Rumah sakitnya kan tidak terlalu jauh. Lagipula, kita naik mobil, bukan jalan kaki," ujar Arfan.
"Ya?" Erlan tampak memperlihatkan raut wajah tak percaya. Sejak kapan memangnya atasannya ini suka berseloroh?
Bersambung ....
Terima kasih atas doa dan supportnya ya Kakak2 semua. Maaf saya ga balas komennya satu-satu.
__ADS_1