
Larisa mengemudikan mobilnya menuju rumah dengan tatapan yang agak menerawang. Entah kenapa hatinya terasa begitu ngilu mengingat raut wajah Zayn saat dia menceritakan tentang masa lalu kelamnya. Lelaki itu terlihat syok, tak menyangka dan tercenung cukup lama. Bahkan saat Larisa pamit undur diri pun Zayn tetap bergeming di tempatnya. Seperti tak hirau. Sekecewa itukah dia pada kebenaran atas diri Larisa?
Larisa sendiri juga tidak merasa baik-baij saja. Meski bukan kali pertama mendapatkan reaksi seperti itu, kali ini rasanya sungguh berbeda. Jika sebelumnya ia masih bisa tersenyum seolah tak terjadi apa-apa, hal itu tidak berlaku sekarang. Dadanya terasa begitu nyeri dan juga sesak. Mungkin karena dirinya juga memiliki perasaan suka pada Zayn meski tak begitu mendalam, tanpa disadari dia sedikit berharap pada lelaki itu. Berharap jika Zayn berbeda dari para lelaki sebelumnya dan mau menerima kekurangannya dengan suka rela.
"Apa yang kamu pikirkan, Risa?" Larisa bermonolog pada dirinya sendiri. Dia terkekeh, tapi di sisi lain juga menyeka sudut matanya yang berair. Sungguh mahal harga yang harus dia bayar atas kesalahan yang dilakukannya di masa lalu. Sepertinya, seumur hidup dia harus menjalani hari dalam kesendirian. Mengubur impiannya memiliki sebuah keluarga kecil yang bahagia.
Larisa berusaha untuk menghibur diri dengan mengingat semua hal menyenangkan, tapi tak ayal air matanya terus jatuh tanpa henti. Akhirnya, dia pun memarkir mobilnya di dekat sebuah taman kota. Dia mesti menenangkan diri dulu sebelum kembali ke rumah. Jangan sampai keluarganya melihat dirinya berantakan seperti sekarang. Sejak dulu, Larisa memang lebih suka memendam kesedihannya seorang diri ketimbang harus membaginya dengan orang lain.
Sudah tiga hari sejak pembicaraan antara Larisa dan Zayn siang itu. Larisa berusaha untuk tetap menjalani rutinitas seperti biasa seolah tak ada yang terjadi. Zayn juga tak menghubunginya lagi setelah hari itu. Jelas sekali jika lelaki itu juga memilih mundur seperti yang lain.
Larisa menghela napas panjang. Entah bagaimana dia jadi terus teringat dengan Zayn, padahal sebisa mungkin untuk tidak memikirkan atau mengharapkan lelaki itu lagi.
"Kak Risa," suara panggilan Lalita membuat Larisa menoleh.
"Sedang apa Kakak sendirian di sini?" tanya Lalita sambil duduk di samping Larisa.
Saat ini, Larisa memang sedang duduk sendirian di halaman belakang rumahnya sembari memandangi langit malam yang dipenuhi bintang-bintang. Sesekali disesapnya coklat panas dari gelas yang dia pegang.
"Kak?" panggil Lalita lagi karena Larisa tak merespon.
Mau tak mau Larisa pun menoleh.
"Kenapa kamu di sini? Kemana Rainer dan Kalan?" Larisa balik bertanya.
"Rainer sedang keluar. Ada urusan katanya. Kalau Kalan sudah tidur," sahut Lalita. "Kakak belum jawab pertanyaanku. Sedang apa Kakak sendirian di sini?"
"Tidak ada. Sedang ingin saja." Larisa berusaha tersenyum pada Lalita.
"Tahu, tidak? Sekarang Kakak itu terlihat seperti ABG galau yang baru putus dari pacarnya," ujar Lalita setengah menggoda.
Sekali lagi Larisa hanya menanggapi dengan senyuman. Hal itu tentu membuat Lalita menyadari ada yang tak beres dengan sang kakak.
__ADS_1
"Kakak bukan orang yang mudah terusik dengan hal sepele. Kalau sampai Kakak duduk menyendiri seperti sekarang, sudah pasti ada hal serius yang sedang Kakak pikirkan, dan itu bukan tentang pekerjaan," tebak Lalita.
"Memangnya hal serius apa yang mesti aju pikirkan selain pekerjaan?" Larisa berkilah.
Lalita mendesah. Salah satu hal yang seringkali membuatnya kesal pada Larisa adalah sifat tertutup kakaknya itu. Entah kenapa sulit sekali bagi Larisa hanya untuk sekedar bercerita.
"Jangan suka memendam beban berat sendirian, Kak. Lebih baik dibagi supaya terasa lebih ringan," ujar Lalita setengah putus asa.
"Yang harus dibagi itu kebahagiaan, Lita, bukan sesuatu seperti beban. Lebih baik menanggung beban seorang diri agar orang lain tak ikut menderita juga."
"Tidak, Kak. Keluarga bukan hanya tempat berbagi kebahagiaan, tapi banyak hal lain juga yang dibagi, termasuk beban kesedihan. Karena dengan begitu, kita bisa saling menguatkan." Lalita menyahut.
Larisa terdiam dan mencerna kata-kata Lalita barusan.
"Aku tahu Kakak orang yang kuat, tapi ada kalanya beban itu mesti dibagi pada orang lain, agar diri kita tidak hancur karena kelelahan, Kak," tambah Lalita lagi.
Larisa masih bergeming. Beberapa saat kemudian, terdengar helaan nafas dari mulutnya.
Sontak Lalita menoleh ke arah sang kakak dan menatapnya dengan sorot mata yang tak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Setelah yang terjadi di masa lalu, tentu kini dia lebih memperhatikan Larisa, jadi dia tahu kalau kakaknya itu mulai memiliki perasaan pada Zayn.
"Kak ...." Lalita memeluk Larisa dari samping. Kini dia jadi paham kenapa beberapa hari ini Larisa terlihat murung.
"Suatu hari nanti pasti akan datang seseorang yang mencintai Kakak dengan tulus serta menerima Kakak apa adanya. Sekarang hanya belum tiba saatnya," ujar Lalita.
"Tidak, Lita. Sepertinya tidak akan ada yang seperti itu." Larisa menyahut. "Tapi kamu jangan khawatir, aku tidak apa-apa. Hidup sebagai anak Mama dan Papa seperti ini terus juga bukan hal yang buruk."
"Kakak jangan pesimis seperti itu. Aku sangat yakin jika nanti Kakak akan bertemu dengan orang yang tepat. Lihat saja," ujar Lalita lagi. Suasana berubah menjadi agak sendu sehingga suaranya terdengar sedikit bergetar.
Larisa tertawa kecil. Dia tahu jika Lalita sedang berusaha untuk menyemangatinya, meski pada akhirnya adiknya itu jadi terbawa perasaan sendiri.
"Sudahlah. Nanti Rainer pulang melihat mukamu seperti ini, malah aku yang jadi sasaran suamimu itu. Inilah kenapa aku malas cerita apa-apa denganmu. Kamu pasti jadi melow," ujar Larisa pura-pura menggerutu.
__ADS_1
"Kenapa mesti takut pada Rainer? Bilang saja padaku kalau dia mengganggu Kakak," sahut Lalita. "Lagipula sudah pasti aku melow. Kakak sudah banyak sedihnya, harusnya sekarang Kakak itu bahagia. Aku jadi merasa bersalah karena sudah bahagia sendiri."
"Siapa bilang sekarang aku tidak bahagia? Aku sudah sangat bahagia, Lita. Bahagia kan tidak harus karena memiliki pasangan," sanggah Larisa.
Lalita tersenyum. Dia mengiyakan, meski dalam hati tentu dia masih berharap kakaknya itu kelak akan menemukan pasangan sejati yang akan menemani sampai Larisa tua nanti.
"Kalian di sini rupanya." Suara Riani terdengar, membuat Lalita mengurai pelukannya dan menoleh bersamaan dengan Larisa.
"Risa, ada tamu datang mencarimu," ujar Riani.
"Tamu?" Larisa sedikit menautkan kedua alisnya. Siapa yang datang menemuinya malam-malam begini?
"Iya. Pengacara Zayn. Mungkin ada hal mendesak mengenai hotel yang mesti dia sampaikan sekarang juga," sahut Riani.
Larisa tercenung sesaat mendengar nama Zayn.
"Temui sana. Pasti ada hal penting," ulang Riani lagi.
Larisa menghela napas sebelum akhirnya mengangguk, lalu pergi ke ruang tamu dengan sejuta pertanyaan di benaknya.
"Zayn?" Larisa menggumamkan nama Zayn tanpa sadar saat melihat lelaki itu duduk di ruang tamu.
Zayn pun langsung bangkit dari duduknya saat menyadari kedatangan Larisa.
"Ada perlu apa?" tanya Larisa setelah sebisa mungkin menetralkan gemuruh di dadanya.
"Risa ...." Zayn juga terlihat tak seperti biasanya.
"Boleh kita bicara di luar sebentar?"
Bersambung ....
__ADS_1