
Meski awalnya keberatan, Larisa dan Erick akhirnya bersedia kembali bekerja di hotel milik Arfan seperti sebelumnya. Tentu saja setelah keduanya kalah argumen dengan Riani.
Lalita dan Erlan saja sampai terheran-heran melihat sikap Riani yang mendadak berubah menjadi sosok yang tak terbantahkan. Perempuan yang selama ini hanya menjadi bayangan di belakang Arfan, kini tampil begitu gigih, sampai akhirnya dia berhasil meyakinkan Larisa dan Erick untuk menuruti kata-katanya.
Semuanya pun kemudian berjalan sesuai dengan apa yang Riani perintahkan. Larisa dan Erick membantu Erlan menghandle jalannya operasional hotel, sedangkan Riani sendiri membawa Arfan melakukan pengobatan di Singapura bersama Lalita. Perlahan tapi pasti, permasalahan yang dihadapi oleh Arfan bisa teratasi. Tentu saja hal itu membuat Lalita bisa sedikit bernapas lega.
Tak terasa, sudah hampir satu bulan Riani dan Lalita mendampingi Arfan menjalani pengobatan serta terapi di salah satu rumah sakit terbaik yang ada di Singapura. Kondisi Arfan sudah berangsur membaik, tapi lelaki paruh baya itu masih kesulitan berbicara dan belum bisa berdiri terlalu lama. Dia masih harus menggunakan kursi roda saat hendak pergi ke mana pun.
Arfan sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit, tapi masih harus menjalani terapi sebanyak tiga kali dalam seminggu. Hal itu membuatnya tak bisa langsung kembali ke tanah air. Erlan mengatur tempat tinggal sementara untuk Arfan, Riani dan Lalita. Sebuah apartemen yang letaknya tak jauh dari rumah sakit tempat Arfan menjalani pengobatan.
"Bagaimana perkembangan kondisi Papa, Ma?" tanya Lalita setelah Riani selesai menemui dokter yang merawat Arfan. Hari itu adalah jadwal Arfan melakukan terapi untuk mengembalikan fungsi saraf-sarafnya yang lumpuh.
"Papamu menunjukkan perkembangan yang sangat baik. Dokter bilang, peluang untuk kembali sehat seperti semula sangat besar. Asal rajin melakukan terapi," sahut Riani sambil tersenyum tipis.
Lalita juga ikut tersenyum mendengarnya.
"Barusan Om Erlan menelepon dan menanyakan kondisi Papa. Syukurlah kalau keadaan Papa terus membaik."
"Katakan pada Erlan supaya tidak perlu khawatir. Fokus saja pada urusan hotel," ujar Riani lagi.
Lalita mengangguk mengiyakan. Saat ini, operasional hotel bisa dibilang berjalan dengan baik meskipun Arfan tak ada di tempat. Selain karena Erlan memang kompeten, kehadiran Erick dan Larisa juga amat sangat membantu. Mereka bertiga bekerja sama dengan baik dalam menghandle semuanya.
"Papamu sudah selesai mengikuti terapinya? Kok kamu di sini?" Tiba-tiba Riani bertanya. Dia baru sadar jika saat ini Lalita berada di luar ruangan, sedangkan Arfan masih di dalam.
"Ah, itu ...." Lalita terlihat sedikit gugup.
"Papa sudah selesai, tapi katanya tadi kakinya mesti dipijat dulu, jadi aku keluar sebentar," ujar Lalita lagi mencari alasan, padahal sebenarnya dia diam-diam keluar karena ingin mencari celah apakah bisa menyelinap ke poli obgyn untuk memeriksakan kandungannya. Sejak berada di Singapura, Lalita memang belum pernah memeriksakan kandungannya lagi.
__ADS_1
Riani terdiam sejenak. Tentu saja dia tahu kalau saat ini Lalita sedang berusaha menutupi sesuatu. Tatapan Riani kemudian turun ke arah perut Lalita yang kini sudah terlihat cukup membuncit, namun berusaha ditutupi dengan atasan longgar.
"Kalau papamu sedang dipijat, kita tunggu di sini dulu," ujar Riani kemudian sambil duduk di salah kursi yang ada di dekat sana.
Lalita tertegun sejenak, sebelum akhirnya ikut duduk di samping Riani.
"Mumpung kita sedang berada di rumah sakit, kenapa tidak sekalian kamu periksakan kandunganmu?" tanya Riani sembari menoleh ke arah Lalita.
Terang saja mata Lalita langsung membeliak sempurna mendengar pertanyaan dari mamanya itu.
"A-apa yang Mama katakan?" Lalita balik bertanya dengan agak terbata.
Riani menghela napasnya perlahan, lalu menyandarkan punggungnya sembari memejamkan matanya sejenak.
"Memangnya mau sampai kapan kamu menyembunyikan kehamilanmu dari semua orang, Lita? Perutmu itu sudah tidak bisa ditutupi lagi. Lagipula, Mama juga pernah merasakan hamil, tapi berusaha menyembunyikannya dari orang lain, jadi Mama tahu saat ada orang lain yang melakukan hal seperti itu." Riani bergumam tanpa menoleh.
"Mama tahu, kamu pasti punya alasan menyembunyikan kehamilanmu, Lita, tapi hal itu bukanlah sesuatu yang tepat. Bagaimanapun, lambat laun semua orang pasti akan tahu," ujar Riani lagi.
Lalita menelan ludahnya dengan agak kepayahan. Benar yang dikatakan oleh sang mama. Dia tak akan bisa selamanya menyembunyikan kehamilannya. Lihat saja, setelah papanya tahu, sekarang mamanya juga.
"Aku juga sebenarnya sangat ingin memberitahu semua orang tentang kehamilanku, Ma. Tapi kemudian aku mengetahui kalau Erick tidak menyukaiku dan tidak pernah menganggapmu sebagai istri. Aku lalu memutuskan untuk tidak memberitahu pada siapapun, karena aku tidak mau anak ini dijadikan alasan agar aku bertahan dalam pernikahan yang tidak sehat itu." Lalita akhirnya menjawab dengan nada lirih.
Riani menoleh ke arah Lalita dan mengamati raut wajah putrinya itu sejenak. Dari ekspresi yang Lalita perlihatkan, jelas sekali jika perempuan muda itu punya banyak kekhawatiran.
"Mau bertahan atau mengakhiri hubungan pernikahanmu dengan Erick, itu hakmu sepenuhnya, Lita. Tapi kamu juga tidak boleh mengesampingkan fakta kalau anak yang ada dalam kandunganmu itu adalah anak Erick juga. Terlepas seperti apa hubungan kalian, dia tetap ayah dari calon anakmu. Erick berhak tahu," ujar Riani lagi.
Lalita tak menjawab. Apa yang dikatakan oleh Riani memang ada benarnya, tapi Lalita enggan untuk mengakui itu. Dia tetap tak ingin Erick tahu jika di dalam perutnya ada benih lelaki itu, meski tentu saja cepat atau lambat Erick akan tetap mengetahuinya.
__ADS_1
"Mama tahu, pasti kamu merasa berat jika harus berinteraksi dengan Erick lagi, meskipun hanya demi anak kalian saja. Tapi Lita, saat sudah menjadi orang tua, seringkali kita mesti mengesampingkan ego demi anak kita." Riani kembali berujar sembari menyentuh pundak Lalita lembut.
Keheningan pun menyelimuti Lalita dan Riani setelah itu, sampai kemudian seorang terapis keluar ruangan untuk memberitahukan kalau Arfan sudah selesai diterapi.
"Kamu lebih baik periksakan kandunganmu terlebih dahulu, mumpung di rumah sakit. Mama akan bawa papamu pulang," ujar Riani sambil bangkit dari duduknya. "Nanti setelah itu, Mama akan kesini lagi untuk menjemput kamu."
"Tidak usah menjemput. Mama temani saja Papa. Aku bisa pulang sendiri. Apartemen kita kan dekat, tidak jauh," sahut Lalita akhirnya. Dia memutuskan untuk lebih dulu memeriksakan kandungannya sebelum pulang, seperti niat awalnya.
Riani mengiyakan. Perempuan paruh baya itu kemudian membawa Arfan pulang ke apartemen mereka lebih dulu, sedangkan Lalita langsung menuju ke poli obgyn untuk memeriksakan kandungannya.
Hasil pemeriksaan kandungan Lalita juga baik. Bayi berjenis kelamin laki-laki yang ada di dalam perutnya tumbuh dengan sehat. Hal itu membuat Lalita sejenak melupakan kegalauan hatinya karena kata-kata Riana tadi. Dia langsung kembali ke apartemen dengan perasaan yang jauh lebih baik.
"Mama dan Papa mesti melihat gambar calon cucu," ujar Lalita bersemangat sesaat setelah masuk ke dalam apartemennya. Dia tak melihat jika di ruang tamu apartemen tersebut sedang duduk sesosok tamu yang datang tanpa diundang.
"Mama tadi ...." Kata-kata Lalita menggantung di udara saat menyadari orang yang duduk di sofa saat ini bukanlah mama atau papanya.
"Lita?" Orang tersebut langsung berdiri dan menatap Lalita dengan ekspresi tak percaya, terutama saat melihat ke arah perut perempuan itu.
"E-erick?" Lalita sendiri tampak bergumam dengan wajah pias.
Bersambung ....
Hai, apa kabar semuanya? Untuk ke sekian kalinya Mak Othor minta maaf karena baru bisa update. Sikon di RL ga memungkinkan buat nulis.
Entahlah, kayaknya belakangan otak gampang penat dan sulit diajak buat mikir, jadi dengan berat hati mutusin buat hiatus dulu sebentar. Semoga ke depannya bisa update rutin terus. Btw, setelah menamatkan novel ini dan yang satunya, kayaknya Mak Othor bakal rilis novel yang pendek-pendek ajalah, biar otak ga ngebul. Mungkin cukup 30-50 bab udah tamat, terus rilis judul baru lagi. Gitu aja.
Sehat-sehat semuanya♥️
__ADS_1