The Broken Ring

The Broken Ring
Pergilah, Erick ... Jangan Kembali Lagi ....


__ADS_3

Cukup lama Larisa menangis di pelukan Lalita, menumpahkan segala hal yang dia pendam dan membuat dadanya sesak. Tak pernah selama ini Larisa melakukan hal tersebut, meski itu pada mamanya atau pada Erick yang dulu pernah menjadi kekasihnya.


Setelah beberapa saat, perasaan gadis itu menjadi lebih lega. Semacam ada batu besar yang diangkat dari dadanya, membuat helaan napasnya terasa jauh lebih ringan dibandingkan sebelumnya.


"Terima kasih, Lita," ujar Larisa kemudian sembari mengurai pelukannya dan menyeka wajahnya yang basah karena air mata.


Lalita tersenyum. Ia beringsut menuangkan air ke dalam gelas, lalu diberikannya pada Larisa.


"Minum dulu, Kak," ujarnya lembut.


Larisa tertegun sejenak, sebelum akhirnya menerima gelas yang disodorkan padanya. Dia pun menenggak isi gelas tersebut hingga tandas.


"Terima kasih." Sekali lagi Larisa berterima kasih.


Lagi-lagi Lalita menanggapi dengan senyuman sembari mengambil alih gelas di tangan Larisa untuk diletakkan kembali ke atas nakas.


"Apa sekarang Kakak sudah merasa jauh lebih baik?" tanya Lalita.


Larisa mengangguk. Perasaannya saat ini memang sudah terasa jauh lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya.


"Mulai sekarang, kapanpun Kakak merasa tidak nyaman, Kakak bisa menceritakannya padaku. Aku akan mendengarkan Kakak kapan saja," ujar Lalita lagi.


Larisa kembali mengangguk, meski kali ini dengan agak ragu. Entah apa boleh dia bercerita tentang semua hal pada Lalita seperti layaknya saudara yang sesungguhnya?


"Kak, kita ini saudara. Ingat itu selalu." Sekali lagi Lalita berujar sembari mengusap punggung tangan Larisa.


Keheningan melanda setelahnya selama beberapa saat. Tampaknya Larisa masih merasa ragu. Bukan karena meragukan Lalita, tapi ia tak yakin apa mereka bisa menjadi saudara yang sebenarnya mengingat bagaimana selama ini Arfan mengatur fungsi dirinya untuk Lalita.


"Papa sekarang sudah menyadari semua kesalahannya, pada Kakak maupun pada Mama," gumam Lalita kemudian memecah keheningan. Seolah dia tahu apa yang sedang Larisa pikirkan saat ini.


"Ya?" Larisa langsung menoleh dengan raut wajah tak percaya.

__ADS_1


"Benar, Kak. Selama menjalani perawatan dan terapi di Singapura. Papa sudah banyak berpikir tentang semua hal yang telah dilakukannya selama ini. Papa juga sudah melihat bagaimana Mama begitu tulus mengurus Papa, meski sebelumnya Papa selalu memiliki prasangka buruk terhadap Mama. Papa menyesali semuanya, apalagi saat beliau mendengar kondisi Kakak saat ini." Lalita kembali menambahkan.


Larisa terdiam sembari menundukkan pandangannya. Dia tak tahu harus menanggapi kata-kata Lalita seperti apa. Seorang Arfan yang keras kepala dan memiliki ego yang tinggi, rasanya agan sulit dipercaya jika lelaki itu merasa bersalah atas hal yang pernah dia lakukan.


"Aku tidak sedang mengarang cerita, Kak. Sekarang pikiran Papa sudah lebih terbuka. Papa benar-benar sudah menyadari semua kekeliruannya selama ini. Tadi setibanya di bandara, Papa ingin datang kemari untuk membesuk Kakak, juga untuk meminta maaf langsung pada Kakak dan Mama, tapi kondisinya tidak memungkinkan. Papa masih harus banyak beristirahat, makanya langsung aku antar pulang ke rumah."


Larisa masih diam karena masih berusaha mencerna apa yang Lalita sampaikan barusan. Sebuah informasi yang rasanya agak mustahil terjadi, sehingga sangat sulit untuk dipercayai.


"Kak ...." Lalita kembali menggenggam tangan Larisa, membuat Larisa kembali mendongak ke arahnya.


"Maukah Kakak dan Mama kembali pulang ke rumah kita seperti dulu?" tanya Lalita dengan penuh harap.


"Ya?"


"Aku, Kakak, Mama dan Papa. Kita mulai lagi semuanya dari awal, hidup sebagai keluarga yang sesungguhnya. Keluarga yang saling menyayangi, saling mengisi, saling menghibur dan saling menguatkan ...."


Kali ini Larisa terkasima. Sungguh, apa yang Lalita katakan barusan adalah gambaran keluarga impian masa kecilnya. Saat pertama kali dibawa ke rumah Arfan, tentu dia memimpikan akan hidup di keluarga yang seperti itu. Tapi kenyataan menamparnya. Yang Arfan harapkan darinya serta sang mama hanyalah figur palsu untuk Lalita. Lalu mungkinkah sekarang mereka bisa menjadi keluarga yang diimpikannya itu?


"Papa sungguh sudah sadar, Kak. Percayalah. Mungkin Kakak perlu memberi Papa kesempatan agar bisa melihat sendiri perubahan Papa." Lalita kembali meyakinkan.


Lalita tersenyum. Larisa tak langsung menolak permintaannya, itu artinya masih ada peluang untuk menyatukan keluarga mereka lagi.


"Iya, tidak apa-apa. Pikirkan saja dulu dengan benar. Aku akan menunggu jawaban Kakak," sahut Lalita masih dengan senyum yang merekah.


Larisa juga balas tersenyum. Hatinya terasa agak menghangat. Entah apakah dia boleh merasa senang atau tidak.


Sementara itu, tanpa Larisa dan Lalita sadari, sejak tadi Riani mendengarkan pembicaraan keduanya dari balik pintu ruangan tersebut. Seperti halnya Larisa, Riani pun merasa tak percaya dengan apa yang Lalita katakan tentang Arfan. Bukannya menuduh Lalita sedang berbohong, tapi kenyataan itu memang agak sulit diterima. Arfan menyadari jika yang dilakukannya selama ini salah? Benarkah?


"Ma?" Sebuah suara membuyarkan isi kepala Riani. Dia menoleh dan mendapati Erick sudah berdiri di hadapannya dengan membawa sebuah food bag di tangannya.


Riani menghela napas. Dia susah lelah bersikap ketus pada Erick. Bahkan setelah diusir beberapa kali pun lelaki ini masih tetap datang kembali.

__ADS_1


Belum sempat Erick ataupun Riani mengatakan apapun, Lalita keluar dari ruangan tersebut. Tentu saja dia sedikit terkejut melihat kehadiran Erick, begitu pun sebaliknya.


"Kamu datang menjenguk Kak Risa, kan? Silakan ke dalam. Kak Risa sedang beristirahat," ujar Lalita kemudian setelah berhasil menetralkan raut wajahnya.


"Ah, iya." Erick terlihat agak canggung.


"Ini sudah waktunya makan siang, Ma. Lebih baik kita cari makan dulu." Lalita beralih pada Riani.


Riani mengiyakan setelah terdiam sejenak. Dia tahu kalau Lalita hendak memberikan ruang untuk Erick dan Larisa agar bisa berbicara. Mau tak mau Riani menuruti itu.


"Ayo," ajak Riani kemudian sembari menggandeng tangan Lalita.


Mereka kemudian berlalu dari hadapan Erick tanpa banyak bicara.


Erick sendiri tampak tertegun sejenak, sebelum akhirnya masuk ke dalam ruangan. Didapatinya Larisa sedang duduk sembari bersandar di atas brankar.


"Hai, Risa. Bagaimana kabarmu?" tanya Erick berbasa-basi saat Larisa menoleh ke arahnya.


Larisa menghela napasnya sejenak.


"Sudah jauh lebih baik," jawab Larisa kemudian.


"Aku bawakan bubur kesukaanmu. Kamu belum makan siang, kan?" tanya Erick lagi sembari menunjukkan food bag di tangannya. Dia berusaha tersenyum pada Larisa.


"Terima kasih. Taruh saja di sana. Nanti aku makan." Larisa menyahut.


Senyum Erick memudar. Dia pun menaruh makanan yang dibawanya ke atas nakas, seperti yang Larisa katakan, lalu duduk di kursi yang ada di samping brankar Larisa.


Suasana hening selama beberapa saat. Larisa tampak melempar pandangannya ke arah luar jendela, sedangkan Erick terlihat sedang menyusun kata-kata untuk menyampaikan sesuatu pada Larisa.


Setelah beberapa saat, Erick pun menemukan kalimat pembuka yang tepat. Namun, baru saja hendak membuka mulut, Larisa telah lebih dulu mengatakan sesuatu.

__ADS_1


"Pergilah, Erick ... Jangan kembali lagi ...."


Bersambung ....


__ADS_2