
Suasana di restoran Erick malam itu agak berbeda. Jika biasanya masih banyak pelanggan yang datang untuk makan malam, kali ini restoran ditutup lebih cepat. Hal itu karena Erick sedang mengadakan pesta barbekyu di tempat tersebut atas keinginan Kalandra.
Untuk ke sekian kalinya Kalandra memiliki keinginan absurd yang mau tak mau mesti Erick turuti. Bocah lelaki itu mendadak ingin merayakan ulang tahun, padahal ulang tahunnya sudah lewat sebulan yang lalu.
Sebenarnya, acara untuk Kalandra kali ini lebih pas disebut sebagai reuni keluarga, dibandingkan dengan pesta. Hanya ada Rainer dan Lalita, Larisa dan Zayn, juga Arfan dan Riani. Tentu saja Kalandra dan Erick. Beberapa saat kemudian, Riani mengatakan dirinya tak enak badan, sehingga Arfan pun memutuskan untuk mengajak Riani pulang lebih dulu.
Keseruan dan kehangatan masih terus berlanjut. Celotehan Kalandra membuat suasana menjadi sangat hidup. Erick sendiri tak pernah menyangka jika akan ada saat di mana dia duduk di antara Lalita dan Larisa dalam situasi yang menyenangkan seperti sekarang. Benar kata Lalita, seiring berjalannya waktu, luka yang dia torehkan kini tak terasa begitu menyakitkan lagi.
"Tambah lagi sosis bakarnya?" tanya Erick pada Kalandra.
Bocah itu mengangguk senang dengan bibir yang belepotan penuh saus barbekyu. Dia memang sangat menyukai sosis, sehingga menu apapun yang menggunakan bahan dasar sosis pasti akan dia makan dengan lahap.
Erick segera mengambil sosis yang masih berada di atas perapian dan menghidangkannya pada Kalandra.
"Hore! Papa is the best!" Kalandra berseru dengan sangat bersemangat.
Erick hanya menanggapi dengan tersenyum hangat, sembari mengusap lembut pucuk kepala Kalandra.
"Kalan tidak bagi sosisnya ke Mama sama Daddy?" tanya Erick.
"Mama sama Daddy tidak suka sosis," sahut Kalandra cepat.
Terang saja semua orang tertawa mendengarnya. Pasalnya, Kalandra memang tak akan segan berbagi makanan apapun pada orang lain, kecuali sosis.
Ekor mata Erick melirik ke arah Lalita sekilas. Mantan istrinya itu tampak tertawa dengan sedikit pelan. Dia juga terlihat bersandar di bahu Rainer, suaminya. Saat ini, Lalita memang sedang hamil muda dan kondisi tubuhnya saat ini sedang tak terlalu fit, tapi tentu saja dia masih menguatkan diri untuk menemani Kalandra merayakan ulang tahun yang kedua di tahun ini.
Erick tersenyum samar. Raut wajah bahagia Lalita dan sikap Rainer yang begitu lembut pada mantan istrinya itu, membuat Erick merasa lega. Lalu saat dirinya melihat juga ke arah Larisa yang sedang memangku anak adopsinya di dekat Zayn, hatinya juga menjadi semakin lapang. Dua kakak beradik yang pernah dia sia-siakan kini telah menjemput kebahagian mereka masing-masing. Serasa ada beban yang diangkat dari dalam diri Erick, membuatnya bisa bernapas dengan lebih nyaman sekarang.
"Nda, cucu ... cucu ...." Zidan merengek sambil memeluk leher Larisa. Bocah itu kini telah bisa berjalan dan berbicara, meski seringkali hanya Larisa saja yang mengerti ucapannya. Setelah beberapa bulan berada dalam asuhan Larisa, dia makin menempel dan seringkali sulit untuk Larisa tinggal bekerja.
"Zidan mau minum susu? Sebentar, ya, Bunda buat dulu susunya," sahut Larisa sambil mencium pipi Zidan.
"Biar Ayah yang buatkan," ujar Zayn. Lelaki itu bangkit, lalu mengambil botol susu dan susu formula dari dalam tas yang dibawa Larisa dari rumah.
Zayn bertanya pada Erick di mana dia bisa mendapatkan air matang hangat. Erick pun memberi tahu Zayn untuk pergi ke dapur restoran. Tak lama kemudian, Zayn kembali dengan membawa botol susu dengan isi yang telah siap diminum.
__ADS_1
"Terima kasih," ujar Larisa saat Zayn memberikan botol susu tersebut. Dia pun langsung memberikannya pada Zidan.
Zidan akhirnya tenang karena telah mendapatkan susu yang diinginkannya. Berulang kali Larisa mencium pipi Zidan, mengisyaratkan jika dia sangat menyayangi anak itu. Zayn sendiri memandangi keduanya sambil tersenyum hangat. Terlihat sekali jika saat ini Larisa telah mendapatkan kehidupan rumah tangga yang bahagia.
Tanpa sadar, Erick juga ikut tersenyum. Sekarang semuanya sudah menjadi jauh lebih baik. Sekali lagi hatinya terasa begitu lega.
"Pak Erick, saya permisi pulang dulu." Tiba-tiba saja suara seorang gadis menginterupsi isi kepala Erick. Tampak Shelin telah berdiri tak jauh darinya sambil menyandang sebuah tas yang biasa dia bawa saat pergi bekerja.
"Kamu belum pulang?" tanya Erick heran. Pasalnya, semua karyawannya yang lain sudah pulang sejak tadi.
"Belum, Pak. Ada laporan yang mesti saya perbaiki tadi. Sekarang baru selesai," sahut Shelin.
"Oh, baiklah." Erick bergumam.
"Saya permisi." Sekali lagi Shelin pamit undur diri.
"Lho, kenapa langsung pulang? Gabung dulu di sini, yuk," ujar Lalita sembari menegakkan punggungnya. Perempuan itu tersenyum pada Shelin.
"Iya. Kak Shelin jangan pulang dulu. Kalan punya banyak sosis bakar. Kak Shelin mau, kan?" Kali ini Kalandra yang meminta. Bocah lelaki itu malah langsung menarik tangan Shelin.
Shelin terlihat kikuk, tapi juga tak kuasa menolak. Dia pun akhirnya duduk tak jauh dari Erick.
"Ini, Shelin. Kamu mesti mencicipinya. Kalan tidak mau membagi ini dengan yang lain, tapi langsung menawarinya padamu. Kamu tidak boleh menolaknya," ujar Lalita dengan agak berseloroh. Dia menyodorkan sepiring penuh sosis bakar di hadapan Shelin.
"I-iya, terima kasih," sahut Shelin dengan sedikit gugup. Mau tak mau gadis itu mencicipi makanan di hadapannya.
"Enak kan, Kak?" tanya Kalan dengan mata berbinar.
Shelin mengangguk dengan agak malu-malu, "iya, enak."
"Iya, pasti enak. Kan yang bikin sosis bakarnya Papa Kalan," ujar Kalandra dengan bangga.
Hampir saja Shelin tersedak mendengar itu. Untung saja ada air mineral tak jauh dari tempatnya duduk, sehingga dia langsung menenggak air tersebut. Bagaimana bisa karyawan biasa sepertinya makan sesuatu yang dimasak oleh bos.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Erick.
__ADS_1
"I-iya, Pak," sahut Shelin gugup. Larisa dan Lalita hanya menahan senyum melihat gadis itu salah tingkah di dekat Erick.
"Makan pelan-pelan supaya tidak tersedak," ujar Erick.
Shelin mengangguk, lalu menundukkan wajahnya. Entah kenapa, wajahnya jadi bersemu merah.
"Ini sudah malam, Pak. Saya pulang duluan saja." Shelin akhirnya berbicara.
"Yah, kok pulang? Kan Kak Shelin belum makan sosisnya." Kalandra menyahut dengan agak kecewa.
"Sudah kok, ini." Shelin menunjukkan piring bekas dia makan.
"Masa cuma satu?"
Shelin tak tahu harus menjawab apa. Dia tak mau pulang ke kostan terlalu malam karena takut mengalami hal tak mengenakkan di jalan.
"Nanti saya antar kamu pulang," ujar Erick kemudian pada Shelin.
"Ya?" Shelin mendongak ke arah bosnya itu.
"Nanti saja pulangnya. Saya akan antar kamu sampai ke kostan. Jadi tidak perlu khawatir," ulang Erick lagi.
Shelin tak berkata apa-apa lagi. Dia mengangguk masih dengan ekspresi malu-malu.
Interaksi antara Erick dan Shelin tentu saja tak luput dari perhatian semua yang menyaksikan. Mereka berdua terlihat begitu manis duduk bersisian meski tidak dalam nuansa romansa yang kental, seperti halnya Lalita dan Rainer, ataupun Larisa dan Zayn.
Erick yang dewasa dan matang terlihat begitu tenang, sedangkan Shelin yang jauh lebih muda tampak bagai sebuah warna baru yang membuat aura di sekitar Erick kembali cerah. Mereka kini mungkin belum saling menyadari arti dari kehadiran masing-masing, tapi baik Lalita maupun Larisa, keduanya percaya jika kisah dua orang berbeda usia di hadapan mereka itu akan indah pada waktunya.
Seperti halnya Lalita dan Larisa yang kini telah berbahagia, Erick pun akan lekas menjemput kebahagiaan itu. Segera.
TAMAT
Sampai jumpa di cerita selanjutnya, My Problematic Husband (Shelin dan Erick). Insyaa Allah secepatnya akan rilis. Terima kasih sudah mengikuti sampai akhir.
♥️♥️♥️
__ADS_1