The Broken Ring

The Broken Ring
Percayalah Padaku


__ADS_3

Pernikahan Larisa dan Zayn digelar dua bulan setelah pertemuan keluarga. Meski dipersiapkan dalam waktu yang relatif singkat, tapi perhelatannya tak kalah mewah dibandingkan dengan pernikahan Lalita dan Rainer sebelumnya. Bahkan, ada banyak media yang meliput karena latar belakang keluarga Zayn yang masuk dalam lingkup orang berkuasa. Profil Larisa juga menganggumkan di mata publik karena dia adalah calon pengelola utama dari hotel-hotel milik Arfan.


Larisa dan Zayn, mereka tampak seperti pasangan pengantin yang hebat. Semua orang mengatakan jika mereka begitu serasi. Mereka semua tak tahu jika sepasang insan yang kini saling bergandengan dalam ikatan pernikahan itu adalah dua orang yang sama-sama memiliki 'cacat', namun berusaha untuk saling menutupi dan menyempurnakan.


Erick datang ke acara pernikahan itu. Kali ini, dia tak ditemani oleh Shelin seperti saat menghadiri pernikahan Lalita. Lelaki itu memberikan ucapan selamat dengan tulus, serta mendoakan kebahagiaan Larisa dengan segenap hati.


Setelah mengucapkan apa yang ingin diucapkan, Erick memilih untuk meninggalkan pesta yang meriah itu lebih cepat daripada undangan yang lain. Dia merasa telah cukup melakukan bagiannya. Kini Lalita dan Larisa telah sama-sama menemukan pendamping. Ada semacam batu besar yang seolah terangkat dari hati Erick. Dia lega karena kedua wanita yang sama-sama pernah menderita karena dirinya, kini telah menemukan kebahagiaan masing-masing.


Kini hanya tinggal Erick. Dan dia justru tak berpikir untuk mencari sosok perempuan pengganti Lalita. Lelaki itu tak terlalu berharap untuk bisa menjadi bahagia juga.


***


Setelah pernikahan, Zayn dan Larisa tinggal bersama di sebuah rumah yang diberikan Arfan sebagai hadiah pernikahan. Setelah dulu Lalita mendapatkan hadiah serupa saat menikah dengan Erick, Larisa kini juga mendapatkan gilirannya. Hanya berselang waktu sebulan, Larisa dan Zayn membawa serta Zidan ke rumah mereka.


"Terima kasih, Risa. Karena kamu, akhirnya Mama bisa memeluk Zidan sepuasnya. Mama bisa memberikan kasih sayang pada cucu Mama tanpa harus takut apapun lagi." Seruni, ibu mertua Larisa mengucapkan terima kasih sembari memeluk dan menciumi Zidan dengan rasa haru.


Setelah mendengar kabar Zayn dan Larisa telah membawa Zidan pulang, perempuan paruh baya itu langsung bergegas datang seorang diri.


"Aku juga ingin berterima kasih pada Mama, karena merestui aku menikah dengan Zayn, padahal Mama tahu masa laluku dan juga kekuranganku," sahut Larisa. Zayn memang merahasiakan keadaan Larisa dari semua keluarganya, tapi tidak dengan sang mama. Hal itu dikarenakan Seruni adalah orang yang memiliki hati luas dan tak mudah menghakimi.


Seruni menoleh ke arah Larisa dengan senyuman tipis yang terulas.


"Zayn juga sudah melakukan kesalahan besar, dan kamu menerimanya. Kamu bahkan mau menerima Zidan dengan sepenuh hati. Juga membuat Mama akhirnya bisa menggendong cucu Mama seperti ini. Lalu menantu seperti apa lagi yang Mama inginkan?" Seruni menanggapi.

__ADS_1


Tanpa sadar bibir Larisa menipis mendengarnya. Sejak dia menikah dengan Zayn beberapa waktu yang lalu, tak banyak interaksinya dengan Seruni. Tapi Larisa bisa langsung merasakan jika Seruni adalah orang yang lembut dan penuh kasih sayang. Berbanding terbalik dengan ayah mertuanya yang kaku dan agak dingin, mirip Arfan di masa lalu.


Mungkin karena dulu Larisa tak banyak merasakan kasih sayang Riani, kini yang Maha Pencipta mengirimkan sosok mertua yang begitu baik sebagai gantinya. Hal yang amat sangat patut untuk disyukuri.


"Kalau begitu, aku ganti baju dulu, ya, Ma. Titip Zidan sebentar." Larisa pamit masuk ke kamarnya karena saat ini dia memang masih mengenakan setelan kerja.


Seruni mengiyakan dan kembali menimang Zidan dengan raut bahagia. Setelah sekian lama, akhirnya kini dia bisa bebas mencurahkan kasih sayang pada cucunya itu.


Larisa masuk ke dalam kamarnya. Dia yang awalnya berniat mengganti pakaian, tampak urung karena melihat Zayn yang datang dari arah balkon kamar. Lelaki itu tadi pergi lebih dulu dari ruang keluarga karena ada yang menghubunginya.


"Papa meminta kita datang saat ini juga. Katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan dengan kita," ujar Zayn dengan raut wajah serius. Tentu papa yang dia maksud adalah Zamir, ayahnya.


Larisa tertegun sejenak.


"Sepertinya iya," sahut Zayn. "Bersiaplah, kita mesti segera datang. Papa bukan orang yang sabar untuk urusan menunggu. Zidan biar kita titipkan pada Mama dulu di sini."


Zayn tampak membuka lemari dan mengambil sebuah amplop besar dari sana. Entah apa isinya.


"Zayn." Larisa menarik ujung lengan baju suaminya itu.


"Kenapa?" tanya Zayn. Bisa dia lihat ekspresi Larisa yang sedikit khawatir.


"Apa yang mesti kita katakan pada Papa tentang Zidan? Lalu bagaimana pula nanti kalau Papa memintaku untuk segera memberimu anak?" Larisa balik bertanya.

__ADS_1


Zayn terdiam sejenak. Diamatinya raut wajah Larisa yang gelisah itu, lalu direngkuhnya tubuh Larisa ke dalam pelukannya. Zayn tahu, cepat atau lambat situasi ini akan datang. Tapi tentu dia telah menyiapkan sebuah rencana untuk mengatasinya.


"Jangan khawatir. Serahkan semuanya padaku, Risa. Aku tidak akan membuahkan kamu kesulitan," ujar Zayn lembut.


Larisa memejamkan matanya sejenak sembari menghela napas panjang. Aroma parfum Zayn terhirup indra penciumannya. Aroma yang belakangan menjadi kesukaannya. Tanpa sadar tangannya membalas pelukan Zayn. Dia tak mengerti kenapa kegelisahan yang dirasakannya perlahan mereda saat berada dalam pelukan sang suami seperti sekarang.


"Apa tidak sebaiknya kita jujur saya, Zayn? Memgenai kondisiku, juga mengenai Zidan?" tanya Larisa kemudian.


Zayn mengurai pelukannya dan menggelengkan kepala.


"Kamu tidak mengenal Papaku, Risa," ujarnya sembari menghela napas. "Jika beliau tahu kondisimu, rumah tangga kita tak akan dibuat tenang selamanya. Begitu juga kalau beliau tahu Zidan anakku bersama perempuan yang tidak jelas asal-usulnya, hal itu akan membuat Papa murka yang berimbas pada Mama. Setiap kesalahan yang dilakukan kami anak-anaknya, maka Mamalah yang akan paling berat menanggung hukuman." Zayn menjelaskan.


Larisa tertegun. Dia tak menyangka jika seorang petinggi pemerintahan yang memiliki reputasi luar biasa seperti Zamir ternyata sekeras itu pada keluarganya sendiri.


"Lalu kita mesti bagaimana?" gumam Larisa kemudian. Rasa khawatir kembali merayap di hatinya. Rasa cintanya terhadap Zayn mulai tumbuh dan semakin membesar seiring dengan perlakuan lembut suaminya itu padanya. Dia juga telah mulai menyayangi Zidan. Bagaimana jika nanti dia dipisahkan dari suami dan anak sambungnya itu?


"Risa, lihat aku." Zayn meraih ujung dagu Larisa dan mengarahkan agar istrinya itu agar menatapnya.


"Aku tidak akan membiarkan siapapun mengacaukan kebahagiaan kita. Bahkan jika itu Papa atau saudara-saudaraku. Serahkan semuanya padaku, oke?" Zayn meyakinkan.


Sekali lagi Zayn membawa Larisa ke dalam pelukannya.


"Suamimu ini bisa diandalkan, Risa. Percayalah padaku," bisik Zayn dengan nada yang begitu menenangkan.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2