The Broken Ring

The Broken Ring
Kembali Utuh


__ADS_3

Karena terhanyut dengan ingatan masa lalu, Riani tak sadar jika saat ini dirinya tidak lagi sedang merengkuh tubuh Lalita, melainkan tubuh Arfan. Dia masih terisak pilu sebelum akhirnya dia sadar jika tempatnya menyadarkan kepala saat ini adalah lelaki yang selama ini hanya bisa dia lihat, tapi tak mampu untuk disentuh.


Arfan sendiri tertegun dengan perasaan yang tak dapat dia jabarkan. Butuh waktu lebih dari dua puluh dua tahun baginya untuk menyadari jika sosok Riani sangatlah berarti untuknya.


Tangan Arfan yang bergetar perlahan terangkat, lalu dibawanya Riani ke dalam pelukannya. Tanpa sadar air mata lelaki itu jatuh. Tiba-tiba saja hatinya terasa begitu sakit. Karena keangkuhannya, selama ini dia selalu menyangkal perasaannya terhadap Riani. Dia tak ingin mengakui jika rasa cinta itu telah hadir sejak lama hanya karena tak ingin Riani besar kepala. Ah, sungguh picik sekali pemikiran itu. Bagaimana bisa selama ini dia mempertahankan pola pikir seperti itu.


"Kamu mau pulang ke rumah kita, kan?" tanya Arfan setelah dirasa Riani telah lebih tenang.


Riani mengurai pelukan Arfan, lalu menyeka air matanya. Dipandangnya sekali lagi lelaki itu selama beberapa saat. Hatinya terasa penuh tatkala melihat betapa hangatnya Arfan menatapnya. Dia masih tak percaya. Entahlah, semuanya terasa bagai mimpi untuk Riani. Suami yang selama ini begitu tak tergapai tiba-tiba saja memohon untuk diberi kesempatan. Bolehkan dia merasa senang? Atau semua ini hanya ilusi semata?


"Riani?" Arfan memanggil Riani sekali lagi karena istrinya itu tak juga memberikan jawaban.


"Apa kamu sungguh ingin aku dan Risa kembali?" Riani akhirnya mengeluarkan suaranya.


"Iya, tentu saja," sahut Arfan.


Riani mendongak ke arah Larisa yang masih duduk di pinggiran brankar. Gadis itu terdiam dengan raut wajah yang tak bisa dijabarkan. Mungkin dia juga masih tak percaya dengan tindakan Arfan saat ini, sama seperti sang mama.


"Sekarang semuanya terserah Risa," ujar Riani kemudian memberi jawaban. "Selama ini, aku banyak mengabaikan perasaan Risa dan tak pernah bertanya tentang pendapatnya mengenai semua hal. Sama seperti kamu, aku juga ingin memperbaiki semuanya. Aku tidak mau mengabaikan perasaan Risa lagi. Mau tinggal di mana, sekarang biar Risa yang memutuskan."


"Aku?" Larisa yang sejak tadi terdiam tampak bergumam.


Riani membantu Arfan bangkit, lalu mendekati Larisa.


"Iya. Sekarang Mama menyerahkan semuanya padamu, Risa. Jangan menahan perasaanmu lagi seperti dulu. Katakan apa yang kamu inginkan. Mama ingin kamu bahagia." ujar Riani.


"Tapi aku ...." Larisa tampak tak mampu berkata-kata. Dia pun menunduk sembari menghela napas panjang, sebelum akhirnya kembali bersuara.

__ADS_1


"Aku bahagia hanya saat Mama merasa bahagia," sahut Larisa sembari menatap Riani penuh arti.


Larisa lalu bangkit dan perlahan melangkah mendekati Arfan. Semua orang tampak terdiam, menunggu apa yang akan dilakukan olehnya.


"Berjanjilah, kali ini Papa akan memperlakukan Mama dengan baik. Papa akan membuat Mama bahagia, sampai-sampai Mama lupa dengan semua kesedihan yang Mama rasakan selama ini," pinta Larisa kemudian pada Arfan saat telah berada di hadapan lelaki itu.


Arfan terdiam sejenak melihat tatapan Larisa. Sejak kecil, gadis itu sangat takut kepadanya, tapi dia akan menjadi berani jika itu sesuatu yang berkaitan dengan Riani. Termasuk saat ini.


"Berjanjilah, Pa," ulang Larisa lagi.


Arfan mengangguk.


"Tentu saja. Jika memang masih ada kesempatan untuk Papa, tentu Papa tidak akan pernah menyia-nyiakannya. Papa berjanji akan melakukan yang terbaik yang Papa bisa," sahut Arfan.


Larisa menatap Arfan sejenak, mencoba mencari kesungguhan di raut wajah lelaki itu. Tentu saja dia bisa melihat jika saat ini Arfan lebih dari serius. Meski sulit untuk dipercaya, tapi tampaknya Arfan memang telah menyadari semua kekeliruannya selama ini.


Arfan dan Lalita tentu saja terlihat senang mendengarnya, tapi Riani justru terkejut.


"Risa?" Riani mendekati putrinya itu sembari memperlihatkan ekspresi tak mengerti.


"Bukannya kamu bilang mau pulang ke rumah lama Mama?" tanya Riani.


"Iya, tapi sekarang aku berubah pikiran," sahut Larisa.


"Kenapa? Bukannya tempo hari kamu yakin mau tinggal di sana? Tolong jangan berubah pikiran hanya karena kamu memikirkan kebahagiaan Mama saja. Sekarang kamu mesti memikirkan kebahagiaanmu juga, Risa." Riani menatap Larisa dengan sendu.


"Sejak dulu aku selalu memimpikan hidup bahagia di tengah keluarga yang utuh. Punya Mama yang penyayang, Papa yang luar biasa dan adik yang begitu manis. Kalian semua adalah kebanggaanku di hadapan semua orang, meski kenyataannya hubungan kita tidak seharmonis itu. Jika memang kita bisa benar-benar menjadi keluarga yang utuh, tentu saja ... tentu saja itu adalah impianku sejak dulu ...." Larisa berujar dengan agak tersengal karena manahan sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya.

__ADS_1


"Jika kita bisa menjadi keluarga sungguhan ... aku ... aku ... tidak menginginkan yang lain lagi ...." Larisa akhirnya terisak lirih.


Seperti ada sebuah batu besar yang menimpa hati Arfan saat melihat air mata Larisa. Seketika dia teringat pada sosok Larisa kecil yang seringkali mengintip dari balik pintu saat dirinya sedang bercengkrama hangat dengan Lalita. Sosok yang sejak lahir tak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah, bahkan juga tak cukup diperhatikan oleh ibunya sendiri. Sosok yang selalu menatap Arfan dengan takut-takut tapi juga penuh harap. Berharap untuk disayang juga seperti Lalita, tapi malah tekanan yang selalu didapatnya. Sosok yang begitu malang dan kasihan.


"Maafkan Papa, Risa." Arfan akhirnya membawa Larisa ke dalam pelukannya. Dia begitu menyesal. Seharusnya sejak awal dia menyayangi Larisa, bukan malah memperlakukannya dengan keras dan dingin.


"Maafkan Papa," ulang Arfan lagi dengan perasaan sesak yang tak tertahankan.


Setelah Riani, kini Larisa juga yang tersedu di pelukan Arfan. Sungguh, setelah apa yang dilakukan Arfan selama ini, seharusnya ada rasa benci di hati Larisa, tapi yang Larisa rasakan justru berbeda. Ada semacam kerinduan yang seolah terbalaskan. Kerinduan akan figur seorang ayah yang selama ini Larisa cari dari sosok Arfan.


Riani yang sebelumnya telah tenang tampak kembali tak mampu menguasai diri. Entah kata apa yang pantas untuk menggambarkan perasaannya saat ini. Sedih, pilu, sendu, tapi juga ada rasa bahagia. Semuanya berbaur menjadi satu.


Sementara itu, Lalita juga tampak menyeka air matanya, tapi tentunya sambil tersenyum bahagia. Dia mendekati Arfan yang masih memeluk Larisa, lalu ikut memeluk keduanya.


"Wah, sepertinya nanti Papa akan lebih sayang Kakak daripada aku," ujar Lalita berseloroh. Suasana pun menjadi sedikit mencair karenanya.


Larisa mengurai pelukan Arfan dan menyeka air matanya.


"Kalau begitu, kita pulang sekarang. Taksi yang Mama pesan sudah menunggu dari tadi," ujar Larisa.


"Biar nanti Erlan yang mengurus taksi itu. Pulang naik mobil Papa saja," sahut Arfan.


"Kamu mau pulang ke rumah kita?" tanya Arfan sekali lagi.


Larisa mengangguk, membuat Arfan dan Lalita tersenyum lega. Lalita bahkan langsung memeluk Riani karena senang. Setelah semua hal yang menyakitkan, akhirnya keluarga mereka kembali utuh. Bahkan berubah menjadi keluarga yang sesungguhnya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2