
Larisa dan Zayn pulang ke rumah dalam keheningan. Selama perjalanan, tak ada di antara mereka yang mengeluarkan suara. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Jika Zayn mengemudi sembari lurus menatap jalanan. Larisa sendiri melihat ke arah luar kaca jendela. Entah apa yang sedang berkecamuk di benak pasangan suami istri itu.
Seruni menyambut kedatangan anak dan menantunya dengan wajah khawatir. Dia takut rahasia Larisa dan Zayn terbongkar di hadapan suaminya. Jika hal itu terjadi, maka semuanya pasti tidak akan baik-baik saja.
"Di mana Zidan, Ma?" tanya Zayn saat mendapati Seruni tak sedang menggendong putranya.
"Zidan tertidur setelah tadi kenyang menyusu. Mama tidurkan dia di kamar kalian," sahut Seruni.
Zayn mengangguk menanggapi.
"Bagaimana tadi?" tanya Seruni kemudian.
"Aku sudah membereskan semuanya. Mama tidak usah khawatir. Setelah ini, Papa ataupun yang lainnya tidak akan bertanya apapun tentang Zidan, juga tidak akan menuntut Risa untuk hamil," jawab Zayn.
Meski yang dikatakan Zayn adalah hal yang melegakan, tapi tetap saja Seruni memperlihatkan raut wajah tak mengerti. Dia sangat tahu seperti apa suaminya. Bagaimana mungkin Zayn bisa meyakinkan Zamir semudah itu.
"Ma, terima kasih sudah menjaga Zayn. Aku masuk ke kamar dulu," ujar Larisa pada Seruni.
"Ah, iya." Seruni mengangguk mengiyakan.
Larisa pun berlalu meninggalkan Seruni dan Zayn. Membuat Seruni semakin bertanya-tanya.
"Apa yang terjadi di rumah kita tadi, Zayn? Kenapa Risa seperti itu? Semuanya baik-baik saja, kan?" Cecar Seruni pada Zayn.
"Tidak terjadi apa-apa, Ma. Risa mungkin masih merasa syok dan tertekan setelah berhadapan dengan Papa tadi. Mama tahu sendiri bagaimana Papa, kan? Tapi semuanya baik-baik saja," sahut Zayn.
"Bagaimana bisa Papamu membiarkan masalah ini begitu saja," ujar Seruni tak mengerti.
Zayn menghela napasnya sejenak. Setelah itu, dia pun menceritakan apa yang dilakukannya untuk membuat Zamir tak mempermasalahkan tentang Zidan lagi, juga tak akan menuntut Risa untuk hamil.
Seruni yang mendengarkan tampak termangu, sebelum akhirnya mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.
"Apa Mama keberatan dengan cara yang kulakukan?" tanya Zayn saat melihat ekspresi Seruni.
Seruni menggeleng, "tidak. Mama hanya tidak menyangka kamu sampai melakukan hal itu."
"Apa itu buruk?" tanya Zayn lagi.
Sekali lagi Seruni menggeleng, lalu tersenyum tipis.
__ADS_1
"Itu sama sekali tidak buruk, Nak. Mama tidak mengatakan jika kebohongan itu dibenarkan. Tapi seorang suami yang rela memikul kekurangan istri sebagai kekurangan dirinya, Mama tidak tahu lagi suami yang lebih baik dari itu. Mama sangat bangga karena kamu bisa melindungi istrimu dengan baik. Yang bisa Mama lakukan hanyalah berdoa agar semuanya terus baik-baik saja. Dan kalian selalu diberi kebahagiaan." Seruni berujar dengan tulus.
Zayn menatap Seruni sejenak, lalu menggenggam kedua tangan mamanya itu.
"Terima kasih, Ma. Terima kasih karena telah mendukung aku dan Risa," ujar Zayn sembari mencium kedua punggung tangan Seruni secara bergantian.
Seruni mengusap lembut pipi putra bungsunya itu.
"Sudahlah. Susul istrimu sana. Mama pulang dulu. Papa pasti akan bertanya macam-macam kalau Mama terlalu lama di sini," ujar Seruni.
Zayn mengangguk, "mau aku antar?
"Tidak. Mama bisa naik taksi. Katamu tadi Risa masih syok. Cepat tenangkan dia."
Zayn mengangguk. Meski memiliki papa yang sangat keras dan tak memahami dirinya. Dia bersyukur karena setidaknya memiliki ibu yang selalu mendukungnya.
Seruni akhirnya pulang dengan menggunakan sebuah taksi. Zayn mengantar sang mama sampai ke halaman rumah. Setelah itu, dia masuk kembali dan menyusul Larisa ke kamar mereka.
Di kamar, Larisa tampak telah mandi dan berganti pakaian. Dia duduk di pinggiran tempat tidur sembari menatap lembut ke arah Zidan. Entah apa yang sedang dipikirkannya saat ini.
"Risa," panggil Zayn.
Larisa menoleh.
"Tidak. Mama sudah pulang," sahut Zayn.
"Tidak kamu antar?"
"Mama bilang mau naik taksi saja."
"Oh, ya sudah." Hanya itu tanggapan Larisa.
Zayn mengamati istrinya itu sejenak. Jelas sekali ada yang sedang mengganggu pikiran perempuan itu meski permasalahan dengan Zamir bisa dibilang sudah selesai.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, Risa?" tanya Zayn.
Larisa bangkit.
"Mandi dulu sana biar segar," ujar Larisa sembari membuka lemari pakaian dan mengambilkan pakaian ganti untuk Zayn.
__ADS_1
Zayn melangkah mendekati Larisa yang sedang membelakanginya, lalu memeluknya dari belakang.
Larisa membeku sejenak. Tapi meski terkejut, dia tak berniat melepaskan diri.
"Semuanya sudah beres. Apa lagi yang kamu khawatirkan, hm?" tanya Zayn lembut. Lelaki itu meletakkan dagunya di atas kepala Larisa.
Larisa masih terdiam. Dia tak tahu seperti apa sebenarnya perasaan Zayn padanya, tapi sungguh perlakuan lelaki itu padanya membuat ia merasa begitu dicintai.
"Kenapa kamu melakukan itu?" tanya Larisa kemudian setelah terdiam cukup lama.
"Melakukan apa?"
"Mengakui pada Papa dan yang lain kalau kamu mandul. Haruskan sampai sejauh itu?" Larisa menunduk.
Zayn mengeratkan pelukannya dan mengecup pucuk kepala Larisa sekilas, membuat perasaan Larisa dibuat semakin tak menentu.
"Tentu saja harus." Zayn menjawab dengan mantap.
"Tapi ... kamu sampai menjatuhkan harga dirimu sendiri ...." Larisa membalik badannya dan mendongak ke arah Zayn.
"Harga diri suami ada pada kehormatan istrinya. Apa yang kulakukan tadi sama sekali tidak melukai harga diriku karena aku melakukannya untuk melindungi kehormatanmu. Jika kamu sampai dihina, meskipun oleh keluargaku sendiri, justru hal itulah yang membuat harga diriku jatuh." Zayn bergumam sembari menatap Larisa lekat.
Larisa tak mampu mengatakan apapun lagi. Sungguh, sebelumnya tak berekspektasi terlalu tinggi pada pernikahannya dengan Zayn. Baginya, cukup dengan Zayn menerima kekurangan dirinya dan masa lalu kelamnya. Tak perlu sampai memperlakukannya sebaik ini.
"Sudahlah. Cepat mandi sana." Larisa melepaskan diri dari pelukan Zayn.
Zayn tersenyum. Dia tahu jika saat ini sang istri sedang salah tingkah.
"Baiklah," ujar Zayn kemudian sambil berlalu menuju kamar mandi.
Sepeninggalan Zayn, Larisa kembali duduk di pinggiran tempat tidur dengan dada yang berdebar kencang. Tangannya sampai terukir tanpa sadar memegangi dadanya.
Tak lama kemudian, Zayn keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lebih segar. Lelaki itu tampak mengenakan bathrobe, membiarkan rambutnya yang basah sedikit menyisakan tetesan air.
Larisa menatap ke arah suaminya itu sejenak, lalu membuang muka dengan wajah yang memanas. Dia tak mengerti kenapa sekarang dirinya seperti gadis remaja yang jatuh cinta pada seorang lelaki.
Zayn mengenakan baju ganti yang disiapkan Larisa, lalu mengeringkan rambutnya dengan menggunakan handuk. Diam-diam Larisa mencuri pandang dan memperhatikan apa yang suaminya itu lakukan. Entahlah, tiba-tiba saja perasaan Larisa menjadi penuh dan menghangat. Lelaki ini adalah hadiah terbaik yang Tuhan berikan padanya.
Zayn masih sibuk mengeringkan rambutnya. Sedangkan Larisa perlahan berdiri dan mendekati suaminya itu. Sesaat kemudian, Zayn tertegun saat merasakan ada sepasang tangan yang melingkar di perutnya. Larisa mendekapnya dari belakang sembari menyandarkan kepala di pundaknya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Zayn," bisik Larisa dengan perasaan haru.
Bersambung ....