The Broken Ring

The Broken Ring
Kalandra Ingin Bulan Madu


__ADS_3

Beberapa hari setelah pernikahan Lalita dan Rainer, pagi itu meja makan di rumah keluarga Baskara tampak semarak. Akhir pekan adalah hari di mana semuanya berkumpul karena tak ada yang pergi bekerja. Belakangan Riani melarang keras semua anggota keluarganya untuk bekerja di akhir pekan. Bahkan Arfan yang sejak dulu seorang workaholic pun menurut saja. Jika ada sesuatu yang memang harus dikerjakan, maka Erlan yang akan datang membawakan pekerjaan itu ke rumah.


"Jadi kalian sungguhan tidak berbulan madu?" tanya Larisa pada Lalita dan Rainer sembari mengunyah nasi goreng masakan Riani.


Pasangan pengantin baru itu memang masih tinggal di kediaman keluarga Baskara meski sebenarnya Rainer telah menyiapkan rumah untuk ditinggali setelah menikahi Lalita. Hal itu dikarenakan Kalandra masih menolak untuk diajak pindah. Rainer akhirnya menunda rencananya memboyong Lalita ke rumah baru dan menunggu sampai Kalandra tidak menolak lagi.


"Lita yang tidak mau, Kak. Katanya di rumah pun bisa bulan madu." Rainer kemudian menjawab pertanyaan Larisa.


"Bagaimana mau berbulan madu. Hari ketiga setelah pernikahan saja Rainer sudah harus pergi ke kantor. Bahkan hari ini, kalau tidak karena larangan Mama, dia juga sudah pergi ke kantor," Lalita menimpali karena tidak mau disalahkan.


"Itu karena aku masih di sini, Sayang. Kalau kita sudah berangkat berbulan madu, tidak akan ada yang berani meneleponku dan memintaku untuk datang ke kantor," kilah Rainer.


"Iyakah?" Lalita tak yakin.


"Tentu saja iya."


"Sudahlah, lupakan. Aku tahu kalau kamu sibuk. Lagipula, ada banyak klien yang sudah membuat janji denganku dari jauh-jauh hari. Rata-rata mereka minta dibuatkan pakaian untuk acara penting. Lain kali saja bulan madunya." Lalita memutuskan.


"Tuh, kan. Dia yang tidak mau. Bukan aku," ujar Rainer lagi pada Larisa.


Larisa hanya tersenyum, sedangkan Riani dan Arfan hanya menggeleng-gelengkan kepala mereka saja. Sebenarnya, Rainer dan Lalita lebih sering terlihat seperti anjing dan kucing. Lebih banyak berdebat daripada mesranya. Tapi interaksi tak biasa itu justru membuat mereka saling merasa nyaman satu sama lain.


"Tidak harus sekarang jika memang kalian sama-sama sibuk. Seperti kata Lita, di rumah pun bisa berbulan madu. Yang penting bukan di mana tempatnya, tapi kebersamaannya." Riani akhirnya membuka suara. "Iya, kan, Pa?"


"Iya. Yang paling penting adalah sekarang kalian sudah menjadi suami istri. Urusan bulan madu bisa menyusul," ujar Arfan menimpali.


"Bulan madu itu apa, sih, Ma?" Kalandra yang sejak tadi hanya diam, akhirnya ikut bertanya.


Terang saja Lalita salah tingkah sejenak mendengar pertanyaan dari putranya itu.


"Ehm, bulan madu itu jalan-jalan, Sayang," sahut Lalita kemudian sambil tersenyum ke Kalandra.


"Jalan-jalan? Wah, Kalan ikut, Ma. Kalan ikut!" Kalandra berseru antusias.

__ADS_1


Semua orang yang mendengar itu pun tertawa.


"Kalan tidak boleh ikut lah. Bulan madu itu jalan-jalan khusus buat Mama berdua sama Daddy," sahut Larisa.


"Ish, kok gitu? Kan Kalan juga mau bulan madu. Ya udah deh, nanti Kalan bulan madunya sama Papa saja," ujar Kalandra dengan mode merajuk.


Sekali lagi semuanya terkekeh mendengar ucapan bocah itu.


"Bulan madu itu bukan jalan-jalan yang seperti itu, Sayang." Lalita berusaha meluruskan.


"Memangnya jalan-jalan yang bagaimana, Ma? Ke bulan, ya? Terus sambil minum madu?" Kalan bertanya dengan polosnya.


Meja makan pun kembali menjadi riuh karena tawa semua orang. Kalandra memang selalu bisa membuat suasana rumah keluarga Baskara menjadi hidup dan hangat.


"Bukan, Sayang. Bulan madu itu jalan-jalan khusus untuk pasangan yang baru menikah, seperti Mama Kalan dan Daddy. Nanti kalau Kalan sudah dewasa, Kalan juga akan menikah dan bisa berbulan madu," sahut Larisa setelah tawanya mereda.


"Oh ...." Kalandra ber-oh ria sembari menganggukkan kepalanya seolah paham dengan apa yang dijelaskan. Entah dia memang benar-benar paham atau tidak.


"Kalau begitu, Kalan menikahnya sekarang saja ya, Ma?" Kalandra kembali berucap.


"Cucu Opa sayang, kamu bahkan masih TK. Bagaimana bisa sudah mau menikah?" Kali ini Arfan yang bersuara.


"Memangnya tidak boleh, Opa?" Kalandra kembali bertanya sambil memasang wajah tanpa dosa.


"Orang yang mau menikah itu harus dewasa dulu. Kalan sekarang itu masih kecil," sahut Arfan.


"Yah ... padahal kan Kalan mau cepat-cepat bulan madu," ujar Kalandra mendesah kecewa.


Bahkan ekspresi Kalandra yang seperti itu pun mampu membuat semua orang kembali tertawa.


"Memangnya kalau sudah boleh, Kalan mau menikah dengan siapa?" Berganti Rainer yang bertanya. Tentu saja lelaki itu berniat menggoda sang anak sambung.


"Nggg ... Kalan mau menikah sama Zizi, Hana, Fia, Andin, Mimi ... terus sama siapa lagi, ya?"

__ADS_1


"Semuanya?" Rainer menginterupsi.


"Iya. Kalan mau menikah dengan semuanya. Kan biar bulan madunya ramai. Kan seru!" Kalan menyahut dengan riang dan antusias.


"Astaga ...." Lalita hanya bisa mendesah sembari memijit pelipisnya. Bisa-bisanya sang putra yang masih TK mengatakan akan menikah dengan lima orang gadis sekaligus. Gadis cilik maksudnya. Lalita tahu jika nama-nama yang disebutkan Kalandra tadi adalah teman-temannya di TK.


"Ya ampun, Sayang. Banyak sekali calon istrimu. Nanti kamu pusing sendiri, lho. Punya istri satu saja pusing, apalagi lima," ujar Larisa sembari terkekeh.


"Seru, Bunda. Masa pusing, sih," sahut Kalan.


"Kalau tidak percaya, tanya saja sama Daddy-mu," ujar Larisa lagi sambil tersenyum jahil ke arah Rainer dan Lalita.


"Jadi pengantin pusing, ya, Daddy?" Kalan benar-benar bertanya pada Rainer.


"Iya. Eh, tidak!" Rainer keceplosan.


Sontak Lalita menoleh ke arah suaminya itu sambil agak mendelik.


"Tidak, Sayang. Barusan aku salah jawab," ujar Rainer dengan setengah meringis.


"Sepertinya itu isi hatimu. Masa baru seminggu sudah pusing denganku?"


"Hahaha ... mana mungkin, Sayang. Ingat perjuanganku menjadikanmu istri. Bertahun-tahun lho, Sayang. Masa setelah jadi istri malah pusing. Tidak mungkin lah." Rainer menggeser kursinya merapat pada kursi Lalita, lalu merangkul istrinya itu.


"Kak Risa bikin masalah saja." Rainer menggerutu, tapi dengan senyum tersungging lebar. Tak lupa ia melirik tajam sekilas pada ke arah Larisa.


Larisa terkikik geli. Padahal dia bukan sosok yang jahil, tapi belakangan dia sangat suka membuat Rainer kelimpungan di hadapan Lalita. Sebucin itu Rainer pada sang istri, padahal dia pernah menggerutu kalau Lalita sangat keras kepala sampai membuat kepalanya pusing.


Riani dan Arfan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saja. Sosok Lalita yang sekarang memang berbeda dengan Lalita saat menjadi istri Erick dulu. Dulu Lalita terlalu memuja suaminya, sampai-sampai diperlakukan dingin pun dia tak merasa kalau itu masalah. Sekarang Lalita bersikap dengan sewajarnya saja. Dia menghormati Rainer sebagai mana mestinya dan menunjukkan rasa cintanya dengan cara yang tidak berlebihan. Justru Rainer yang terlihat memuja Lalita berlebihan.


"Jadi Kalan boleh bulan madu, tidak?" Suara pertanyaan Kalandra menginterupsi, membuat semua orang kembali menoleh ke arah bocah itu.


"Ya ampun, masih belum selesai juga rupanya urusan bulan madu ini," gumam Larisa sambil terkekeh.

__ADS_1


Bersambung ....


Santai dulu ya, guys. Capek mewek-mewek mulu. Next part baru kita liat Larisa, terus Erick.


__ADS_2