The Broken Ring

The Broken Ring
Kak Shelin dan Kalandra


__ADS_3

"Mama, Daddy!" Kalandra berlari ke arah Lalita dan Rainer yang sedang duduk santai di ruang keluarga. Bocah itu baru saja kembali setelah jadwal jalan-jalannya bersama Erick.


"Hai, jagoan. Sudah pulang rupanya." Rainer merentangkan kedua tangannya, yang tentu saja langsung disambut dengan pelukan oleh Kalandra.


Lalita tersenyum melihat interaksi keduanya. Setelah menjadi suaminya pun sikap Rainer pada Kalandra tak berubah, malah menjadi semakin lengket pada Kalandra. Jika orang tak tahu, mereka tak akan mengira Rainer hanyalah seorang ayah sambung.


"Kalan hari ini jalan-jalan sama Papa kemana saja?" tanya Lalita.


Kalandra mengurai pelukannya pada Rainer, lalu berbalik ke arah Lalita.


"Kalan tidak jalan-jalan soalnya Papa katanya kepalanya pusing, jadi Kalan main saja di rumah Papa," sahut Kalandra.


"Papa Kalan sakit?" ulang Lalita.


Kalandra mengangguk.


"Kalau sakit, kenapa masih memaksakan diri menjemput Kalan ke sini?" Kali ini Lalita terdengar seperti bergumam pada diri sendiri.


"Papa kan kangen Kalan." Kalandra menjawab seolah sedang mewakili Erick.


"Mama tahu, tapi lain kali Kalan bilang sama Papa Kalan, kalau sakit mestinya pergi ke rumah sakit biar ada yang mengobati," ujar Lalita lagi.


"Di rumah Papa juga ada yang mengobati," sahut Kalandra lagi.


Lalita terdiam sejenak sembari sedikit mengerutkan keningnya, "Papa Kalan memanggil dokter ke rumah?"


Kalandra menggeleng.


"Kak Shelin yang mengobati Papa."


"Hah?" Lalita dan Rainer merespon hampir bersamaan.


"Kak Shelin bikinin Papa bubur, terus suruh Papa minum obat. Habis itu, Papa disuruh bobo' sama Kak Shelin. Terus Kalan mainnya sama Kak Shelin. Kalan diajarin menggambar." Kalan bercerita dengan semangat.


Lalita dan Rainer saling pandang sejenak, sebelum kemudian melihat ke arah Kalandra lagi.


"Kak Shelin itu ... siapa?" tanya Lalita dengan agak tertahan.


"Kak Shelin itu teman Papa, Ma," sahut Kalandra.


"Sayang, sepertinya Erick sudah punya calon mama muda buat Kalan," bisik Rainer di telinga Lalita dengan nada menggoda.


Sontak Lalita melebarkan matanya. Dia jadi teringat pada sosok gadis belia yang dibawa Erick saat datang ke pesta pernikahannya. Apakah gadis itu adalah Shelin yang diceritakan oleh Kalandra? Kalau iya, benar-benar terlihat masih sangat muda. Pantas saja Kalandra memanggilnya dengan sebutan kakak.


"Oh, iya!" Kalandra berseru penuh semangat, seakan baru teringat akan sesuatu. Bocah itu menurunkan tas ransel di punggungnya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Selembar kertas yang telah digambar dan diwarnai.

__ADS_1


"Ini gambar yang tadi Kalan buat sama Kak Shelin," ujar Kalandra sembari menyerahkan kertas bergambar itu pada Lalita.


Lalita menerimanya, lalu melihat gambar yang dibuat Kalandra. Rainer juga ikut melihat.


"Banyak sekali gambar orangnya, Sayang. Ini siapa saja?" tanya Lalita. Di kertas tersebut ada empat pasang orang dewasa dan ada satu anak lelaki yang berada tepat di tengah-tengah. Anak lelaki itu pastilah Kalandra sendiri, lalu delapan orang lainnya siapa saja?


"Ini Kalan. Ini Mama sama Daddy. Ini Oma sama Opa. Ini Bunda sama Ayah." Kalandra menunjuk satu persatu gambar tersebut. Bunda dan ayah yang Kalandra maksud tentu saja Lasisa dan Zayn.


"Terus?" Lalita bertanya karena masih ada satu pasangan yang belum Kalandra sebutkan itu siapa.


"Ini Papa sama Kak Shelin," lanjut Kalandra lagi.


Sekali lagi Lalita dan Rainer saling pandang. Sesaat kemudian, Rainer pun terlihat menahan senyum. Lalita sendiri tertegun sejenak, sebelum akhirnya menipiskan bibirnya juga.


"Kak Shelin baik sama Kalan, ya?" tanya Lalita kemudian.


Kalandra mengangguk cepat.


"Kak Shelin bikinin Kalan nasi goreng pakai sosis, terus suapin Kalan makan. Terus Kak Shelin juga bikinin Kalan kue coklat."


"Jadi hari ini Kak Shelin yang jagain Kalan?" Lalita kembali bertanya.


"Iya. Kak Papa pusing, jadi Kak Shelin suruh Papa bobo' saja. Kak Shelin yang main sama Kalan." Kalan menjawab.


"Iya. Kak Shelin juga mau mandiin Kalan, tapi Kalan tidak mau. Kan Kalan sudah besar."


"Terus yang antar Kalan pulang tadi?"


"Papa. Kan Papa sudah dikasih obat sama Kak Shelin, jadi sekarang Papa sudah sembuh. Bisa antarin Kalan pulang," sahut Kalan.


"Kak Shelin itu ternyata calon mama muda yang baik," bisik Rainer lagi sembari terkekeh.


Lalita hanya bisa memcubit gemas pinggang suaminya itu, hingga Rainer pun terpekik dengan agak tertahan.


"Kalan suka sama Kak Shelin, ya?" Kali ini Rainer yang bertanya pada Kalandra.


"Iya, suka." Kalandra menyahut sambil mengangguk dengan sangat bersemangat. Sepertinya dia memang sangat menyukai sosok yang dipanggilnya kak Shelin itu.


"Apa Kak Shelin cantik?" tanya Rainer lagi.


"Ya iyalah, Daddy. Kak Shelin cantik, kan perempuan," sahut Kalandra lagi.


Terang saja Lalita tertawa mendengar jawaban sang putra. Sedangkan Rainer hanya tersenyum kecut sembari menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba saja menjadi gatal.


"Kak Shelin itu sepertinya sangat baik sama Kalan. Nanti kalau Mama bertemu dengannya, Mama mesti bilang terima kasih," ujar Lalita kemudian sembari membawa Kalandra ke pangkuannya.

__ADS_1


"Berarti nanti kalau Kalan jalan-jalan sama Papa lagi, Kalan boleh dong main lagi sama Kak Shelin?" tanya Kalandra sembari mendongak ke arah Lalita dengan memasang ekspresi penuh harap.


Lalita mengangguk, "kalau Kak Shelinnya tidak merasa keberatan, tentu saja boleh."


"Kak Shelin bilang senang kok main sama Kalan. Katanya Kalan pintar, terus tampan," sahut Kalandra dengan bangga.


Lalita dan Rainer langsung tertawa bersamaan mendengar kata-kata Kalandra.


"Kok Mama sama Daddy tertawa? Benar kan Kalan pintar dan tampan?" Kalandra tampak tak terima ditertawakan. Wajahnya langsung mencebik.


"Iya, Sayang. Tentu saja anak Mama ini pintar dan tampan." Lalita menyahut sembari menahan tawa.


"Siapa dulu Daddy-nya." Rainer menimpali.


Senyum Kalandra kembali mengembang mendengar itu.


"Ya ampun, biasanya anak Mama ini tidak peduli mau dibilang tampan dan pintar atau tidak. Kenapa sekarang malah marah hanya karena Mama dan Daddy tertawa?" tanya Lalita sembari mengacak-acak rambut Kalandra.


"Jangan bikin rambut Kalan berantakan, Ma. Tadi Kak Shelin sudah merapikannya." Kalandra protes sembari menutupi kepalanya dengan kedua telapak tangan.


"Eh?" Lalita menghentikan apa yang dia lakukan, lalu menoleh ke arah Rainer. Rainer hanya menanggapi sembari mengangkat bahu.


"Kak Shelin juga merapikan rambut Kalan?" tanya Lalita.


"Iya, makanya jangan diacak-acak. Nanti Kalan jadi tidak tampan lagi." Kalandra menyahut.


Kali ini Rainer tak bisa menahan tawanya. Lelaki itu terbahak-bahak mendengar kata-kata Kalandra.


"Ya sudah, kalau Kalan memang sudah sangat suka dengan Kak Shelin, Kalan bilang sama Papa Kalan untuk menikah saja dengan Kak Shelin secepatnya, supaya Kak Shelin sungguhan jadi mama muda Kalan," ujar Rainer kemudian setelah meredakan tawanya.


Sontak Kalandra menoleh ke arah Rainer sembari memperlihatkan raut wajah yang tak pernah dia tunjukkan sebelumnya.


"Kak Shelin jadi pengantin sama Papa? Seperti Mama sama Daddy?" tanya Kalandra.


"Iya." Rainer mengangguk.


Raut wajah Kalandra berubah muram.


"Tidak mau!" seru bocah itu lantang, membuat Lalita dan Rainer terkejut.


"Kak Shelin jadi pengantinnya nanti sama Kalan saja, tidak boleh sama Papa!"


"Eh?" Untuk ke sekian kalinya Lalita dan Rainer saling pandang. Kali ini dengan ekspresi kaget.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2