The Broken Ring

The Broken Ring
Tekad Baru


__ADS_3

Selama perjalanan menuju tanah air, Erick merenungkan semuanya. Mulai dari perasaannya selama ini terhadap Larisa, arti kehadiran lalita dalam hidupnya, hingga bagaimana nantinya jika dirinya tak bisa memenuhi tanggung jawab sebagai seorang ayah terhadap calon anak yang kini ada dalam kandungan sang mantan istri. Satu yang Erick sadari, selama ini dirinya telah melakukan hal yang keji dan tak berperasaan terhadap Lalita tanpa memandang sikap Lalita yang begitu sempurna selama menjadi istrinya.


Dua tahun Erick menjalani kehidupan rumah tangga bersama Lalita, dua tahun juga dirinya mengabaikan perempuan itu dengan hanya memikirkan Larisa saja. Dia terus berusaha menumbuhkan kembali rasa terhadap Larisa yang memudar hanya karena tak ingin mengakui jika hatinya telah tergerak pada ketulusan Lalita. Kini yang tersisa hanyalah penyesalan. Jika saja sebelumnya dia tak terlalu menuruti ego dan memandang Lalita dengan cara yang adil, pasti semuanya tak akan berakhir seperti ini. Ah, sudahlah. Tak ada gunanya terus meratapi diri. Yang terlanjur hancur tak akan pernah kembali seperti semula hanya karena dirinya menyesal. Jika memang ingin memperbaiki semua yang telah terlanjur hancur, dia mesti berjuang.


Ya, tepat saat pesawatnya mendarat, Erick akhirnya membulatkan tekad jika dirinya akan memulai perjuangan itu dari sekarang. Tak peduli seberapa besar kebencian Lalita terhadap dirinya saat ini, dia akan mulai berusaha meluluhkan hati mantan istrinya itu kembali. Erick bertekad untuk membuat keluarganya kembali utuh. Demi buah hatinya yang akan segera lahir, demi penebusan dosanya terhadap perempuan yang selama ini begitu tulus padanya, dia tak masalah jika nantinya dirinya yang akan mengemis cinta pada Lalita.


“Pak, saatnya kita turun.” Suara Gama membuyarkan isi kepala Erick, membuat lelaki itu sadar jika sudah saatnya mereka turun dari pesawat.


Erick pun bangkit dengan perasaan yang jauh lebih baik. Setelah mengetahui apa yang mesti dia lakukan, kini hatinya tak segamang sebelumnya. Lelaki itu melangkahkan kakinya menuruni tangga pesawat dengan sebuah pengharapan baru yang setidaknya membuat dirinya punya alasan untuk tetap melanjutkan hidup sebagai manusia beradab.


“Malam nanti ada undangan pesta dari rekan bisnis kita dari Bali, Pak. Masih ada waktu beberapa jam untuk Bapak beristirahat,” ujar Gama lagi saat mereka telah berada di dalam taksi.


Erick mengiyakan sembari melihat ke arah arlojinya sejenak. Bukan hanya bisa beristirahat, tapi sepertinya dia juga bisa mengerjakan beberapa pekerjaan yang sebelumnya dia tinggalkan karena harus pergi ke Singapura.


“Saya akan kembali ke hotel. Ada yang mesti saya kerjakan,” ujar Erick kemudian pada Gama.


“Ke hotel?” ulang Gama meyakinkan. Sudah seminggu ini Erick tak beristirahat dengan benar. Tak jarang, dia menginap di hotel Arfan. Bukan di kamar hotel, melainkan di ruang kerjanya. Lelaki itu sekarang menjelma menjadi sosok yang begitu gila kerja semenjak kembali bergabung.


“Tapi, Pak ….”

__ADS_1


“Saya akan langsung beristirahat di rumah setelahnya. Paling juga Cuma menghabisan waktu tiga puluh menit,” ujar Erick sebelum Gama menyelesaikan kata-katanya.


Sejak berpisah dengan Lalita, Erick tinggal di sebuah rumah sederhana yang dibelinya dulu sebelum dia menikah. Di sanalah dia menjalani hari-harinya seorang diri saat ini. Tempat yang dulu hendak dia tinggali bersama Larisa, tapi sekarang justru tak ada sedikitpun bayangan Larisa di sana.


“Baiklah. Maaf kalau saya terkesan lancang, tapi saya lihat Bapak bekerja terlalu keras akhir-akhir ini. Jangan sampai kondisi kesehatan Bapak menjadi drop karena tidak beristirahat dengan benar,” sahut Gama sebelum kemudian meminta sopir taksi untuk membawa mereka menuju ke hotel Arfan.


Erick menoleh ke arah Gama sejenak, lalu tertegun selama beberapa saat. Kalimat yang diucapkan Gama barusan mengingatkannya pada sosok Lalita. Dulu, mantan istrinya itu begitu cerewet setiap kali dirinya lembur. Bahkan, tak jarang Lalita akan datang menyusul ke hotel hanya untuk mengantarkan cemilan malam dan vitamin untuknya. Tapi tentu saja saat itu Erick selalu menganggap apa yang dilakukan oleh Lalita adalah hal yang berlebihan. Dia tak menyukainya sama sekali dan tak jarang dirinya tak menyentuh sedikitpun pemberian mantan istrinya itu.


Tanpa sadar, Erick tersenyum miris. Dia baru menyadari sesuatu yang berharga justru saat sudah tak memilikinya lagi. Andai waktu bisa diulang … Ah, tak akan ada habisnya jika dirinya terus berandai-andai. Nasi sudah menjadi bubur. Hubungannya dengan Lalita sudah terlanjur hancur, itupun karena kebodohannya sendiri. Satu-satunya yang mesti dia lakukan sekarang adalah mengumpulkan pecahan hati Lalita yang berserak dan menyusunnya kembali sampai menjadi utuh. Hampir mustahil rasanya untuk dilakukan, tapi bukan tidak mungkin. Yang jelas, ke depannya Erick mesti berusaha dengan amat sangat keras.


Dengan tekad barunya itu, Erick tiba di hotel tempatnya bekerja dengan suasana hati yang jauh lebih baik. Lelaki itu seperti baru saja mengisi energinya hingga mendapatkan semangat yang baru. Senyuman tipis tanpa sadar tersungging di bibirnya, meski sesaat kemudian senyum tersebut langsung hilang tatkala dirinya berpapasan dengan Larisa.


Memilih untuk tak mengiraukan Larisa yang masih mematung sembari menatap ke arahnya, Erick yang telah sampai ke ruang kerjanya tampak langsung menyalakan laptop dan segera mengerjakan apa yang hendak dia kerjakan. Tak terasa hampir satu jam lamanya dia berkutat di depan layar laptop, padahal sebelumnya dia mengatakan pada Gama jika dirinya paling hanya memerlukan waktu tiga puluh menit saja. Sampai kemudian, dering ponsel membuat pekerjaannya terhenti sejenak. Saat diperiksa, ternyata Erlan yang menghubungi.


“Tuan Erick, apa Tuan sudah kembali?” tanya Erlan sesaat setelah Erick menerima panggilan.


“Iya. Saya sudah tiba di hotel sejak satu jam yang lalu,” sahut Erick.


“Ah, syukurlah ….” Erlan terdengar lega.

__ADS_1


“Ada apa?” tanya Erick sembari sedikit menautkan kedua alisnya.


“Nona Risa pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Sepertinya, kondisinya cukup serius karena dokter ingin bicara dengan wali Nona Risa. Tuan dan Nyonya sedang tidak ada. Nona Lita juga. Mungkin Tuan Erick bisa datang sebentar untuk bicara pada dokter.” Erlan menjelaskan.


Erick tertegun sejenak. Bukannya tadi dia dan Larisa masih berpapasan? Lalu kenapa sekarang perempuan itu dilarikan ke rumah sakit?


Tak mau bertanya-tanya, Erick pun meminta alamat rumah sakit tempat Lalita dirawat. Lelaki itu lalu bergegas menuju ke sana.


“Anda wali Nona Larisa?” tanya dokter yang menangani Larisa setibanya Erick di sana.


Erick terdiam sejenak.


“Saya adik iparnya,” jawab lelaki itu kemudian. Selama menjadi suami Lalita, tak pernah satu kali pun Erick mengakui Larisa sebagai kakak iparnya. Tak disangka, saat dirinya dan Lalita telah bercerai, dia justru baru menganggap Larisa sebagai ipar.


Erlan menjelaskan pada dokter jika saat ini kedua orang tua Larisa sedang tidak ada di tempat, makanya Erick yang datang. Setelah itu, Erlan pamit undur diri, memberikan ruang bagi Erick dan dokter yang menangani Larisa untuk berbicara.


“Jadi begini, kondisi Nona Larisa saat ini sudah sangat serius. Harus segera dilakukan tindakan pengangkatan rahim untuk menyelamatkan nyawanya.” Dokter itu mengucapkan kalimat pembuka yang mampu membuat mata Erick membeliak seketika.


“Pengangkatan rahim?” ulang Erick, tak yakin dengan pendengarannya sendiri.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2