The Broken Ring

The Broken Ring
Bukan Keluarga Palsu


__ADS_3

Larisa memejamkan mata dan mulai menekan pisau yang menempel di pergelangan tangannya. Dia tahu apa yang dilakukannya itu salah, tapi dirinya sudah tak lagi punya keberanian untuk menatap hari esok. Jadi inilah jalan yang dia pilih. Dia yakin semua orang akan baik-baik saja meski awalnya pasti akan merasa sedih.


"Kak Risa!"


Sebuah pekikan membuat mata Larisa kembali terbuka. Secara otomatis dia menghentikan aksinya sejenak, lalu menoleh ke arah sumber suara. Tampak Lalita berdiri di ambang pintu ruangan tersebut dengan mata membeliak tajam.


"Apa yang Kakak lakukan?" tanya Lalita syok. Dia baru saja tiba dari Singapura dan bergegas menuju rumah sakit tempat Larisa dirawat setelah mengantar Arfan pulang. Tapi sungguh tak disangka, pemandangan ini yang dia lihat.


"Li ... ta ...?" Larisa bergumam dengan agak terbata. Raut wajahnya terlihat kosong dan seperti orang linglung. Dia masih memegang pisau yang barusan hendak dia pakai untuk mengakhiri hidupnya sendiri.


Lalita bergegas mendekati Larisa masih dengan ekspresi panik. Direbutnya pisau dari tangan Larisa dan dilemparkannya ke sembarang arah. Kemudian dengan perutnya yang sudah semakin membesar, ia duduk bersimpuh di hadapan kursi roda Larisa sembari mendongak dan menatap Larisa dengan tatapan sedih tak terkira.


"Apa yang Kakak lakukan?" tanya Lalita lagi sembari memegangi kedua tangan Larisa. Tangis perempuan muda itu pecah seketika membayangkan hal mengerikan yang nyaris saja terjadi jika dirinya terlambat sedikit saja.


"Apa yang ada di pikiran Kakak? Kenapa Kakak berpikiran pendek seperti ini? Kenapa, Kak?" cerca Lalita di sela tangisannya.


Larisa tak menjawab. Dia diam seribu bahasa dengan kesedihan yang tak mampu disembunyikan.


"Jawab aku, kenapa Kakak melakukan ini? Apa Kakak tidak memikirkan Mama?" Lalita kembali bertanya dengan emosional.


"Ada apa ini? Lho, Lita. Kamu di sini?" Riani yang baru keluar dari toilet tampak sedikit bingung. Sebelumnya dia mendengar suara pekikan seseorang. Buru-buru dia menyelesaikan urusannya di toilet untuk memeriksa apa yang terjadi.


Baik Lalita dan Larisa, keduanya tak ada yang menjawab pertanyaan Riani. Lalita masih menangis di hadapan Larisa, sedangkan Larisa sendiri menunduk sambil berusaha menahan isakannya.


"Apa yang terjadi?" Sekali lagi Riani bertanya sembari mendekati kedua putrinya. Matanya seketika melebar tatkala melihat pergelangan tangan Larisa yang tergores dan berdarah. Bersamaan dengan itu, dia juga melihat pisau yang sebelumnya dilempar oleh Lalita. Pisau yang tampak sedikit terkena noda darah.


"Risa!" Seketika Riani juga terpekik saat dirinya menyadari sesuatu. Perempuan paruh baya itu juga langsung berhambur ke arah Larisa dan memeluk putrinya itu erat.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan, Risa? Kamu mau mengakhiri hidupmu sendiri, hah?" tanya Riani dengan air mata yang jatuh tak tertahankan.


Sekali lagi, hanya isakan yang Larisa berikan sebagai jawaban.


"Kamu mau meninggalkan Mama, Risa? Katakan! Kamu berpikir buat meninggalkan Mama?"


"Maaf ...." Hanya ucapan itu yang kemudian keluar dari bibir Larisa. Tangisnya semakin menjadi. Semua emosi dan rasa sakit yang selama ini berusaha dia pendam, kini menyeruak ke permukaan hingga membuat dadanya terasa sesak.


"Maafkan Mama, Nak. Mama telah menuntut banyak hal padamu, sampai-sampai tidak memahami isi hatimu. Mama hanya ingin kamu hidup tanpa kekurangan apapun, tapi justru Mama malah membuatku jadi seperti ini. Maafkan Mama, Risa .... " Riani tersedu sembari mengusap kepala Larisa.


Larisa menggeleng. "Mama tidak salah, aku yang salah ...."


"Jangan lakukan ini lagi. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan Mama lagi, Risa. Bagaimana Mama bisa hidup kalau kamu meninggalkan Mama?" Riani mengurai pelukannya dan merangkum wajah Larisa dengan kedua tangannya. Hatinya kembali terasa nyeri mendapati betapa redupnya sorot mata Larisa saat ini. Sorot mata yang menyiratkan jika pemiliknya sudah merasa teramat sangat lelah.


"Ma." Lalita menyentuh pundak Riani, hingga perempuan paruh baya itu pun menoleh.


"Aku akan panggil dokter. Luka di pergelangan tangan Kak Risa harus segera diobati," ujarnya.


Riani mengangguk. Dia pun ikut bangkit dan menghapus air matanya, lalu membimbing Larisa untuk berbaring di atas tempat tidur. Tak ada perlawanan dari Larisa. Dia seakan terlihat pasrah setelah aksi hendak mengakhiri hidupnya sendiri tadi gagal.


Tak lama kemudian, seorang dokter bersama seorang perawat datang memeriksa keadaan Larisa. Luka goresan di pergelangan tangan Larisa pun diobati. Melihat kondisi mental Larisa yang tak stabil, dokter tersebut juga merujuk Larisa untuk melakukan konseling. Hari itu juga, seorang psikolog didatangkan mengingat kondisi tubuh Larisa yang tidak memungkinkan dia keluar dari ruang perawatannya.


"Kondisi mental Nona Larisa sedang sangat tidak stabil, Nyonya. Sepertinya selama ini dia terbiasa memendam semua beban dalam hidupnya seorang diri dan tidak terbiasa membaginya dengan orang lain, meski pada orang terdekatnya sekalipun. Saat ini, Nona Larisa sudah sampai pada batas kemampuannya menahan semua itu. Mentalnya kelelahan. Dan melihat dari riwayat medisnya, sebelumnya juga Nona Larisa pernah dalam perawatan psikiater karena gangguan panik. Yang bisa kita lakukan untuk membuatnya pulih adalah dengan tidak membuat Nona Larisa semakin tertekan. Pikirannya harus diistirahatkan dari hal yang berat dan butuh suasana yang rileks." Psikolog tersebut memaparkan kondisi Larisa setelah sesi konseling.


Riani hanya bisa menghela napas tanpa mampu mengatakan apapun. Semakin dalam saja penyesalan dan rasa bersalahnya pada putrinya itu. Lalita yang ikut mendengarkan apa yang diucapkan oleh psikolog tersebut juga tak kalah merasa sedih. Sungguh sangat disesalkan semuanya jadi seperti ini. Andai saja dulu dia lebih peka pada kakaknya itu. Andai Larisa lebih terbuka dan menceritakan hubungannya dengan Erick, Lalita pasti tidak akan pernah tampil sebagai penghalang bagi keduanya meski harus sedikit berkorban perasaan. Andai ....


Ah, tak ada gunanya berandai-andai. Semuanya sudah terlanjur terjadi. Mungkin keadaannya memang sudah teramat sangat berantakan, tapi masih belum begitu terlambat untuk memperbaiki semuanya.

__ADS_1


"Nona Larisa sedang sangat terpuruk dan sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekatnya. Saya harap, keluarganya bisa menjadi tempat yang nyaman baginya untuk membagi beban yang selama ini dia pendam seorang diri," terang psikolog itu lagi sebelum kemudian pamit undur diri.


"Keluarga?" Riani bergumam lirih dengan raut wajah sendu. Sungguh, dia baru menyadari jika keluarga palsu yang dirinya bangun bersama Arfan ternyata menjadi sebuah racun mematikan bagi anak-anak mereka. Hal itu semakin menambah daftar penyesalannya yang sudah begitu panjang.


Lalita sendiri beranjak lebih dulu dan menemui Larisa yang kini sedang beristirahat di dalam ruangannya. Tak peduli seperti apa hubungan yang dimiliki mama dan papanya serta perjanjian apa yang telah mereka buat, baginya keluarga yang dimilikinya bukanlah keluarga palsu. Mama yang penuh kasih sayang dan kakak yang selalu ada untuknya serta selalu mendengarkan celotehan tak penting dari mulutnya, bagaimana bisa dia menganggap semua itu palsu. Meski tak ada ikatan darah, tapi mereka telah melalui banyak hal bersama. Begitu banyak kenangan indah yang tersimpan di memori Lalita bersama mama dan kakaknya itu. Tentu saja mereka adalah keluarganya.


Dengan langkah pelan, Lalita pun mendekati Larisa yang tampak termangu, entah sedang memikirkan apa. Dia lalu duduk di pinggiran brankar, persis menghadap ke arah Larisa.


"Kak ...." Lalita menyentuh punggung tangan Larisa.


Larisa menoleh, lalu tersenyum samar. Senyum yang menyiratkan betapa besarnya usaha gadis itu untuk terlihat baik-baik saja


Lalita menggenggam tangan Larisa dengan kedua tangannya. Kini dia tidak akan menghindar lagi dari sang kakak. Apapun yang terjadi antara dirinya, Larisa dan Erick, tak akan mengubah kenyataan jika ia dan Larisa bersaudara. Tak akan ia lupakan bagaimana tangan Larisa selama ini selalu membelainya setiap kali ia menangis ataupun merajuk karena hal sepele.


"Jangan sedih, Kak. Kakak tidak sendirian. Ada aku di sini ...," ujar Lalita sembari berusaha untuk tersenyum juga.


"Selama ini Kakak selalu ada di sampingku setiap kali aku merasa sedih. Kakak selalu menghiburku dan membuat aku melupakan kesedihanku. Sekarang biarkan aku juga melakukan itu untuk Kakak."


Air mata Larisa jatuh tak tertahankan. Dipeluknya Lalita erat, yang dibalas dengan sama eratnya oleh Lalita.


"Maafkan aku, Lita. Aku bukan kakak yang baik ...." Larisa tersedu di pelukan Lalita. "Aku sering merasa iri padamu. Bahkan terkadang aku tidak benar-benar menganggapmu sebagai adik. Aku begitu picik sehingga masih suka berpikir yang tidak baik tentangmu. Mungkin karena itu, sekarang aku dihukum ...."


"Tidak, Kak. Saudara memang seperti itu. Kadang tertawa bersama, kadang saling berselisih. Kadang juga saling berkelahi dan saling tidak menyukai. Tapi bagaimanapun, saudara tetaplah saudara. Jika bukan karena ikatan darah, itu karena ikatan kasih sayang. Meski benci, tapi saudara tetap menyayangi saudaranya yang lain." Lalita menyahut.


Tentu saja ucapan Lalita membuat Larisa semakin terisak dan semakin erat memeluk adiknya itu.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2