The Broken Ring

The Broken Ring
Impian dan Pengharapan


__ADS_3

"Beri aku waktu, Zayn." Itulah yang Larisa katakan setelah Zayn meminta untuk mempertimbangkan dirinya.


Bukan masalah masa lalu Zayn yang mesti Larisa pertimbangkan karena dirinya juga punya masa lalu yang tak kalah kelam, melainkan adanya anak yang tentu akan Zayn bawa dalam kehidupan mereka jika kelak mereka menikah. Mestinya Larisa merasa senang karena dengan adanya anak itu, Zayn tak akan menuntut keturunan lagi darinya. Namun, semua tak sesederhana itu. Larisa justru meragukan dirinya sendiri. Mampukah dia menerima anaknya Zayn dengan sepenuh hati? Dan juga, mampukah dia menjadi ibu yang baik bagi anak itu?


Atas dasar itu semua, Larisa mesti berpikir dan tak boleh memutuskan dengan gegabah. Itulah kenapa dia tak langsung menjawab 'iya' pada Zayn.


Jika sebelumnya Larisa yang dibuat resah oleh Zayn, kini keadaannya berbalik. Zayn yang dibuat serba salah karena Larisa tak juga menghubungi sejak pengakuannya malam itu. Tentu saja Zayn menjadi risau. Untuk pertama kalinya dia kagum dan jatuh cinta pada seorang wanita, bahkan perasaan itu tak goyah meski mengetahui kekurangan wanita tersebut. Sebagai lelaki dewasa, dia tentu bisa melihat jika sebelumnya Larisa juga memiliki ketertarikan pada dirinya. Namun, setelah mengetahui prihal anaknya yang ia titipkan di panti asuhan, tak menutup kemungkinan Larisa memilih untuk mundur.


Tentu Zayn tak bisa memaksa jika Larisa memilih mundur. Dia juga tak bisa menekan dengan menggunakan kekurangan yang dimiliki Larisa. Terlalu pecundang, meski pada awalnya dia juga telah bersikap layaknya pecundang dengan berniat menutupi fakta tentang anaknya.


Zayn galau, tapi tak bisa melakukan apapun selain menunggu. Larisa sudah mengatakan akan segera menghubunginya setelah berpikir dengan benar, jadi dia berusaha untuk bersabar meski dengan hati yang risau.


"Risa?" Zayn bergumam tak percaya saat suatu sore mendapati Larisa sedang duduk di lobi kantor firma hukum tempatnya bekerja. Gadis itu tampak sedang menunggu seseorang.


Larisa menoleh ke arah Zayn, lalu bangkit sembari melempar senyuman tipis.


"Mau bertemu dengan Pak Hendro?" tanya Zayn.


Larisa menggeleng, "tidak, aku sedang menunggumu," jawabnya.


Zayn tertegun sejenak. Namun, sesaat kemudian tanpa sadar senyumnya juga mengembang.


"Apa jam kerjamu sudah selesai?" tanya Larisa.


"Aku memang sudah mau pulang," sahut Zayn.


"Baguslah. Aku ingin kamu membawaku ke suatu tempat," ujar Larisa lagi.


"Kemana?" Zayn bertanya.


Larisa tak menjawab. Dia hanya kembali tersenyum tipis, membuat ekspresinya terlihat sedikit misterius di mata Zayn.


"Ayo, ke mobilmu. Tadi aku kemari naik taksi, tidak bawa mobil," ajak Larisa sembari melangkah lebih dulu.


Mau tak mau Zayn pun mengikuti gadis itu dari belakang, meski di hatinya masih diliputi dengan berbagai macam pertanyaan.


"Kita mau kemana?" tanya Zayn kemudian saat mereka telah berada di dalam mobil.

__ADS_1


Larisa tak langsung menjawab. Dia tampak menghela napas sejenak, lalu menoleh ke arah Zayn.


"Aku sudah memikirkan selama beberapa hari ini, Zayn. Jujur saja, hatiku lebih mengarah agar aku menerimamu. Tapi sebelum itu ... bawa aku ke panti asuhan tempat anakmu berada. Aku ingin bertemu dengannya," ujar Larisa kemudian.


Kali ini Zayn yang terdiam. Dia menatap Larisa dengan sorot mata yang tak bisa ditebak.


"Panti asuhannya berada di pinggiran kota. Ini sudah sore. Kalau kita ke sana, mungkin kita akan kemalaman saat kembali." Zayn akhirnya menjawab.


"Tidak apa-apa. Aku sudah mengabari Mamaku kalau nanti kemungkinan akan pulang telat," sahut Larisa.


Zayn masih menatap Larisa lekat, sebelum akhirnya dia menganggukkan kepalanya.


"Baiklah," gumam Lelaki itu sembari menyalakan mesin mobilnya. Tak menunggu lama, mereka pun melaju meninggalkan pelataran kantor firma hukum tempat Zayn bekerja.


Di perjalanan, Larisa meminta Zayn berhenti saat melihat sebuah minimarket. Gadis itu turun dari mobil dan masuk ke dalam minimarket tersebut. Tak lama, dia kembali dengan membawa beberapa kantong besar berisi permen, coklat, susu, roti dan beberapa jenis makanan ringan lainnya.


Zayn tak mengatakan apapun. Lelaki itu hanya tersenyum tipis melihat Larisa. Dia tak menyangka Larisa bahkan terpikirkan membawa oleh-oleh untuk anak-anak panti yang lain.


Setelah meletakkan barang belanjaan Larisa ke dalam bagasi, perjalanan pun dilanjutkan. Butuh waktu sekitar hampir satu jam bagi keduanya untuk tiba di panti asuhan tempat Zayn menitipkan anaknya.


Di sana semua anak-anak rupanya sudah mengenal Zayn dengan baik. Mereka menyambut kedatangan Zayn dengan sangat gembira, terlebih saat Larisa membagikan oleh-oleh untuk mereka.


Tak lama kemudian, salah seorang pengurus panti datang dengan membawa seorang bayi laki-laki.


Larisa langsung mendongak dan menatap ke arah bayi itu. Dalam hati dia bertanya-tanya, inikah anak Zayn? Dia sebelumnya memang tidak pernah bertanya berapa umur anak itu. Tak disangka ternyata masih bayi.


"Maaf kalau menunggu lama, Pak Zayn. Tadi Zidan sedang dimandikan," ujar pengurus panti itu sembari menyerahkan bayi lelaki itu ke dalam gendongan Zayn.


Jadi namanya Zidan?


Larisa masih tertegun dengan mata yang terus mengarah pada Zidan.


"Saya tinggal dulu, ya, Pak, Bu. Permisi." Pengurus panti itu pamit undur diri.


Zayn dan Larisa mengucapkan terima kasih hampir bersamaan. Setelah pengurus panti itu pergi, suasana pun menjadi hening selama beberapa saat. Hanya terdengar celotehan Zidan di pangkuan Zayn.


"Namanya Zidan?" tanya Larisa membuka suara.

__ADS_1


Zayn mengangguk.


"Berapa umurnya?" tanya Larisa lagi.


"Delapan bulan," sahut Zayn singkat.


Larisa terdiam sejenak. Dipandangnya sekali lagi Zidan dengan lekat. Bayi itu terlihat sehat dan menggemaskan. Tubuhnya padat berisi dan kulitnya putih bersih. Tampaknya dia terurus dengan sangat baik di sini.


"Zayn, boleh ... aku menggendongnya?" tanya Larisa kemudian dengan agak tertahan.


Zayn mengangkat wajahnya.


"Kamu ingin menggendongnya?" ulang Zayn meyakinkan.


Larisa mengangguk. Kedua tangannya terulur, mengisyaratkan jika dia siap menggendong.


Zayn pun bangkit, lalu menyerahkan Zidan pada Larisa. Rupanya bayi itu tak menolak. Dia menatap ke arah Larisa sebelum akhirnya tertawa dan kembali berceloteh.


Larisa tertegun sejenak dengan perasaan yang sulit dia jabarkan. Entah kenapa, hatinya terasa menghangat. Ada semacam keharuan yang tiba-tiba menyeruak dari dasar sanubarinya. Perasaan yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.


"Zayn," panggil Larisa kemudian dengan suara yang terdengar agak bergetar.


"Ya?"


"Kalau kita menikah, dia akan menjadi anakku juga, kan?" tanya Larisa. Pertanyaan yang tak semestinya dia lontarkan karena jawabannya sudah sangat jelas.


"Iya, tentu saja." Zayn mengangguk.


"Apa dia akan memanggilku bunda?" tanya Larisa lagi.


Zayn kembali mengangguk, "jika kamu mengajarinya memanggil bunda, maka dia akan memanggilmu bunda."


Larisa menelan ludahnya. Tiba-tiba saja matanya terasa memanas. Entah kenapa, dia jadi sangat ingin menangis.


"Lalu jika aku merawatnya dan menyayanginya seperti anak kandungku sendiri, apa nanti dia juga akan menyayangiku dan menganggapku seperti ibu kandungnya sendiri pula?" Kali ini air mata Larisa benar-benar jatuh. Keinginannya untuk menjadi seorang ibu yang dulu dikuburnya dalam-dalam, kini bangkit kembali dan menjadi begitu tak tertahankan.


"Tentu saja," jawab Zayn dengan mata yang juga terlihat memerah. Larisa, perempuan itu tidak hanya telah menawan hatinya, tapi juga telah membuatnya tenggelam dalam sebuah impian dan pengharapan, yaitu berkenan untuk menjadi ibu dari anaknya yang malang.

__ADS_1


Bersambung ....


Pas nulis Zayn sama Zidan kyk merasa dejavu. Lah iya, mereka kan anak kembar Aline sama Ervan. Ya udahlah, udah kepalangan🤣


__ADS_2